Asal Usul Sejarah Gereja Ayam Magelang
Lokasi dan Sejarah Gereja Ayam
Gereja Ayam, yang terletak di Dusun Gombong, Desa Kembanglimus, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, telah menjadi salah satu tempat beribadah umat Kristiani yang terkenal di Indonesia. Nama “Gereja Ayam” sendiri sebenarnya digunakan sebagai julukan atau nama lain dari beberapa tempat ibadah umat Kristiani lainnya di Indonesia, seperti GPIB PNIEL di Menteng, Jakarta Pusat, GPIB Zebaoth di Bogor, dan Gereja Immanuel di Ternate. Selain itu, ada juga Gereja Ayam yang terkenal di luar negeri, seperti Gereja Gallicantu di Kota Yerusalem, Israel.
Keberadaan Gereja Ayam GPIB PNIEL di Jakarta Pusat bahkan telah dijadikan nama sebuah jalan yang berada di dekatnya, dan nama ini juga digunakan oleh beberapa bisnis seperti restoran soto yang terkenal dan minimarket Indomaret. Di luar negeri, Gereja Gallicantu yang berarti “Ayam Berkokok” dalam bahasa Latin menjadi salah satu gereja Ayam yang paling terkenal di dunia. Gereja ini dibangun di bekas Istana Kayafas dan menjadi tempat Jesus diadili oleh para imam sebelum disalib.
Namun, Gereja Ayam yang akan kita bahas di sini adalah yang terletak di Magelang, Jawa Tengah. Gereja Ayam ini memiliki keunikan tersendiri karena bentuknya yang mirip dengan seekor ayam betina raksasa yang sedang mengerami telur di dalam hutan. Keunikan inilah yang membuat nama objek wisata ini mendunia, meskipun sebenarnya bangunan tersebut bukanlah gereja dalam arti yang sebenarnya. Awalnya, bangunan ini didirikan bukan sebagai tempat beribadah khusus bagi umat Kristiani, melainkan sebagai rumah doa yang diperuntukkan bagi pemeluk agama apapun yang mempercayai adanya Tuhan.
Bangunan Gereja Ayam ini terletak di Bukit Rhema, Magelang. Meskipun bangunan ini bukan gereja dalam arti yang sesungguhnya, namun keunikan bentuk dan arsitektur bangunannya membuatnya sangat menarik dan telah menjadi sorotan media, baik media cetak maupun online, termasuk media sosial seperti Wikipedia, TripAdvisor, Kaskus, Facebook, Instagram, dan YouTube. Bahkan, DailyMail.co.uk, sebuah media besar, juga pernah meliput destinasi wisata ini, sehingga semakin banyak wisatawan dari mancanegara yang datang berkunjung.
Pada awalnya, popularitas Gereja Ayam ini juga dibantu oleh film Ada Apa dengan Cinta 2 (AADC 2) yang menjadi salah satu film terlaris di tahun 2015. Dalam film tersebut, terdapat adegan di mana tokoh Rangga mengajak Cinta naik jeep menuju Bukit Rhema. Adegan ini membuat banyak orang tertarik untuk mengunjungi tempat ini, terutama anak-anak muda.
Seiring berjalannya waktu, Gereja Ayam ini mengalami beberapa perubahan. Pada tahun 2000, bangunan ini ditutup karena keterbatasan dana operasional dan kondisi bangunan yang tidak terawat. Namun, dalam dua tahun terakhir, dengan adanya perhatian yang lebih profesional dalam pengelolaan, Gereja Ayam ini mulai dibenahi dan dilengkapi dengan beberapa fasilitas. Meskipun pembenahan tersebut masih belum menyeluruh, diharapkan pada tahun 2024 nanti Gereja Ayam dapat tampil dengan lebih menarik dan mampu menarik jumlah wisatawan yang lebih besar.
Sejarah Singkat
Gereja Ayam memiliki sejarah yang cukup unik dan misterius. Cerita tentang sejarah berdirinya Gereja Ayam ini tidak berkaitan dengan mitos atau legenda, namun berawal dari mimpi yang dialami oleh Daniel Alamsjah, seorang pria asal Jakarta. Dalam mimpinya, Tuhan memberikan amanat kepada Daniel untuk mendirikan sebuah rumah ibadah yang berbentuk burung merpati.
Mimpi tersebut membuat Daniel merasa terpanggil oleh Tuhan. Ketika sedang melakukan perjalanan menuju Magelang, Daniel merasa ingat dengan mimpi tersebut ketika melihat Bukit Rhema. Keindahan bukit tersebut dengan lokasinya yang tersembunyi di balik rimbun pepohonan sangat mirip dengan tempat yang pernah ditunjukkan Tuhan dalam mimpinya. Sejak saat itu, Daniel mulai berdoa setiap malam untuk meminta petunjuk dari Tuhan.
Pada tahun 1989, Daniel membeli lahan seharga Rp 2 juta dengan luas sekitar 300 meter persegi dari warga setempat. Namun, karena keterbatasan dana, pembayaran dilakukan secara angsuran selama 4 tahun. Proses pembangunan gedung ini tidaklah mudah. Selain keterbatasan dana, Daniel juga menghadapi penolakan dari warga sekitar.
Meskipun menghadapi banyak hambatan, Daniel tidak pernah menyerah. Bangunan ini tidak hanya digunakan sebagai tempat ibadah oleh umat Kristiani, namun juga oleh umat dari berbagai agama. Selain itu, gedung ini juga pernah dijadikan sebagai pusat rehabilitasi dan terapi bagi anak-anak penyandang cacat, penderita penyakit jiwa, dan pecandu narkoba.
Sayangnya, karena besarnya biaya operasional, pada tahun 2000 Rumah Doa ditutup. Setelah ditutup, bangunan ini semakin terbengkalai dan jarang dikunjungi. Meskipun begitu, Gereja Ayam masih tetap menjadi tujuan para traveller yang datang ke Magelang, terutama karena lokasinya yang dekat dengan Punthuk Setumbu, salah satu destinasi wisata favorit di Jawa Tengah, dan Candi Borobudur.
Popularitas Gereja Ayam semakin meningkat setelah adanya liputan dari media besar seperti DailyMail.co.uk dan penggunaan tempat ini sebagai lokasi syuting dalam film AADC 2. Sejak itu, Gereja Ayam semakin ramai dikunjungi oleh wisatawan, baik dari dalam maupun luar negeri.
Rute Menuju Lokasi
Untuk menuju ke Gereja Ayam, wisatawan dapat mengikuti rute yang mudah dijangkau baik dengan kendaraan pribadi maupun angkutan umum. Lokasi Gereja Ayam terletak sekitar 3,9 km dari Candi Borobudur, Jawa Tengah.
Jika Anda datang dari Yogyakarta, Solo, Semarang, Ambarawa, atau Magelang, Anda dapat langsung menuju ke Candi Borobudur. Setelah sampai di depan taman candi, belokkan kendaraan ke arah kiri dan ikuti jalan Borobudur – Salaman. Teruslah mengikuti jalan tersebut hingga Anda menemukan sebuah gang yang merupakan jalan masuk menuju Bukit Rhema. Gang tersebut ditandai dengan papan petunjuk jalan dan berada di sebelah gerbang masuk Punthuk Setumbu.
Setelah memasuki gang, Anda akan segera sampai di area parkir Bukit Rhema. Parkirkan kendaraan Anda di tempat tersebut dan lanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sejauh 200 meter melalui jalan berlapis beton untuk menuju ke lokasi Gereja Ayam.
Bagi wisatawan yang telah menikmati sunrise di Punthuk Setumbu, Anda dapat langsung menuju Gereja Ayam yang berjarak sekitar 300 meter saja. Meskipun jaraknya tidak begitu jauh, medan yang harus ditempuh cukup terjal, sehingga membutuhkan sedikit usaha. Meskipun Punthuk Setumbu dan Gereja Ayam berada di wilayah yang berbeda, kedua tempat ini masih sangat dekat satu sama lain.
Gereja Ayam buka setiap hari dari pukul 05.00 hingga 17.00 WIB. Untuk masuk ke Gereja Ayam, wisatawan akan dikenai harga tiket sebesar Rp.15.000 untuk wisatawan lokal dan Rp.30.000 untuk wisatawan asing. Biaya parkir kendaraan juga dikenakan sebesar Rp.2.000 untuk motor dan Rp.5.000 untuk mobil.
Menikmati Pemandangan di Gereja Ayam
Gereja Ayam bukan hanya menawarkan keindahan pemandangan alam yang memukau, tetapi juga keunikan arsitektur bangunan yang menarik. Oleh karena itu, tempat ini sering digunakan sebagai lokasi foto prewedding.
Untuk menikmati keindahan dan keunikan bangunan ini, pengunjung harus memasuki gedung dengan tiga lantai. Lantai dasar gedung memiliki ukuran yang luas dan bentuknya mirip dengan lambung kapal. Di lantai ini, terdapat kursi untuk pengunjung yang ingin melihat proses pembangunan Gereja Ayam melalui proyektor dan layar LCD yang menampilkan foto-foto dokumentasi pembangunan.
Lantai dua gedung lebih sempit, tetapi memiliki lebih banyak jendela yang digunakan untuk melihat pemandangan di sekeliling gereja. Di lantai ini, pengunjung dapat melihat bagian ekor gedung yang menjulang tinggi dan kini dijadikan sebagai cafe. Dinding-dinding lantai dua dihiasi dengan gambar-gambar mural yang berisi pesan moral dan gambar objek wisata serta karya seni budaya Indonesia.
Pada lantai tiga, pengunjung dapat melihat bagian kepala burung/ayam. Di lantai ini, terdapat beberapa kursi yang digunakan sebagai tempat antre sebelum naik ke bagian mahkota burung/ayam. Jumlah pengunjung yang diizinkan naik ke bagian mahkota dibatasi karena keterbatasan ruang. Di bagian mahkota burung/ayam, pengunjung dapat menikmati pemandangan alam yang indah di sekitar gereja, seperti Punthuk Setumbu, Gunung Merbabu, Gunung Merapi, Gunung Sindoro, Puncak Suroloyo, Candi Borobudur, dan perbukitan serta sawah dan ladang di sekitar lokasi.
Setelah menjelajah lantai demi lantai, jangan lupa untuk turun ke bagian basecamp yang berada di bawah tanah. Di bagian ini, terdapat 25 ruangan kecil yang digunakan sebagai ruang doa, termasuk mushollah. Terdapat pula ruangan untuk kamar mandi dan toilet.
Meskipun bangunan ini awalnya didirikan sebagai rumah doa yang terbuka untuk pemeluk agama apa pun, Gereja Ayam sekarang telah menjadi destinasi wisata yang menarik dan populer. Dengan keindahan pemandangan alam di sekitarnya dan keunikan arsitektur bangunan, Gereja Ayam menjadi tempat yang wajib dikunjungi bagi para traveller yang datang ke Magelang dan sekitarnya.