Panduan Wisata Gunung Agung Bali Terbaru
Dengan keindahan alam dan sejarah yang dimiliki Gunung Agung, tidak heran jika banyak wisatawan yang tertarik untuk mengunjunginya. Namun, selalu perlu diingat bahwa keselamatan dan keamanan harus menjadi prioritas utama saat mendaki gunung ini. Jangan lupa untuk selalu mengikuti petunjuk dan peraturan yang berlaku serta menggunakan jasa pemandu yang berpengalaman.
Sejarah Singkat Gunung Agung Bali

Gunung Agung, Gunung Tertinggi di Bali
Gunung Agung terletak di Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem dan menjadi gunung tertinggi di pulau Bali. Dengan tinggi mencapai 3.031 meter di atas permukaan laut, Gunung Agung telah menjadi salah satu objek wisata alam yang populer di Bali. Keindahan Gunung tertinggi di Bali ini tidak hanya terletak pada pemandangannya yang menakjubkan, tetapi juga sejarahnya yang kaya.
Gunung Agung merupakan gunung berapi yang aktif bahkan saat ini tengah meletus. Gunung tersebut bertipe stratovolcano, yaitu gunung berapi yang tinggi dengan puncak mengerucut. Bentuknya yang demikian mengingatkan kita dengan bisul yang sama-sama dapat mengeluarkan “isi”.
Di lereng Gunung Agung ternyata terdapat pura yang amat penting bagi umat beragama Hindu, yaitu Pura Besakih. Pemandangan Gunung tertinggi di Bali dari pura ini terbilang unik, karena terlihat mengerucut dengan sempurna. Namun sebenarnya puncaknya memanjang dan berakhir pada kawah yang berbentuk lingkaran serta lebar.
Riwayat Letusan Gunung Agung

Fakta yang ada menyatakan bahwa Gunung Agung Bali sudah meletus sebanyak 5 kali termasuk tahun ini (2017) dan pertama terjadi pada tahun 1808. Pada tahun tersebut, gunung ini memuntahkan abu dan batu apung dengan jumlah yang terbilang sangat banyak. Letusan berikutnya terjadi pada tahun 1821, namun tidak diketahui data secara terperinci, yang pasti letusannya masih dalam kisaran normal dan dinilai tidak terlalu hebat dari tahun 1808.
Letusan kembali berlanjut di tahun 1843 yang diawali dengan sejumlah gempa bumi kemudian Gunung Agung mengeluarkan isi berupa abu vulkanik, pasir serta batu apung. Setelah itu, selama 120 tahun gunung ini tetap tenang. Namun, ketika memasuki bulan Februari 1963, gunung ini meletus kembali hingga bulan Januari tahun 1964.
Penduduk lokal mendengar suara letusan yang keras pada 18 Februari 1963, kemudian disusul dengan asap tebal yang keluar dari puncak Gunung tertinggi di Bali ini. Abu panas dan gas dikeluarkan oleh Gunung Agung dari letusannya hingga mencapai ketinggian 20.000 meter.
Keberadaan material-material di langit mengurangi intensitas cahaya matahari yang masuk sehingga membuat suhu udara di lapisan stratosfer turun hingga 6oC. Peristiwa ini menyebabkan penurunan rata-rata suhu di bumi bagian utara hingga mencapai 0,4 oC pada tahun 1963 hingga 1966.
Abu belerang hasil letusan Gunung Agung bertebangan ke seluruh dunia, bahkan mencapai Greeenland. Hal ini dapat terlihat dari kandungan sulfur acid yang ada di dalam lapisan es di sana.
Lahar mulai dialirkan oleh Gunung Agung pada 24 Februari 1963 dari bagian utaranya. Muntahan gunung ini terus mengalir selama 20 hari dan jaraknya hingga 7 km. Letusan Gunung Agung kembali menggema pada 17 Maret 1963. Letusan ini bahkan setara dengan letusan Gunung Vesuvius yang meluluhlantahkan Kota Pompeii, Italia, yaitu sebesar VEI 5.
Namun letusan ini tidak berhenti sampai situ saja, pada 17 Mei 1963 Gunung Agung kembali meletus. Dari seluruh rangkaian letusan ini menimbulkan korban jiwa sebanyak 1.148 orang dan 296 orang luka-luka.
Namun kelihatannya Gunung tertinggi di Bali masih belum puas. Ketenangan selama 54 tahun seakan menjadi titik batas kesabaran, gunung ini kembali menunjukkan aktivitasnya pada bulan September 2017. Badan Nasional Penanggulangan Bencana sudah membuat deklarasi zona eksklusif sepanjang 12 km di sekitar gunung berapi ini pada 24 September 2017.
Gunung ini kembali mengeluarkan magmanya pada hari Sabtu, 25 November 2017, dan meningkat sekitar 1,5 hingga 4 km di atas ke puncak, melayang ke arah selatan serta membersihkan daerah sekitar dengan lapisan abu tipis yang gelap.
Abu ini menyebabkan maskapai penerbangan membatalkan semua penerbangan yang menuju ke Australia dan Selandia Baru. Letusan kedua kembali terjadi pada 26 November 2017. Eruption atau erupsi terkini sudah pernah masuk dalam level waspada dengan status yang selalu update secara online oleh BMKG.
Keindahan Gunung Agung

Gunung tertinggi di Bali ini bukan hanya menawarkan keindahan alam yang memukau, tetapi juga pemandangan yang menakjubkan dari ketinggian. Ketika berada di Gunung tertinggi di Bali, kita akan disuguhkan dengan pemandangan dari alam Pulau Bali yang berada di sekitarnya secara sempurna.
Tidak hanya diperlihatkan pemandangan alam di sekitar, melainkan juga pemandangan Gunung Rinjani yang terletak jauh di Pulau Lombok.
Rangkaian gugusan kepulauan Nusa Penida ternyata juga menjadi salah satu bagian pemandangan yang terangkai begitu alami. Pantai Sanur dan Danau Batur juga dapat terlihat dengan menawan dari ketinggian 3.000 meter di atas permukaan air laut ini.
Jalur Pendakian Gunung Agung

Untuk mencapai puncak tertinggi di Bali ini, diperlukan pendakian. Pendakian Gunung Agung dapat dilakukan melalui beberapa jalur, yaitu jalur Selatan, Tenggara, dan Barat Daya. Pendakian dari jalur Selatan dimulai dari Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem. Tempat singgahnya adalah di Pura Pasar Agung, yang dapat ditempuh melalui Pasar Selat.
Jalur pendakian selanjutnya adalah dari Tenggara, yakni dari Budakeling kemudian melewati Nangka. Jalur pendakian Barat Daya merupakan rute paling sering digunakan, dimulai dari Pura Besakih yang berada di Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem.
Namun jalur ini telah mencetak beberapa peristiwa, yakni kecelakaan dan hilangnya beberapa pendaki. Peristiwa ini akhirnya mengharuskan menggunakan jasa pemandu jika memang ingin melanjutkan pendakian di Gunung Agung, dan peraturan tersebut dimulai sejak Mei 2009.
Estimasi waktu untuk mendaki Gunung Agung jika dimulai dari Pura Pasar Agung adalah kurang lebih 4 jam hingga ke ketinggian 2.850 m. Sedangkan jika dimulai dari Pura Besakih, membutuhkan waktu perjalanan kurang lebih 6 jam hingga ke puncak Gunung tertinggi di Bali, yaitu puncak tertingginya yang berada di ketinggian 3.031 meter.
Peta dan Cara Menuju Lokasi
Untuk menuju ke Gunung Agung, jika dimulai dari Denpasar, dapat diambil arah Utara dengan estimasi jarak kurang lebih 25 km. Gunakan peta atau aplikasi Maps untuk mempermudah menuju alamat gunung ini berada.
Terdapat jalur lain untuk menuju ke Gunung Agung, yakni melalui Kota Semarapura, Kabupaten Klungkung. Jalur ini dapat ditempuh dengan menggunakan angkutan umum yang tarifnya mulai dari Rp. 7.000-Rp. 10.000.
Harga Tiket Masuk
Harga tiket masuk ke Gunung Agung adalah Rp. 20.000, namun ini belum termasuk estimasi biaya untuk pendakian. Dari data yang berhasil dihimpun, estimasi biaya pendakian terbagi menjadi dua, yaitu di ketinggian sekitar 3.000 mdpl dan 2.000 mdpl.
Biaya yang dibutuhkan untuk ketinggian 3.000 mdpl kurang lebih Rp. 1.200.000/orang, sedangkan untuk di ketinggian 2.000 mdpl kurang lebih Rp. 950.000/orang. Biaya ini sudah termasuk dengan peralatan pendakian seperti lampu penerangan, makan pagi, pemandu, transportasi dari hotel ke Gunung Agung pulang pergi.
Untuk memudahkan pendakian, sangat disarankan menggunakan jasa paket wisata agar semuanya terlaksana dengan baik dan tentunya tanpa ada pemborosan biaya yang berarti. Selain itu, paket wisata sudah pasti terestimasi dengan baik, jadi kita hanya perlu menyiapkan badan serta biaya saja.
Informasi Pendakian

Mendaki Gunung Agung dari jalur barat membutuhkan waktu untuk sampai di puncak tertinggi kurang lebih 5 hingga 6 jam. Waktu tersebut terbilang sangat lama dan dibutuhkan stamina yang kuat, sehingga jalur pendakian ini disarankan bagi yang memang memiliki stamina serta fisik prima. Biasanya pendakian dimulai sekitar jam 12.00 malam.
Mendaki Gunung Agung via jalur Selatan maka kita hanya akan sampai di puncak dua saja, yaitu di ketinggian 2.000 meter. Walaupun selisih ketinggian hampir 1.000 meter, tetapi pemandangan yang ditawarkan juga tidak kalah memukau.
Ketinggian ini sudah membawa kita berada di atas awan dan dapat menyaksikan keindahan kawah Gunung Agung. Waktu yang dibutuhkan untuk mencapai puncak dua ini kurang lebih 3,5 hingga 4 jam. Biasanya pendakian ini dimulai pada pukul 01.45.
Lebih Favorit Puncak 2
Wisatawan lokal lebih menggemari mendaki Gunung Agung ke puncak dua. Alasan utamanya adalah tentu waktu yang lebih singkat serta tenaga yang dibutuhkan jauh lebih sedikit daripada ke puncak satu. Puncak dua juga sangat direkomendasikan bagi para pemula atau yang pertama kali mendaki gunung. Pendakian juga dapat dilakukan lebih cepat, tergantung persetujuan dengan pemandu.
Tidak Hanya Sebagai Tujuan Wisata

Gunung Agung bukan hanya menjadi tujuan wisata bagi para pendaki, tetapi juga memiliki nilai religius yang tinggi bagi umat Hindu. Pemeluk agama Hindu juga mengeramatkan puncak Gunung tertinggi di Bali ini.
Mereka kerap mengadakan upacara persembahyangan dalam tingkatan paling tinggi. Informasi tambahan, jika waktu pendakian bersamaan dengan ritual agama tersebut, maka waktu pendakian dapat diundur atau dimajukan, tergantung persetujuan kedua belah pihak, yakni pendaki dengan pemandu.
Harus Diketahui

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa Gunung Agung merupakan salah satu gunung yang dikeramatkan oleh umat Hindu, maka ada peraturan yang harus diketahui sebelum melakukan pendakian. Dalam kepercayaan umat Hindu, sapi merupakan hewan yang di sucikan. Dengan demikian, para pendaki tidak diperbolehkan membawa makanan yang terbuat dari daging sapi.
Selama pendakian juga diharapkan para pendaki berbicara dengan sopan. Selain itu ketika tanpa sengaja menemukan mata air, tidak boleh sembarangan diambil. Jika memang sangat terpaksa, maka kita bisa meminta tolong pada pemandu untuk melakukan persembahyangan terlebih dahulu agar dapat mengambil air suci tersebut. Semua peraturan ini sebaiknya dilakukan sebagai wujud toleransi kita terhadap umat beragama lain.
Kramat Bagi Umat Hindu

Gunung Agung bagi masyarakat Hindu Bali dipercayai sebagai tempat bersemayamnya para dewa dan istana Dewata. Kepercayaan inilah yang membuat Gunung ini menjadi tempat yang dikeramatkan atau disucikan.
Di lereng Gunung tertinggi di Bali terdapat sebuah pura, yaitu Pura Besakih. Pada tahun 1963, pura ini juga tak luput dari lelehan lahar letusan Gunung Agung. Masyarakat sekitar percaya bahwa ini adalah peringatan dari Dewata.
Menilik dari catatan sejarah yang ada, ternyata Gunung Agung dan Pura Besakih merupakan dua hal yang saling berkaitan. Kedua tempat ini merupakan pondasi awal terciptanya masyarakat Bali. Maharisi Markandeya merupakan orang pertama yang memimpin pelarian Majapahit ke Bali dan menetap di sini.
Sebelumnya, terdapat gelombang Exodus yang dipimpin oleh Markandeya. Gelombang tersebut berisikan 800 orang, namun semua orang tersebut tewas karena wabah penyakit. Informasi ini diambil dari buku “Custodian of The Sacred Mountains: Budaya dan Masyarakat di Pulau Bali” yang ditulis oleh Thomas A. Reuter.
Objek Wisata Lain Di Dekat Gunung Agung

Di sekitar daerah Gunung Agung juga terdapat objek wisata lain. Lokasinya yang terbilang berdekatan ini membuat objek-objek wisata ini juga terkena dampak dari letusan Gunung Agung.
Berikut ini adalah beberapa objek wisata tersebut.
1. Taman Ujung
Taman Ujung merupakan bekas tempat peristirahatan Raja Karangasem yang terakhir.
Di taman ini terdapat bangunan yang sebenarnya merupakan sebuah istana. Arsitektur bangunan ini memiliki perpaduan antara Bali dan Eropa, menciptakan suatu kombinasi yang unik dan menarik.
Di sekitar taman ini juga terdapat kolam yang membuatnya tampak jauh lebih cantik. Taman Ujung sering dijadikan sebagai lokasi foto-foto karena keindahannya.
2. Pantai Candidasa
Pantai Candidasa merupakan pantai yang terkenal di Karangasem. Pantai ini menawarkan pemandangan matahari terbenam yang sangat cantik. Sinar matahari yang bersinar lembut berwarna oranye kekuningan memberikan kesan hangat dan menenangkan. Di pantai ini, wisatawan dapat menyewa perahu nelayan/jukung untuk mengelilingi perairan.
3. Pura Besakih
Pura Besakih merupakan pura yang terletak di lereng Gunung Agung dan merupakan pura ketiga terbesar di Pulau Bali. Pura ini sangat dekat dengan Gunung tertinggi di Bali dan memiliki nilai religius yang tinggi bagi umat Hindu. Pada tahun 1963, pura ini juga terkena dampak dari letusan Gunung Agung. Namun, pura ini tetap menjadi tempat bersejarah dan penuh makna bagi umat Hindu Bali.