PERGIMULU.COM

Mau Pergi Liburan Kemana? Cari info di pergimulu.com saja!

Berapa Jumlah Anak Tangga Pura Lempuyang? Simak ini

Blog

Asal Usul Nama

Pura Lempuyang merupakan salah satu pura yang terdapat di Pulau Bali. Nama pura ini berasal dari dua kata, yaitu “lampu” dan “hyang”. Kata “lampu” memiliki arti sinar, sedangkan “hyang” merupakan penyebutan Tuhan. Jika kedua kata tersebut dipadukan, maka artinya adalah sinar suci Tuhan yang begitu terang-benderang.

Namun, terdapat juga versi lain mengenai arti kata “lempuyang”. Beberapa orang menyebutkan bahwa “lempuyang” merupakan nama tanaman yang digunakan sebagai bumbu masak. Terkait dengan hal ini, terdapat dua banjar di sekitar pura ini, yaitu Bajar Bangle dan Gamongan, yang merupakan jenis tanaman obat yang juga digunakan sebagai bumbu masakan.

Selain itu, ada juga yang menyebutkan bahwa “lempuyang” merujuk pada Bhatara Hyang Pasupati yang mengutus tiga putranya untuk menjaga kestabilan Bali dari berbagai guncangan bencana alam. Dalam versi ini, “lempuyang” berasal dari kata “empu” atau “emong” yang memiliki arti menjaga.

Sejarah dan Legenda

Pura Lempuyang memiliki sejarah yang cukup panjang. Mengacu pada Lontar Utara Kanda Dewa Purana Bangsul, Sang Hyang Parameswara membawa potongan-potongan Gunung Mahameru dari jambudwipa, yaitu India, ke Bali. Potongan-potongan tersebut kemudian dibawa ke Bali dan dipecah menjadi tiga bagian besar, yang kemudian dipecah lagi menjadi bagian-bagian kecil.

Bagian tengah dari Gunung Mahameru tersebut menjadi Gunung Batur dan Rinjani, sementara bagian puncaknya menjadi Gunung Agung, gunung tertinggi di Pulau Bali. Pecahan yang lebih kecil menjadi deretan gunung-gunung yang saling berhubungan, termasuk Gunung Lempuyang.

Gunung-gunung yang terhubung ini digunakan sebagai istana para dewa manifestasi Tuhan untuk menjaga Bali dalam kepercayaan agama Hindu. Sang Parameswara kemudian menugaskan putranya, Sang Hyang Agni Jaya Sakti, untuk turun ke Bali dan menjaga kesejahteraan pulau ini. Putra Sang Parameswara ini berstana di Gunung Lempuyang bersama dengan dewa-dewa lainnya sesuai dengan kepercayaan umat Hindu.

BACA JUGA :  Jalan Jalan Ke Demak, 10 Oleh-Oleh Yang Menarik Ini Boleh Kamu Bawa Pulang

Aturan yang Harus Diketahui

Sebagai tempat suci, Pura Lempuyang memiliki aturan-aturan yang harus dipatuhi oleh para pengunjung sebelum memasuki area pura. Hal ini dilakukan karena menurut kepercayaan umat Hindu, melanggar aturan dapat berdampak buruk bagi pelanggar tersebut.

Salah satu aturan yang harus diperhatikan adalah tidak boleh berkata kasar saat perjalanan menuju pura. Selain itu, sejak awal pikiran, perkataan, dan perbuatan harus disucikan atau diluruskan. Wanita yang sedang haid, sedang menyusui, orang yang sedang dalam keadaan “cuntaka”, anak yang belum tanggal gigi susu, dan orang yang beragama Hindu yang tidak akan melakukan sembahyang juga sebaiknya tidak masuk ke pura.

Selain itu, dilarang membawa makanan atau makan daging babi saat berada di pura. Pengunjung juga tidak boleh membawa perhiasan yang terbuat dari emas karena perhiasan tersebut sering hilang secara misterius.

Objek Wisata Menarik

Pura Lempuyang merupakan salah satu objek wisata menarik di Pulau Bali. Keindahan Gunung Lempuyang yang mengerucut dan pemandangan indahnya menjadikan pura ini sebagai destinasi yang wajib dikunjungi bagi para wisatawan.

Pemandangan panorama gunung yang indah dan udara yang sejuk mempesona mata dan memberikan pengalaman yang tak terlupakan bagi pengunjung. Untuk mencapai puncak pura, pengunjung harus menaiki sekitar 1.700 anak tangga. Meskipun terasa melelahkan, perjalanan ini akan terbayarkan dengan suara satwa, udara sejuk, dan pemandangan alam yang memukau.

Di sekitar pura juga terdapat kera-kera liar yang bergelantungan di pohon-pohon. Selain itu, ada juga Candi Penataran yang merupakan salah satu tempat yang harus dikunjungi di Pura Lempuyang. Candi ini memiliki pemandangan yang indah dan terletak di ketinggian 600 meter di atas permukaan laut.

Cerita Masyarakat Sekitar

Masyarakat sekitar Pura Lempuyang memiliki cerita unik mengenai cahaya terang yang muncul di ujung timur Pulau Bali dan hanya terlihat dari luar angkasa. Menurut cerita tersebut, cahaya terang tersebut berasal dari arah Gunung Lempuyang.

BACA JUGA :  10 Rekomendasi Penyedia Jasa Service iPhone Murah di Bandung Yang Bisa Selalu Kamu Andalkan

Cerita ini menjadi bagian dari kepercayaan masyarakat sekitar dan menambah daya tarik Pura Lempuyang sebagai salah satu tempat yang harus dikunjungi di Bali.

Terbagai Menjadi Tiga Mandala

Pura Lempuyang terbagi menjadi tiga Mandala, yaitu Lempuyang Sor, Lempuyang Madya, dan Lempuyang Luhur. Pembagian ini didasarkan pada Lontar Markandeya Purana yang menyatakan bahwa Rsi Markandeya mendirikan pura ini pada abad ke-8 Masehi.

Pembangunan Pura Lempuyang ini bertujuan sebagai tempat ibadah dan juga untuk menyebarkan ajaran Hindu di Pulau Bali, khususnya di daerah sekitar pura ini.

Ritual di Pura Lempuyang

Pura Lempuyang juga tidak lepas dari ritual-ritual ibadah. Ritual yang dilakukan di pura ini antara lain ritual piodalan atau puja wali yang dilakukan setiap 6 bulan sekali, yakni satu hari setelah Galungan atau setiap Waraspati atau hari Kamis.

Ritual ini dilakukan untuk merayakan kelahiran pura dan merupakan bagian penting dari kehidupan spiritual umat Hindu di Bali.

Tips Mengunjungi

Bagi para wisatawan yang ingin mengunjungi Pura Lempuyang, perlu memiliki ketahanan fisik yang cukup. Karena untuk mencapai puncak pura, pengunjung harus menaiki sekitar 1.700 anak tangga.

Sebelum memasuki pura, sebaiknya melakukan olahraga ringan untuk mempersiapkan fisik. Selain itu, pengunjung juga disarankan untuk menggunakan pakaian yang sopan dan tidak melanggar aturan yang berlaku di pura.

Yang Dirasakan

Pura Lempuyang merupakan tempat yang sangat disakralkan bagi warga Hindu di Bali. Perjalanan menuju puncak pura yang menantang menjadi pengalaman spiritual yang berkesan bagi umat Hindu. Selain melakukan kegiatan ibadah, pengunjung juga dapat menikmati keindahan alam yang masih terjaga di sekitar pura.

Hutan Masih Terjaga

Pura Lempuyang terletak di sekitar kawasan hutan yang masih terjaga dengan baik. Berbagai jenis tumbuhan tumbuh subur di daerah sekitar pura ini, dan suara burung-burung yang berkicau menjadi irama yang sulit ditemukan di perkotaan.

Keberadaan kera-kera liar yang bebas bergelantungan di pohon-pohon juga menjadi daya tarik tersendiri. Kawasan hutan yang terjaga dengan baik memberikan pemandangan yang memukau dan kesempatan untuk menikmati keindahan alam yang masih alami.

Tak Terbantahkan

Keindahan Pura Lempuyang memang sudah tidak dapat diragukan lagi. Banyak orang yang telah mengunjungi pura ini dan memberikan pendapatnya mengenai keindahan dan pesonanya. Banyak situs dan website yang juga memberikan informasi mengenai keindahan Pura Lempuyang dan pendapat-pendapat orang yang telah mengunjunginya.

BACA JUGA :  13 Pilihan Hotel di Pelabuhan Ratu, Harga Mulai Rp.200.000

Keindahan alam yang ditawarkan oleh Pura Lempuyang pasti dapat memberikan pengalaman yang tak terlupakan bagi para pengunjung.

Cocok Bagi Pecinta Alam

Bagi para pecinta alam, Pura Lempuyang merupakan tempat yang cocok untuk dikunjungi. Pendakian menuju puncak pura yang menantang dan pemandangan alam yang memukau menjadikan pura ini sebagai destinasi yang menarik.

Meskipun pendakian di Pura Lempuyang bukanlah pendakian yang menaiki lereng, namun perjalanan menaiki anak tangga yang cukup banyak juga memberikan sensasi yang berbeda namun tetap menantang. Selain itu, pengunjung juga dapat menikmati udara segar dan suara alam yang menenangkan.

Jalan Menuju Lokasi

Untuk mencapai Pura Lempuyang, pengunjung dapat menggunakan mobil dan membutuhkan waktu sekitar 2 jam perjalanan dari pusat Kota Denpasar. Pura ini terletak di Desa Tista, Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali.

Ada beberapa jalur yang dapat digunakan untuk menuju pura ini, salah satunya melalui kawasan wisata Candi Dasa yang melewati kota Amlapura. Selain itu, juga dapat diakses melalui Kecamatan Selat Karangasem dan kota Semarapura dengan mengambil arah ke Jalan Besakih. Pura Lempuyang juga dapat diakses melalui tour in puerta en from Ubud dengan mengikuti alamat atau lokasi pura ini.

Harga Tiket Masuk

Untuk masuk ke Pura Lempuyang, pengunjung tidak dikenakan tiket masuk. Namun, pengunjung perlu membayar biaya parkir sebesar Rp. 5.000 per mobil. Setelah memarkir kendaraan, pengunjung harus berjalan menyusuri anak tangga sebanyak 1.700 anak tangga untuk mencapai puncak Pura Lempuyang.

Aspek Kesejarahan Belum Valid

Meskipun telah dijelaskan mengenai asal usul dan sejarah Pura Lempuyang, keakuratan informasi tersebut belum dapat dipastikan secara pasti. Informasi yang telah disampaikan didasarkan pada berbagai sumber yang dikumpulkan dan dirangkum menjadi satu.

Namun, yang jelas, Pura Lempuyang memiliki keindahan alam yang luar biasa dan memberikan pengalaman spiritual yang berkesan bagi umat Hindu. Meskipun belum ada data yang valid mengenai sejarah dan asal usul pura ini, tujuan utama pura ini adalah sebagai tempat sembahyang dan menyebarkan ajaran Hindu.


Raka Andhika

Raka adalah seorang penulis blog perjalanan yang bersemangat dan kreatif. Raka memiliki kecakapan dalam menulis narasi perjalanan yang menarik dan informatif. Sejak usia muda, Raka sudah memiliki kegemaran menjelajahi tempat-tempat baru dan berinteraksi dengan berbagai budaya, yang kemudian mendorongnya untuk membagikan pengalaman tersebut melalui tulisan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *