Candi Badut Yang Juga Disebut Candi Liswa Ini Berlokasi Kurang Lebih 5 Kilometer Dari Kota Malang
Candi di Malang
Malang adalah sebuah kota yang kaya akan sejarah dan budaya, tidak jauh berbeda dengan wilayah lain di Pulau Jawa. Salah satu bukti peninggalan sejarah yang masih bisa dinikmati di Malang adalah Candi Badut. Candi ini merupakan salah satu candi yang memiliki corak atau akulturasi yang erat dengan candi–candi lain di Jawa Timur dan daerah lainnya di Jawa.
Candi Badut merupakan peninggalan agama Hindu dan merupakan candi tertua di kota Malang. Lokasinya berada di daerah Karang Besuki, Karang Widoro, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Candi ini memiliki luas mencapai 2808 m2 dan dikelilingi oleh gunung Kawi di bagian Selatan, gunung Arjuna di barat, Gunung Tengger di utara, dan Gunung Semeru di timur.
Bangunan candi ini terbuat dari batu andesit dan memiliki sketsa denah berbentuk 4 persegi dengan ukuran sekitar 17,27 m x 14,04 m. Candi Badut menghadap ke arah Barat dan diduga dibangun pada tahun 760 M. Candi ini memiliki struktur bangunan yang terdiri dari kaki, tubuh, dan atap. Di bagian depan candi terdapat undakan yang menuju ke arah bilik. Selain itu, ada juga Selasa Pradaksi Napatha yang merupakan jalur keliling candi dari arah kiri ke kanan.
Dalam candi ini terdapat beberapa peninggalan sejarah seperti prasasti, arca Durga, agastya, dan lingga yoni. Hal ini menunjukkan bahwa Candi Badut memiliki corak Hindu yang kuat. Di dalam bilik candi terdapat lingga dan yoni yang merupakan simbol kesuburan.
Candi Badut memiliki sejarah yang panjang dan menarik. Bangunan ini dibangun oleh seorang raja pada tahun 760 Masehi. Konon, candi ini awalnya dikelilingi oleh pagar tinggi. Namun, saat ini hanya tersisa pondasi semata. Dalam proses penemuan pertama kali oleh E.W. Maurenbrechter pada tahun 1923, candi ini hanya terdiri dari batu runtuhan dan tanah. Kemudian, dilakukan pemugaran pada tahun 1925-1926 dan 1990-1991.
Mengenal Lokasi
Candi Badut terletak di area tengah pemukiman dan perumahan penduduk. Untuk mencapai candi ini, pengunjung harus masuk ke sebuah gang kecil. Meskipun sempit, gang ini menyimpan peninggalan sejarah yang memiliki nilai historis tinggi. Ketika pertama kali ditemukan, kondisi situs ini sangat mengenaskan. Namun, melalui proses pemugaran, candi ini kembali menjadi objek wisata yang menarik.
Area candi ini dahulu merupakan kompleks dengan adanya pagar tembok tinggi. Bangunan utama candi ini tidak berada di pusat halaman, melainkan di bagian depan. Di pintu masuk utama candi, terdapat hiasan Kalamakara yang menambah keindahan bangunan ini. Bagian kaki candi terdiri dari perbingkaian bawah, badan kaki, dan perbingkaian atas. Di dalam candi, terdapat gaya arsitektur khas Jawa Tengah. Di area tangga sebelah selatan, terdapat Kinara-Kinari. Di bagian dalam candi, terdapat relung-relung dengan arca Durga di bagian utara dan agastya di bagian selatan. Sayangnya, bagian atap candi sudah hancur sehingga tidak terlihat keseluruhannya.
Dibangun Oleh?
Candi Badut ini dibangun oleh seorang raja pada tahun 760 Masehi. Pendiri candi ini adalah Dewa Simha yang memiliki putra bernama Limwa. Limwa memiliki puteri bernama Uttejana yang kemudian menikah dengan Jananeya. Limwa menggantikan ayahnya sebagai raja dan mendapatkan gelar Gajayana. Pada masa pemerintahannya, bangunan candi ini dibangun pada tanggal 1 Kresnapaksa bulan Margasirsa tahun 682 Saka atau tanggal 28 November 760 Masehi.
Pada saat pembangunan candi, terdapat upacara yang melibatkan para pendeta dan petapa. Raja Gajayana memberikan tanah, sapi, kerbau, serta budak laki-laki dan perempuan untuk keperluan para pendeta. Candi Badut digunakan sebagai tempat pemujaan, penyucian diri, dan tempat peristirahatan para pengunjung. Di dalam candi, terdapat sebuah lingga keramat yang saat ini disimpan di Museum Pusat Jakarta.
Sejarah Asal Usul
Candi Badut merupakan salah satu bukti perpindahan pusat kerajaan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Hal ini terjadi pada masa pemerintahan Dinasti Sanjaya yang dipimpin oleh Raja Dewa Simha. Perpindahan ini diduga terjadi karena tekanan dari Dinasti Sailendra yang berpusat di Jawa Tengah. Daerah yang menjadi tujuan Dinasti Sanjaya adalah daerah Malang, yang kemudian menjadi pusat pembangunan candi-candi seperti Candi Badut, Candi Jago, Kidal, dan lain-lain.
Ada juga keterkaitan antara Candi Badut dengan perpindahan kerajaan Holing ke arah timur pada tahun 740 Masehi. Candi Badut merupakan salah satu peninggalan dari masa pemerintahan Kanjuruhan yang pada saat itu berada di daerah Dinoyo di sisi barat laut Malang.
Candi Badut memiliki corak Hindu yang kuat, seperti halnya candi-candi lain di Jawa Timur. Hal ini terlihat dari peninggalan-peninggalan seperti lingga yoni, arca Durga, agastya, dan lain-lain. Candi ini juga memiliki hubungan erat dengan candi-candi lain di Jawa Tengah.
Akses Ke Karangwidoro
Untuk mencapai Candi Badut, para wisatawan dapat menggunakan kendaraan pribadi atau angkutan umum. Namun, perlu diperhatikan bahwa jalan menuju candi ini cukup kecil dan samar. Untuk memudahkan pengunjung, dapat menggunakan aplikasi Google Map yang akan memberikan petunjuk jalan yang tepat.
Tidak dikenakan harga tiket masuk, pengunjung dapat mengunjungi Candi Badut secara gratis. Selain dapat menikmati keindahan bangunan candi, pengunjung juga dapat memperoleh pengetahuan lebih dalam mengenai sejarah dan budaya di Malang.