PERGIMULU.COM

Mau Pergi Liburan Kemana? Cari info di pergimulu.com saja!

Pelabuhan Ketapang Banyuwangi

Blog

Lokasi Pelabuhan Ketapang

Pelabuhan Ketapang terletak di Desa Ketapang, Kecamatan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Pelabuhan ini merupakan salah satu pelabuhan yang penting di Banyuwangi, karena menjadi tempat penyeberangan kapal ferry menuju Pelabuhan Gilimanuk di Pulau Bali.

Berbagai bentuk fasilitas dan infrastruktur yang terdapat di Pelabuhan Ketapang menjadi sorotan seiring dengan pesatnya laju industri pariwisata di Kabupaten Banyuwangi. Pelabuhan Ketapang juga terkenal karena menjadi tempat penyeberangan yang menghubungkan Pulau Jawa dengan Pulau Bali, yang merupakan destinasi pariwisata populer bagi wisatawan dari seluruh dunia.

Dengan demikian, Pelabuhan Ketapang memiliki peran yang sangat signifikan dalam mendukung perkembangan industri pariwisata di Banyuwangi. Selain itu, pelabuhan ini juga menjadi salah satu ikon pariwisata yang terkenal di daerah tersebut.

Sejarah dan Nama Ketapang

Nama Ketapang sendiri sudah sejak lama akrab di telinga wisatawan, selain karena keberadaan Pelabuhan juga karena Ketapang menjadi nama beberapa tempat di Indonesia. Entah bagaimana sejarah dan etimologi kata dari penggunaan nama Ketapang, namun yang pasti, setiap kali mendengar kata Ketapang, bayangan yang muncul pada pikiran seseorang selalu tertuju pada pariwisata.

Pertama adalah nama sebuah Pelabuhan di Lampung. Bagi mereka yang pernah berwisata ke Pulau Pahawang, tentu tahu letak dari Pelabuhan Ketapang Lampung. Karena pelabuhan inilah yang dipakai sebagai tempat penyeberangan dari Lampung menuju ke Pulau Pahawang. Meski merupakan dermaga kecil, Pelabuhan Ketapang Lampung ini cukup terkenal seiring dengan banyaknya artikel dan review tentang keindahan Pulau Pahawang di berbagai media massa dan media online.

Kedua adalah nama sebuah Kabupaten di Kalimantan Barat yang juga kota terbesar di provinsi tersebut selain Pontianak. Kabupaten Ketapang, Kalbar, selain dikenal dengan hasil tambangnya berupa intan, emas, timah hitam, aluminium (bauksit), biji besi dan nikel yang digali di kecamatan Kendawangan. Kota ini juga merupakan salah satu daerah yang menjadi tujuan para wisatawan karena memiliki sejumlah objek wisata yang menarik, seperti Pulau Cempedak, Pulau Sempadi, Pulau Sawi, Pantai Tanjung Belandang dan lainnya. Kabupaten ini juga dilengkapi dengan sejumlah instruktur yang representatif dalam mendukung industri pariwisata, seperti Bandar Udara Rahadi Oesman, Pelabuhan Ketapang, Hotel Aston, Borneo City Mall dan berbagai fasilitas serta infrastruktur lainnya.

Ketapang juga menjadi nama dari sebuah gili atau pulau kecil yang berada di antara Pulau Jawa dan Madura serta menjadi bagian dari wilayah administratif Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Gili Ketapang memiliki pantai berpasir putih dengan air laut yang jernih berwarna kebiru-biruan. Selain menyuguhkan pemandangan pantai menawan, area perairan ini juga memiliki taman bawah laut yang menarik untuk dijadikan objek snorkeling.

Tempat berikutnya yang menggunakan nama Ketapang adalah sebuah pantai yang masih natural di Nusa Tenggara Barat. Letak Pantai Ketapang yang juga disebut Pantai Tanjung Menangis ini berada di Kecamatan Pringgabaya, Lombok. Pantainya yang memiliki pasir berwarna hitam berpagar pohon-pohon kelapa dengan latar belakang Perbukitan Rinjani menyuguhkan suasana romantis, sehingga banyak dikunjungi wisatawan meski belum dikelola secara profesional.

Pelabuhan Ketapang sebagai Pintu Gerbang ke Bali

Di antara kelima tempat yang menggunakan nama Ketapang tersebut, Pelabuhan Ketapang bisa dibilang yang paling sering dijadikan konsumsi media. Hal ini dikarenakan fungsi dari pelabuhan ini yang menghubungkan Pulau Jawa dengan Bali sangat signifikan, sementara Bali merupakan destinasi tujuan para wisatawan dari seluruh penjuru dunia.

BACA JUGA :  10 Gambar Bukit Watu Meja Purwokerto, Harga Tiket Masuk, Sejarah Asal Usul, Lokasi Alamat, Jam Buka Tutup + Rute Jalan Menuju Wisata

Pelabuhan Ketapang memiliki peranan yang sangat penting dalam mendukung industri pariwisata di Banyuwangi. Dengan adanya pelabuhan ini, banyak penduduk Bali serta wisatawan tertarik untuk mencicipi objek wisata yang ada di Banyuwangi. Selain itu, Pelabuhan Ketapang juga menjadi salah satu pintu gerbang yang menghubungkan Pulau Jawa dengan Pulau Bali, sehingga memudahkan para wisatawan untuk melakukan perjalanan antar pulau.

Sejarah dan Perkembangan Pelabuhan Ketapang

Pelabuhan Ketapang memiliki sejarah yang panjang dan menjadi saksi dari perkembangan pariwisata di Banyuwangi. Awalnya, Pelabuhan terbesar di Banyuwangi adalah Pelabuhan Boom yang pada era Kerajaan Majapahit sudah difungsikan sebagai bandar perdagangan. Pelabuhan Boom menjadi garis demarkasi hegemoni politik antara Kerajaan Jembrana yang ada di Bali dengan Kerajaan Mataram.

Namun, seiring dengan bertambahnya jumlah kapal-kapal besar yang berlabuh dan terjadinya pendangkalan akibat lumpur serta pasir yang memasuki muara pelabuhan, membuat lokasi pelabuhanpun dipindah ke Pantai Desa Meneng. Pelabuhan Meneng dibangun pada tahun 1970 dan selesai pertengahan tahun 1973. Pelabuhan yang kemudian diberi nama Pelabuhan Tanjung Wangi tersebut akhirnya menjadi Pelabuhan Umum.

Pelabuhan Ketapang sendiri sejak awal memang merupakan Pelabuhan Penyeberangan yang menghubungkan Pulau Jawa dengan Pulau Bali. Seiring dengan meningkatnya jumlah wisatawan yang berkunjung ke Bali, lalu lintas laut yang hilir mudik di Selat Bali pun semakin bertambah. Kapal-kapal ferry yang beroperasi di jalur Ketapang – Gilimanuk juga tidak lagi mengangkut penumpang, tapi juga mengangkut logistik dengan menggunakan kapal roro (roll on – roll off) untuk mengangkut barang.

Kondisi itulah yang membuat jalur laut di Selat Bali mengalami overload, sehingga pihak Kementrian Perhubungan merasa perlu untuk mengambil kebijakan dengan memfokuskan Pelabuhan Ketapang sebagai Pelabuhan Ferry Penumpang. Sementara kapal roro yang mengangkut barang dari Pulau Jawa menuju ke Bali atau ke NTB dan NTT akan dialihkan ke Pelabuhan Tanjung Perak yang ada di Surabaya.

Padatnya arus lalu lintas di selat Bali tersebut, membuat Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas saat melakukan rapat koordinasi di ASDP Ketapang menyampaikan wacana untuk membangun jembatan yang melintasi Selat Bali. Pembangunan Jembatan Selat Bali sendiri sebenarnya bukan ide baru, karena telah digagas oleh Prof. Dr. (HC) Ir. Sedyatmo (almarhum), guru besar ITB pada tahun 1960.

Gagasan Sedyatmo berupa pembangunan jembatan yang menghubungkan 3 pulau yaitu Pulau Sumatera, Jawa dan Bali yang diberi nama Tri Nusa Bimasakti. Namun, gagasan tersebut menimbulkan kontroversi dan ditentang oleh banyak pihak dengan berbagai alasan. Salah satu diantaranya adalah I Komang Arsana, Ketua PHDI Kabupaten Jembrana.

Menurut Arsana, terpisahkannya Pulau Jawa dengan Pulau Bali merupakan suatu keniscayaan baik secara sekala maupun niskala, sebagaimana tertuang dalam mitologi. Dimana Sang Hyang Sidimantra dengan sengaja memutus Pulau Jawa dengan Pulau Bali yang semula menyatu. Dengan terputusnya kedua pulau yang dibatasi oleh laut, maka hal-hal negatif dari luar yang dapat memberi pengaruh buruk kepada Bali akan dapat lebih mudah diawasi, karena laut ibarat sebuah filter.

Selain itu, menurut I Komang Arsana, pembangunan jembatan penghubung Jawa dan Bali, akan membuat terjadinya pergeseran-pergeseran nilai dan berpengaruh terhadap tatanan sosial budaya masyarakat Bali. Itu sebabnya, meski sudah sejak lama jembatan yang melintasi Selat Bali tersebut digagas, namun hingga kini masih belum terealisasi.

Fasilitas dan Infrastruktur di Pelabuhan Ketapang

Pelabuhan Ketapang sebagai pelabuhan yang paling sibuk kedua se-Indonesia ini, berada di bawah naungan dan pengelolaan PT ASDP Persero yang menempati area seluas 27.780 meter persegi. Di atas area tersebut, terdapat berbagai fasilitas dan infrastruktur yang mendukung kinerja pelabuhan.

BACA JUGA :  Ini Dia Informasi Alamat Serta Nomor Telepon Rekomendasi Dokter Mata Terbaik di Depok

Lapangan parkir seluas 11.957 meter persegi, ruang transit seluas 462,08 meter persegi, rumah genset seluas 28 meter persegi, shelter seluas 259 meter persegi, Gank Way / Boarding Bridge seluas 141 meter persegi, Catwalk seluas 128 meter persegi, Treastle seluas 892 meter persegi, Gudang Terminal dan Kantor seluas 2.977 meter persegi, Rumah Kontrol Movable Bridge seluas 42 meter persegi, Rumah Jembatan Timbang seluas 96 meter persegi, Tandon Air Bersih seluas 150 meter persegi, dan Pertamanan seluas 2.977 meter persegi.

Selain itu, Pelabuhan Ketapang juga dilengkapi dengan beberapa fasilitas dan infrastruktur untuk menunjang kinerja pelabuhan, diantaranya adalah:

  • Listrik Power Supply 345 kVA
  • 1 unit Jembatan Timbang berkapasitas 50 ton
  • 2 set peralatan informasi
  • 1 set hydrant
  • 2 unit Movable Bridge
  • 1 unit ponton
  • 3 unit Beaching
  • 6 unit Metal Detector
  • 6 unit Mirror Detector
  • 17 unit CCTV
  • 3 unit Wing Barrier
  • 3 unit Loket Kendaraan Roda 2
  • 4 unit Loket Kendaraan Roda 4
  • Generator
  • Bunker BBM
  • Mushollah

Di pelabuhan ini, sebanyak 42 kapal setiap harinya standby dan yang beroperasi sebanyak 35 kapal terdiri dari 23 kapal ferry penumpang dan kendaraan roda 2/4 serta 12 kapal LCT atau kapal cargo yang khusus mengangkut barang. Bahkan, pada musim liburan, jumlah kapal yang beroperasi di Pelabuhan Ketapang bisa bertambah menjadi 39 kapal.

Beberapa nama kapal ferry penumpang yang beroperasi di Pelabuhan Ketapang antara lain: Kmp Nusa Makmur, Kmp Nusa Dua, Kmp Rajawali Nusantara, Kmp Marina Pratama, Kmp Dharma Rucitra, Kmp Sereia Do Mar, Kmp Satria Nusantara, dan lain-lain. Sedangkan untuk kapal cargo, beberapa nama kapal yang beroperasi di Pelabuhan Ketapang antara lain: Lct Trisna Dwitya, Lct Bhaita Caturtya, Lct Putri Sritanjung, Lct Pancar Indah, Lct Trans Jawa 9, Lct Cipta Harapan XII, dan lain-lain.

Untuk harga tiket penyeberangan ke Pelabuhan Gilimanuk, pihak pengelola pelabuhan yakni ASDP Ketapang bersama dengan Direktorat Angkutan Umum Multimoda Kementrian Perhubungan serta para pengusaha kapal, telah memutuskan untuk menyesuaikan tarif penyeberangan sejak 10 Mei 2023, setelah 3 tahun lamanya tidak pernah mengalami kenaikan. Berikut adalah harga tiket penyeberangan tersebut:

  • Penumpang dewasa: Rp. 6.500
  • Anak-anak: Rp. 4.500
  • Kendaraan sepeda: Rp. 7.500
  • Motor: Rp. 24.000
  • Motor 500cc: Rp. 37.000
  • Kendaraan Penumpang golongan IV: Rp. 159.000
  • Kendaraan barang golongan IV: Rp. 141.000
  • Kendaraan Penumpang golongan V: Rp. 302.000
  • Kendaraan barang golongan V: Rp. 242.000
  • Kendaraan Penumpang golongan VI: Rp. 495.000
  • Kendaraan barang golongan VI: Rp. 141.000

Rute Menuju Pelabuhan Ketapang

Pelabuhan Ketapang adalah satu-satunya jalur darat untuk bisa sampai ke Bali. Bagi mereka yang hendak ke Ketapang menggunakan kendaraan pribadi, dapat memilih Jalur Selatan dengan melewati Kabupaten Jember atau melalui Jalur Utara melalui Situbondo.

Untuk yang memilih Jalur Utara akan melewati Kraksaan, Paiton, Besuki dan Situbondo, dilanjutkan ke Asembagus, Wongsorejo, Banyuwangi hingga tiba di Ketapang.

Untuk yang menggunakan Jalur Selatan, akan melewati Kota Probolinggo, Leces, Tanggul, Rambipuji dan Jember. Selanjutnya perjalanan dilanjutkan dengan melewati Sempolan, Gumitir, Kalibaru dan Glenmore, lalu menuju ke Genteng, Rogojampi, Klabat, Banyuwangi sebelum akhirnya tiba di lokasi.

Untuk mereka yang menggunakan sarana transportasi umum, terdapat dua alternatif yang dapat dipilih, yaitu dengan menggunakan bus dan kereta api. Perjalanan dengan menggunakan bus dapat dilakukan kapan saja, karena rute bus yang menuju Banyuwangi tersedia 24 jam, baik yang berangkat dari Terminal Bungurasih, Surabaya maupun dari Terminal Arjosari, Malang.

Perjalanan dengan menggunakan kereta api, bisa naik Kereta Api Sri Tanjung untuk yang berangkat dari Jogja, Kereta Api Logawa untuk yang berangkat dari Purwokerto, atau Kereta Api Mutiara Timur dan Probowangi untuk yang berangkat dari Stasiun Gubeng Surabaya dan Kereta Api Tawang Alun yang yang berangkat dari Malang.

BACA JUGA :  Ini Dia 10 Rekomendasi Jasa Tukang Taman Yang Recommended di Daerah Cibubur Jakarta

Satu hal yang harus diperhatikan adalah jangan sampai keliru dalam memilih stasiun yang menjadi tempat pemberhentian. Karena di Banyuwangi terdapat 10 stasiun kereta api, yaitu Stasiun Kalibaru, Glenmore, Sumber Wadung, Kali Setail, Temuguruh, Singojuruh, Rogojampi, Karangasem, Argopuro, dan Stasiun Banyuwangi Baru. Untuk menuju ke Pelabuhan Ketapang, pilihlah Stasiun Banyuwangi Baru sebagai tempat pemberhentian terakhir, karena jarak stasiun ini cukup dekat dengan pelabuhan, yaitu sekitar 100 meter yang dapat ditempuh dengan berjalan kaki.

Aktivitas di Pelabuhan Ketapang

Melihat aktivitas di Pelabuhan Ketapang, tidak berbeda dengan aktivitas yang berlangsung di pelabuhan-pelabuhan lain. Terdapat kapal-kapal yang sedang melakukan bongkar muat barang, antrean penumpang yang akan membeli tiket di loket atau keluar masuk kapal, pedagang asongan yang menjajakan barang-barang dagangannya, buruh-buruh angkut, dan sebagainya.

Namun, sebagai pelabuhan kedua paling ramai di Indonesia, ada beberapa hal berbeda yang dapat dijumpai di Pelabuhan Ketapang. Salah satunya adalah keberadaan para pedagang asongan yang menjual makanan, minuman, asesoris, koran, dan sebagainya. Tidak seperti para pedagang asongan di sejumlah pelabuhan, terminal, atau stasiun, para pedagang asongan di sini selalu tampil rapi dengan memakai sepatu, mengenakan seragam yang berbeda setiap 2 hari sekali, serta dilengkapi ID Card.

Pemandangan berbeda juga dapat ditemui dari banyaknya kendaraan yang keluar masuk pelabuhan. Kendaraan yang didominasi mobil pribadi dan bus tersebut seolah tidak pernah ada habisnya yang keluar masuk pelabuhan, baik siang maupun malam. Padatnya jadwal operasional kapal tersebut membuat antrian panjang tidak dapat dielakkan ketika pelabuhan ditutup meski hanya untuk beberapa saat.

Selain itu, ada sebuah fenomena menarik yang dapat ditemui di Pelabuhan Ketapang. Fenomena tersebut adalah keberadaan anak-anak logam yang akrab dipanggil Arlog (Arek-arek Logam). Mereka adalah anak-anak yang tinggal di sekitar pelabuhan yang mengais rejeki dengan cara mengumpulkan kepingan-kepingan uang logam bernilai Rp.500 – Rp.1.000 yang dilempar para penumpang dari atas kapal. Kepingan-kepingan uang logam yang jatuh ke dalam air laut tersebut diburu oleh anak-anak logam dengan cara menyelam. Setelah berhasil mendapatkan uang tersebut, mereka lantas menggigitnya saat kembali ke atas permukaan air sebagai tanda terima kasih dan untuk menunjukkan kepada si pelempar uang bahwa uang yang dilempar berhasil mereka dapatkan.

Selain itu, ada juga beberapa anak yang naik ke atas kapal, dan meminta kepada beberapa penumpang untuk memberinya sejumlah uang. Sebagai imbalannya, mereka akan melakukan atraksi dengan meloncat dari atas kapal yang tingginya antara 12 – 15 meter. Perburuan koin dan atraksi loncat dari atas kapal tersebut menjadi tontonan sekaligus memberikan daya tarik tersendiri bagi para penumpang di Pelabuhan Ketapang.

Di tengah ribuan orang yang setiap harinya memadati Pelabuhan Ketapang, banyak cerita yang dapat dijumpai. Cerita tersebut juga dihadirkan oleh alam yang menampakkan keindahannya pada pagi dan sore hari. Di pagi hari, siluet cahaya matahari yang memancar dari ufuk timur terlihat sangat menawan saat dilihat dari area pelabuhan. Begitu juga pada saat menyeberangi Selat Bali pada sore hari. Disepanjang perjalanan dari Ketapang menuju Gilimanuk, para penumpang kapal akan disuguhi lukisan alam berupa indahnya sunset yang berpadu harmonis dengan Gunung Ijen dan Gunung Raung sebagai latar belakangnya.

Karena itu, bagi siapapun yang ingin menyeberang dari Ketapang ke Gilimanuk atau sebaliknya, disarankan untuk berada di lokasi pelabuhan sekitar pukul 05.00 pagi atau pukul 17.00 sore. Hal tersebut bertujuan agar dapat menyaksikan indahnya sunrise dan sunset yang memanjakan mata. Jangan lupa pula untuk membawa kamera agar dapat mengabadikan lukisan alam tersebut dalam sebuah bingkai foto.


Raka Andhika

Raka adalah seorang penulis blog perjalanan yang bersemangat dan kreatif. Raka memiliki kecakapan dalam menulis narasi perjalanan yang menarik dan informatif. Sejak usia muda, Raka sudah memiliki kegemaran menjelajahi tempat-tempat baru dan berinteraksi dengan berbagai budaya, yang kemudian mendorongnya untuk membagikan pengalaman tersebut melalui tulisan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *