PERGIMULU.COM

Mau Pergi Liburan Kemana? Cari info di pergimulu.com saja!

Asal Usul Candi Surawana

Blog

Lokasi dan Sejarah Candi Surawana

Lokasi

Candi Surawana terletak di Desa Canggu, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Candi ini berjarak sekitar 25 kilometer dari kota Kediri dan berada di sebelah timur lautnya. Meskipun sebenarnya candi ini bernama Wishnubhawanapura, namun lebih dikenal dengan nama Candi Surawana. Bangunan candi ini hanya tersisa bagian kakinya, sedangkan tubuh dan atapnya sudah hancur. Meskipun begitu, bangunan ini masih dapat dikatakan luar biasa karena masih tersisa hingga saat ini.

Sejarah

Candi Surawana merupakan salah satu peninggalan dari zaman kerajaan di Jawa Timur, khususnya zaman kerajaan Majapahit yang berlangsung sekitar abad ke-14 Masehi. Candi ini dibangun pada masa pemerintahan kerajaan Majapahit sebagai bentuk pendharmaan kepada Bhre Wengker yang meninggal pada tahun 1388 Masehi. Sebagai tempat pendharmaan, candi ini memiliki makna dan nilai sejarah yang tinggi bagi masyarakat Hindu.

Meskipun usianya sudah mencapai 618 tahun, Candi Surawana tetap berdiri kokoh. Hal ini menunjukkan kecerdasan orang-orang pada masa itu dalam merancang dan membangun bangunan yang kuat dan tahan lama. Meskipun tidak ada teknologi canggih seperti saat ini, mereka mampu membuat bangunan yang dapat bertahan hingga ratusan tahun.

Dimensi dan Keadaan Candi Surawana

Dimensi Bangunan

Candi Surawana memiliki dimensi bangunan sebesar 7,8 x 7,8 x 4,72 meter. Pondasi bangunan candi ini terbuat dari susunan batu bata merah yang kuat. Meskipun hanya tersisa bagian kakinya, tinggi bagian kaki candi ini mencapai 3 meter. Untuk naik ke bagian candi, pengunjung harus menggunakan tangga sempit yang terletak di sisi barat candi.

BACA JUGA :  5 Daftar Pilihan Rental Sewa Kamera di Daerah Lampung Harga Murah; DSLR, GoPro dan Underwater

Keadaan Candi

Meskipun bangunan candi ini sudah mengalami kerusakan, terutama pada bagian tubuh dan atapnya, namun Candi Surawana masih dapat dikatakan luar biasa. Bagian kaki candi ini tampak seperti bersusun dua layaknya kaki Candi Rimbi. Selain itu, terdapat pelipit yang menonjol keluar dan bagian kaki yang terletak di atas pelipit agak menjorok ke dalam sehingga ukurannya lebih kecil. Relief-relief menghiasi seluruh bagian kaki candi ini, dengan relief-relief yang berukuran lebih besar dan pahatan yang lebih halus pada bagian atas kakinya. Relief-relief ini menggambarkan kisah-kisah Tantri, Sri Tanjung, Arjunawiwaha, Bubuksah, dan Gagak Aking. Meskipun belum diketahui secara pasti cerita dan makna dari relief-relief tersebut, namun mereka memberikan indikasi akan kekayaan cerita dan sejarah yang terkandung dalam candi ini.

Keberadaan Candi Surawana sebagai Tempat Wisata Edukasi

Candi Surawana bukan hanya menjadi peninggalan bersejarah, namun juga menjadi tempat wisata edukasi yang populer di Kediri. Jumlah pengunjung yang datang ke candi ini mencapai 4.000 orang per hari, mulai dari pengunjung umum hingga pelajar. Keberadaan candi ini sebagai tempat wisata edukasi menjadi bukti bahwa sejarah dan budaya Indonesia masih diminati oleh masyarakat.

Selain sebagai tempat wisata edukasi, Candi Surawana juga sering digunakan sebagai tempat upacara keagamaan oleh umat Hindu. Umat Hindu dari Pulau Dewata, Bali, sering melakukan ritual keagamaan di candi ini. Oleh karena itu, ketika ada ritual di sini, pengunjung tidak diperbolehkan untuk menaiki candi sebagai bentuk toleransi terhadap umat Hindu yang sedang melaksanakan ritual.

Tidak ada biaya masuk untuk berkunjung ke Candi Surawana, namun para pengunjung diwajibkan untuk mengisi buku catatan tamu sebagai laporan ke Dinas Pariwisata. Di sekitar candi terdapat batu bekas reruntuhan candi yang berjajar dengan rapi. Batu-batu ini terbuat dari batu andesit yang memiliki pori-pori dan sengaja diletakkan di situ. Sayangnya, pada tahun 2017, fasilitas di tempat wisata edukasi ini masih minim, terutama tempat duduk dan tempat sampah. Hal ini menyebabkan sering ditemui sampah yang berserakan di pinggir jalan. Untuk mengatasi masalah ini, pengunjung diberikan kantong plastik sebagai wadah sampah dan diharapkan membawa sampahnya keluar dari area candi.

BACA JUGA :  10 Rekomendasi Gunung Berpanorama Indah Bak Surga Tersembunyi di Daerah Dieng Yang Wajib Kalian Kunjungi

Jam Buka dan Waktu Terbaik Berkunjung

Candi Surawana buka setiap hari mulai pukul 07.30 hingga 19.45. Waktu terbaik untuk berkunjung ke tempat wisata edukasi ini adalah pada pukul 08.00 – 10.00 dan 15.00 – 16.00. Pada dua waktu tersebut, sinar matahari tidak terlalu menyengat dan pengunjung dapat menikmati suasana candi dengan lebih nyaman. Meskipun berkunjung pada siang hari, tidak perlu khawatir karena candi ini dikelilingi oleh pohon-pohon rindang yang memberikan teduh.

Kesimpulan

Candi Surawana merupakan salah satu peninggalan bersejarah dari zaman kerajaan di Jawa Timur. Lokasinya yang berada di Desa Canggu, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri membuatnya menjadi salah satu tempat wisata edukasi yang populer di daerah tersebut. Meskipun hanya tersisa bagian kakinya, candi ini masih dapat dikatakan luar biasa karena bangunannya tetap berdiri kuat setelah berusia lebih dari 600 tahun.

Sebagai tempat wisata edukasi, Candi Surawana menawarkan pengalaman berharga bagi pengunjungnya. Selain itu, candi ini juga digunakan sebagai tempat upacara keagamaan oleh umat Hindu. Jam buka candi ini adalah pukul 07.30 hingga 19.45, dan waktu terbaik untuk berkunjung adalah pada pukul 08.00 – 10.00 dan 15.00 – 16.00.

Dalam mengunjungi Candi Surawana, penting untuk menjaga kebersihan dan kerapihan area candi. Pengunjung diharapkan untuk menggunakan kantong plastik sebagai wadah sampah dan membawanya keluar dari area candi. Dengan demikian, keindahan dan keberlanjutan candi ini dapat tetap terjaga untuk dinikmati oleh generasi mendatang.


Raka Andhika

Raka adalah seorang penulis blog perjalanan yang bersemangat dan kreatif. Raka memiliki kecakapan dalam menulis narasi perjalanan yang menarik dan informatif. Sejak usia muda, Raka sudah memiliki kegemaran menjelajahi tempat-tempat baru dan berinteraksi dengan berbagai budaya, yang kemudian mendorongnya untuk membagikan pengalaman tersebut melalui tulisan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *