Candi Dadi Yang Unik dan Penuh Misteri
Heading 2: Sejarah dan Keunikan Candi Dadi
Candi Dadi terletak di Desa Wajak Kidul, Kecamatan Boyolangu, Tulungagung, Jawa Timur. Candi ini memiliki keunikan dan ciri khas yang membedakannya dari candi–candi lainnya. Dadi terletak di puncak bukit dengan ketinggian 360 meter dari permukaan laut, yang berada di tengah-tengah areal kehutanan RPH Kalidawir. Candi Dadi merupakan bagian dari kompleks percandian di area perbukitan Desa Wajak Kidul bagian selatan. Terdapat empat perbukitan di kompleks ini, dengan masing-masing perbukitan memiliki satu buah candi. Dadi sendiri berada di puncak paling atas atau paling tinggi.
Di bukit bagian bawah, terdapat tiga candi lainnya, yaitu Candi Gemali, Candi Buto, dan Candi Urung (Bubrah). Namun, sayangnya ketiga candi ini tinggal puing-puing saja. Hanya Candi Dadi yang masih berdiri kokoh sampai saat ini. Candi Dadi tidak memiliki arca atau tangga, sehingga untuk naik ke atas bangunan, pengunjung harus menggunakan tangga bambu. Bentuk denah candi ini berbentuk bujur sangkar dengan ukuran panjang 14 meter, lebar 14 meter, dan tinggi 6,5 meter.
Candi Dadi terbuat dari bebatuan andesit, yang terdiri dari batur dan kaki candi. Bagian atas batur berdenah segi delapan, dan di permukaannya terdapat bekas tembok yang berpenampang bulat. Bekas tembok ini diperkirakan adalah sebuah sumur dengan diameter 3,35 meter dan kedalaman 3 meter. Namun, yang menjadi keunikan adalah sumur ini tidak pernah menggenang air, bahkan saat musim penghujan pun. Air yang masuk ke dalam sumur ini langsung terserap ke dalam tanah. Masyarakat sekitar percaya bahwa sumur ini langsung tembus ke pantai selatan.
Candi Dadi belum pernah dipugar sejak awal berdirinya, sehingga setiap detail dari bangunannya masih asli. Letaknya yang berada di puncak bukit membuat masyarakat sekitar menganggapnya sebagai tanah suci. Mereka percaya bahwa di tanah suci tersebut adalah tempat berkumpulnya para arwah leluhur mereka. Oleh karena itu, selain sebagai tempat pemujaan, Candi Dadi juga digunakan sebagai tempat pengabuan, pembakaran jenazah, selamatan, dan berdoa. Upacara atau doa biasanya dilakukan pada hari-hari tertentu, seperti setiap tanggal 1 Suro.
Menurut beberapa sumber, sumur di tengah bangunan Candi Dadi diperkirakan berasal dari candi yang bercorak Hindu. Tempat ini diperkirakan merupakan peninggalan sejarah dari Kerajaan Majapahit pada abad XIV hingga akhir abad XV. Selain itu, Candi Dadi juga dikenal memiliki aura mistis yang kuat dan penuh misteri. Menurut cerita masyarakat sekitar, dulu ada seorang pangeran yang datang ke Desa Kedungjalin untuk melamar seorang putri cantik. Sang putri sebenarnya tidak ingin menerima lamaran sang pangeran, namun ia tidak sampai hati untuk menolaknya secara langsung. Sang putri kemudian mengajukan beberapa permintaan kepada sang pangeran.
Permintaan tersebut adalah sang pangeran harus bisa membangun empat candi dalam satu malam. Sang pangeran menerima tantangan tersebut dan sanggup membangun tiga candi dengan mudah. Namun, ketika ia hampir menyelesaikan pembangunan candi keempat, sang putri memerintahkan para wanita di desanya untuk membunyikan lesung sebagai pertanda pagi telah tiba. Sang pangeran kaget dan mengira bahwa malam telah berlalu dan pagi telah tiba. Akhirnya, pembangunan candi keempat tidak terselesaikan.
Sang pangeran kemudian menyadari bahwa hari masih gelap dan ia merasa tertipu oleh sang putri. Karena marah, sang pangeran mengutuk seluruh desa tersebut bahwa para wanita di desa tersebut tidak akan mendapatkan jodoh kecuali jika mereka telah memasuki usia senja. Entah karena kutukan tersebut atau bukan, tetapi memang kebanyakan perempuan di Dusun Kedungjalin baru bisa menemukan jodoh setelah memasuki usia senja. Itulah mengapa candi yang keempat dinamakan Urung, yang dalam bahasa Jawa berarti belum, karena bentuknya yang tidak sempurna. Sedangkan Candi Dadi dinamakan demikian karena merupakan satu-satunya candi yang utuh atau jadi.
Heading 2: Rute, Akses, dan Jalur Menuju Candi Dadi
Jika Anda ingin mengunjungi Candi Dadi dari Kota Tulungagung, Anda dapat mengambil arah ke selatan menuju jalan utama Kecamatan Boyolangu. Terdapat dua jalur yang dapat Anda pilih untuk mencapai lokasi candi ini, yaitu jalur barat dan jalur timur. Jalur timur tergolong lebih mudah untuk dilalui. Begitu Anda memasuki jalan raya menuju Desa Wajak Kidul, Anda akan melihat sebuah gapura besar dengan tulisan aksara Jawa. Jika Anda memilih jalur barat, Anda akan melewati rumah-rumah penduduk sepanjang perjalanan.
Jika Anda datang dari arah utara dan telah mencapai pertigaan Desa Sanggrahan, Anda harus mengambil arah ke kiri sekitar 1 kilometer untuk mencapai lokasi candi. Di sebuah gang, Anda akan menemukan papan petunjuk menuju perbukitan Dadi. Perjalanan menuju Candi Dadi dari puncak bukit sekitar 3 kilometer dan hanya dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Jalur yang akan Anda lewati adalah jalan setapak. Ada beberapa bagian dengan trek yang cukup berat, terutama pada lokasi 200 meter menjelang puncak. Jika kondisi normal, perjalanan ini biasanya memakan waktu sekitar satu jam.
Karena jarak yang cukup jauh dan melelahkan, disarankan untuk membawa perbekalan makanan dan minuman dari rumah. Jangan lupa juga membawa kamera untuk mengabadikan momen di Candi Dadi.