Museum Satria Mandala
Sejarah Museum Satria Mandala
Museum Satria Mandala terletak di Jl. Jend. Gatot Subroto No.14, RT.6/RW.1, Kuningan Barat, Jakarta 12710. Museum ini memiliki luas tanah seluas 56.670 meter persegi dan sangat strategis karena terletak di pusat kota Jakarta. Alamat lengkapnya berada di Jl. Jend. Gatot Subroto No.14, Jakarta Selatan dan lokasi museum mudah dikunjungi wisatawan karena banyak sekali akses kendaraan umum yang melewati jalan tersebut. Transportasi umum yang bisa digunakan adalah bus Trans Jakarta jurusan Grogol dan Kopaja jurusan Cawang–Grogol yang melintasi depan museum tersebut. Letak museum memang mudah ditemukan dan bisa dicari melalui Google Map. Selain itu, berada dikawasan yang ramai dan mudah di lewati kendaraan karena berada di kawasan jalur ringroad Grogol.
Pada awalnya, tanah tempat museum ini berdiri adalah rumah kediaman ibu negara Ratna Sari Dewi, istri presiden pertama Republik Indonesia yaitu Ir. Sukarno. Rumah tersebut juga merupakan tempat persemayaman terakhir Presiden Sukarno sebelum dikebumikan di kota Blitar sehingga memiliki nilai sejarah yang tinggi bagi bangsa Indonesia. Museum Satria Mandala dibangun pada tahun 1971 dan mulai diresmikan oleh Presiden Suharto pada tahun 1972. Nama “Satria Mandala” diambil dari bahasa Sansekerta yang memiliki arti “Lingkungan Keramat Para Ksatria”. Nama tersebut dipilih karena dalam bangunan banyak terdapat nama-nama pahlawan berjiwa Ksatria yang ikut serta dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Koleksi Museum Satria Mandala
Museum Satria Mandala memiliki koleksi yang sangat beragam dan menarik. Ketika masuk ke dalam museum, para pengunjung akan disambut dengan replika kapal Matjan Tutul yang tenggelam saat pertempuran Arafuru. Di sepanjang jalan menuju halaman gedung museum, terdapat juga dua buah meriam di sisi kanan dan kiri jalan. Pintu masuk gedung terbuat dari kayu yang berwarna hitam dengan ukiran bunga yang sangat indah.
Di dalam museum, para pengunjung akan langsung melihat replika isi teks proklamasi 1945 berukuran raksasa sebesar dinding yang menghadap pintu masuk. Replika tersebut adalah teks proklamasi kemerdekaan yang sudah diketik dan dibacakan oleh Presiden Sukarno. Sedangkan dibawahnya ada gambar teks proklamasi berukuran sekitar 12R yang masih dalam bentuk konsep, hasil tulisan tangan dari Bapak Proklamator sendiri.
Selain itu, di dalam museum terdapat juga foto-foto para pejabat pemerintah yang pernah menjadi wakil presiden Indonesia. Di sebelahnya ada panji-panji atau bendera Tentara Nasional Indonesia (TNI). Pada sebelah kanan pintu masuk, terdapat beberapa lambang TNI dari angkatan darat, laut, dan udara.
Selanjutnya, ada diorama tentang pertempuran sengit yang terjadi di kota Surabaya pada tanggal 10 November 1945. Pertempuran ini sangat bersejarah dan menjadi titik balik dalam mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia dari serangan penjajah. Oleh karena itu, tanggal 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan Nasional. Di sebelahnya, terdapat koleksi sebuah kaca yang retak karena tertembak peluru dalam pertempuran tersebut.
Setelah itu, para pengunjung bisa menuju ruang Jenderal Besar Sudirman, salah satu pahlawan perjuangan kemerdekaan dan seorang perwira TNI berpangkat Bintang 5. Di dalam ruangan ini terdapat patung wajah Jenderal Sudirman serta replika rumah tempat tinggalnya. Terdapat juga benda-benda yang menjadi saksi sejarah seperti tempat tidur, meja tamu, meja tulis, lukisan wajah Jenderal Sudirman, serta benda-benda lainnya. Selain itu, ada juga beberapa koleksi bintang penghargaan yang diberikan pemerintah Indonesia atas jasa-jasanya dalam mengusir penjajah Belanda. Ada juga jubah kebesaran Jenderal Sudirman saat melakukan perang gerilya serta koleksi keris dan pedang yang biasa digunakan sebagai senjata pertahanan diri. Salah satu koleksi yang sangat penting adalah tandu yang membawa Jenderal Sudirman ketika beliau sakit, namun tetap berjuang untuk melakukan perang gerilya.
Secara keseluruhan, jumlah koleksi diorama atau miniatur di Museum Satria Mandala sekitar 180 duratran diorama. Selain itu, terdapat juga koleksi foto sebanyak 350 foto dan 13 lukisan. Tersedia juga 26 patung serta 452 tanda pangkat yang merupakan identitas tingkat perwira yang ada di jajaran TNI. Di ruangan bawah tanah, terdapat gudang senjata yang berisi koleksi sebanyak 274 pucuk senjata berat dan ringan yang digunakan oleh TNI. Selain itu, terdapat 15 kendaraan tempur yang pernah digunakan oleh TNI dan Polisi dalam bertugas untuk mengamankan negara. Ada juga koleksi pesawat sebanyak 17 buah, yang terdiri dari pesawat tempur dan pesawat pengangkut atau logistik.
Ruang Diorama 1
Ruang diorama 1 di Museum Satria Mandala berisi tentang foto-foto Presiden Sukarno dan wakil presiden yang sedang membacakan teks proklamasi. Selain itu, terdapat juga diorama atau miniatur pembacaan teks proklamasi di sebuah rumah di Jalan Pegangsaan Timur Raya No. 56 yang sekarang sudah berubah menjadi Jalan Proklamasi. Di bawah diorama tersebut, terdapat keterangan tentang kronologi sejarah pembacaan proklamasi yang terjadi pada jam 10.00 WIB. Selain itu, terdapat juga diorama lainnya seperti kongres pemuda yang mengadakan rapat untuk membentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR) sebagai cikal bakal TNI. Masih banyak gambar atau foto yang berhubungan dengan pembentukan TNI, salah satunya adalah gambar 3 kalimat amanat pembentukan tentara Indonesia 1945 yang diucapkan oleh Ir. Sukarno, Jenderal Sudirman, dan Jenderal Urip Sumoharjo.
Selanjutnya, pengunjung dapat menuju ruang Jenderal Nasution. Di ruangan ini terdapat kalimat 5 butir Sumpah Prajurit yang berukuran sebesar dinding sebagai pengetahuan kepada masyarakat. Hal ini sebagai bukti bahwa setiap tentara harus memegang sumpah amanat negara. Di ruangan ini juga terdapat patung wajah Jenderal Besar A.H. Nasution. Beliau merupakan salah satu tentara yang paling disegani di Indonesia, karena telah berhasil meraih pangkat tertinggi dalam ketentaraan yaitu Jenderal Besar Bintang 5.
Di sebelah kiri patung Jenderal Nasution, terdapat baju kebesaran Jenderal Bintang 5 yang merupakan simbol dari seorang perwira yang patut menjadi teladan bagi setiap anggota TNI. Mendapatkan anugerah Bintang 5 bukanlah hal yang mudah, karena hal tersebut hanya bisa didapatkan berdasarkan beberapa prestasi yang sangat tinggi. Sampai saat ini, hanya ada 3 orang perwira Indonesia yang sudah mampu menyandang gelar Bintang 5, yaitu Jenderal Sudirman, Jenderal Suharto, dan Jenderal Nasution. Di sebelah baju Jenderal Nasution, terdapat butir-butir kalimat Sapta Marga yang harus ditaati oleh setiap tentara. Sapta Marga artinya adalah 7 jalan yang harus ditaati oleh setiap perwira yang tergabung dalam Tentara Nasional Indonesia. Di ruangan ini terdapat banyak sekali koleksi foto-foto Jenderal Nasution sejak masih muda sampai pada masa pensiun. Banyak sekali prestasi yang telah dicapai Jenderal Nasution sejak zaman merebut kemerdekaan sampai akhir hayatnya. Dia memberikan sumbangan yang besar kepada dunia dengan menulis sebuah buku yang berjudul “Fundamentals of Guerilla Warfare”. Buku ini berisi tentang teknik dan strategi dalam melakukan perang gerilya dan menjadi rujukan di kalangan militer dari beberapa negara di dunia.
Di samping ruang Jenderal Nasution, terdapat ruang Jenderal Besar Suharto. Jenderal Suharto pernah menjadi presiden Republik Indonesia selama 32 tahun. Di ruangan ini terdapat patung wajah Jenderal Suharto dan banyak sekali foto-foto tentang perjalanan hidupnya semasa menjadi perwira TNI sampai menjabat sebagai Presiden Indonesia. Ada juga seragam kebesaran Jenderal Besar Suharto yang sudah berpangkat Bintang 5 sebagai perwira tertinggi TNI. Di sebelahnya, terdapat lemari kecil tertutup kaca yang berisi buku-buku kisah kehidupan Jenderal Suharto. Setidaknya ada 15 buku yang menulis tentang perjalanan hidupnya sejak menjadi perwira TNI sampai menjadi orang nomor satu di Indonesia.
Ruang Diorama 2
Ruang diorama 2 di Museum Satria Mandala berisi tentang sejarah para pahlawan Indonesia yang berjuang sampai titik darah penghabisan untuk mempertahankan kemerdekaan RI. Terdapat diorama bentuk seragam tentara di zaman kemerdekaan seperti baju putih, hijau, dan hitam dengan celana pendek yang digunakan dalam kesatuan BKR. Selain itu, ada juga bentuk baju tentara yang berwarna coklat, yaitu tentara yang berasal dari kesatuan PETA. Di sebelahnya, terdapat juga miniatur bentuk dan warna seragam tentara yang masih digunakan sampai sekarang.
Diorama selanjutnya adalah sejarah pemuda Surabaya yang menurunkan bendera Belanda di hotel Yamato dekat Jembatan Merah. Selanjutnya, para pemuda Surabaya menggantinya dan mengibarkan bendera merah putih. Diorama selanjutnya adalah pertempuran dalam rangka merebut pangkalan udara dari tangan penjajah Jepang yang ada di kota Malang. Selanjutnya, terdapat diorama nomor 15 yang menggambarkan pertempuran yang meletus di kota Bogor. Ada juga diorama tentang pertempuran Cibadak yang terjadi di kota Sukabumi, Jawa Barat. Selanjutnya, pengunjung dapat melihat diorama tentang penumpasan 3 daerah di kota Pekalongan serta kota lainnya seperti Brebes, Tegal, dan Pemalang. Ada juga miniatur pertempuran 5 hari di kota Palembang. Selain itu, terdapat diorama tentang gambaran kehidupan masyarakat di masa kemerdekaan yang menggunakan kentongan sebagai alat untuk memberikan tanda bahaya.
Koleksi selanjutnya adalah foto-foto tentang peran TNI dalam membantu masyarakat untuk melaksanakan pembangunan di kota dan berbagai desa di seluruh Indonesia. Pada zaman pemerintahan Orde Baru, terdapat sebuah program dari pemerintah yaitu AMD (ABRI Masuk Desa). Program ini merupakan wujud kepedulian TNI dalam pembangunan desa untuk bergotong-royong dengan masyarakat dalam membangun sarana dan prasarana yang berguna bagi masyarakat. Selain itu, terdapat juga koleksi foto-foto peran TNI di kancah internasional ketika mendapatkan tugas KONGA (Kontingen Garuda) dalam misi perdamaian PBB di beberapa negara. Ada juga foto-foto perwira TNI yang pernah menjabat sebagai Panglima ABRI sejak zaman kemerdekaan sampai masa sekarang.
Ruang Senjata
Ruang senjata di Museum Satria Mandala berada di bawah tanah atau ruang khusus yang digunakan sebagai tempat meletakkan berbagai macam jenis senjata api yang pernah digunakan oleh TNI. Setelah sampai pada ruang senjata, para pengunjung akan disuguhi gambar besar mengenai sejarah persenjataan TNI dari tahun 1945 sampai sekarang. Terdapat banyak koleksi senjata sejak zaman kemerdekaan seperti senapan laras panjang dengan popor atau ujung senjata berlubang. Ada juga rudal peninggalan penjajah Jepang yang berhasil direbut oleh tentara Indonesia. Yang lebih unik lagi adalah, terdapat sebuah ranjau yang terbuat dari bambu yang berbahan peledak batu baterai dan digunakan oleh tentara Indonesia ketika masa perang gerilya. Selain senjata api, terdapat juga koleksi jangka sorong dan helm tentara yang biasa digunakan selama perang melawan penjajah. Setiap koleksi senjata api, disertai dengan keterangan sehingga para pengunjung bisa mengetahui jenis dan kapan tahun pembuatan senjata tersebut. Terdapat juga koleksi mortir yang dimiliki oleh TNI sejak tahun 1945 yang digunakan sebagai salah satu senjata api untuk mempertahankan negara. Ada beberapa mitraliur yang berukuran raksasa sebagai senjata andalan yang digunakan dalam peperangan darat dan udara. Ternyata sejak tahun 1945, tentara Indonesia sudah memiliki torpedo yang digunakan dalam kapal dan digunakan untuk peperangan di laut.
Halaman Belakang Museum
Ketika menuju halaman belakang Museum Satria Mandala, para pengunjung akan melihat beberapa koleksi pesawat dan helikopter yang pernah digunakan oleh TNI. Terdapat beberapa pesawat pembawa penumpang dan beberapa pesawat jet pembom yang hanya berpenumpang 1 orang. Pesawat jet tempur yang terbaru adalah jenis A4 Sky Hawk yang diresmikan pada tanggal 14 Maret dan kondisinya masih bagus serta masih bisa dioperasikan.
Ruang Diorama 3 dan 4
Di gedung belakang Museum Satria Mandala terdapat ruang diorama 3 dan 4 yang terdiri dari 2 lantai. Ketika sampai di pintu masuk, para pengunjung akan melihat sebuah lukisan Jenderal Sudirman yang sedang naik kuda ketika mengikuti upacara bendera. Hal ini karena kondisi beliau masih dalam keadaan sakit sehingga harus duduk di atas seekor kuda. Ruangan ini berisi diorama tentang visi dan misi pasukan Garuda ABRI. Selain itu, terdapat juga diorama Pasukan Garuda yang sedang bertugas di beberapa negara dalam melaksanakan misi perdamaian untuk PBB.
Harga Tiket Masuk dan Fasilitas yang Ada
Untuk bisa melihat semua koleksi bersejarah yang ada dalam gedung Museum Satria Mandala, para pengunjung harus membayar harga tiket masuk yang sangat murah sebesar Rp. 2.500 per orang. Selain itu, biaya parkir mobil juga sangat murah sekitar Rp. 2.000 dan biaya membawa kamera juga sekitar Rp. 2.000. Museum Satria Mandala sudah mulai buka sejak jam 09.00 pagi dan tutup pada jam 14.30. Selain itu, terdapat juga fasilitas lain seperti taman bacaan anak, kantin, kios cinderamata, dan gedung serba guna yang bisa digunakan untuk acara perkawinan atau wedding bagi para perwira TNI serta dibuka untuk umum.
Sayangnya, pada tanggal 14 Mei, gedung klinik yang terletak di halaman belakang museum mengalami kebakaran. Diperkirakan kebakaran tersebut terjadi karena konsleting listrik. Api berhasil dipadamkan setelah dikerahkan mobil pemadam kebakaran sebanyak 15 unit. Banyak masyarakat yang menyatakan bahwa gedung poliklinik tersebut terkenal angker karena terletak di bagian belakang dan banyak terjadi hal-hal ganjil di sekitar bangunan tersebut.