Panduan Tips Pergi Liburan Ke Sebatu

Salah satu desa di Kecamatan Tegallalang, Kabupaten Gianyar, Bali ini memiliki banyak tempat-tempat suci atau pura yang digunakan untuk membersihkan diri bagi masyarakat Bali dan umat Hindu khususnya. Ada tradisi yang belum ditinggalkan masyarakat, yakni membersihkan diri memakai air suci, dikenal dengan istilah “melukat”. Beberapa tempat sering dijadikan sebagai tempat melukat, seperti Tirta Empul Tampaksiring. Nah, di kawasan Sebatu sendiri juga terdapat tempat melukat yang tidak kalah dengan Pura Gunung Kawi atau Pura Tirta Empul.

Hal menarik dari aktivitas melukat ini adalah air dari badan Anda akan berbuih seperti air sabun saat mandi. Penduduk meyakini bahwa seseorang tersebut memiliki kotoran atau penyakit, baik medis maupun non medis. Sebelum melakukan melukat, maka diharuskan berdoa terlebih dahulu di Pura Kecil persis di atas pemandian.

Airnya cukup dingin dan menyegarkan, melebihi pemandian di Pura Sebatu atau Tirta Empul. Biasanya setelah melukat, badan Anda akan terasa segar dan ringan tanpa beban, seolah-oleh lepas dari permasalahan. Namun, aktivitas melukat ini boleh diikuti oleh agama selain Hindu, asalkan mengenakan kain dan sabuk seperti orang-orang melukat di sana.

Panduan Tips Pergi Liburan Ke Sebatu @agung.mahendra.98
Panduan Tips Pergi Liburan Ke Sebatu @agung.mahendra.98

Selain melukat, Desa Sebatu juga sering dijadikan lokasi tujuan wisata dengan hasil kerajinan ukiran masyarakat setempat yang berprofesi sebagai petani dan pematung. Masyarakat desa ini memiliki darah seni dari nenek moyang hingga kini dan masih dilestarikan. Desa ini dapat berjarak sekitar 40 kilometer dari Denpasar atau 21 kilometer dari Gianyar.

Wilayah Utama Sebatu

Desa Sebatu dibagi menjadi Sembilan banjar dinas, diantaranya :

  • Banjar Apuh
  • Banjar Bonjaka
  • Banjar Jasan
  • Banjar Jati
  • Banjar Pujung Kelod
  • Banjar Sebatu
  • Banjar Tegalsuci
  • Banjar Tumbakasa
  • Banjar Pujung Kaja

Sejarah Sebatu

Berdasarkan tradisi yang tertuang dalam babad yang bernama “BHUWANA TATWA MAHA RSI MARKANDYA“ yang menceritakan kedatangan Hyang Maha Rsi Markandya ke Bali Dwipa, disebutkan bahwa Maha Rsi Markandya pada abad ke VIII datang ke Bali dan mendirikan Pura Tohlangkir. Selanjutnya, beliau menuju ke barat dan mendirikan Desa Sarweda yang sekarang dikenal dengan nama Desa Taro, serta mendirikan Pura Gunung Raung.

Desa Sebatu berada di sebelah timur berbatasan dengan Desa Taro, dalam perjalanan Maha Rsi dari Gunung Agung (Tohlangkir) menuju Desa Taro, Desa Sebatu dilalui dan bertambah banyaknya pengikutnya, sehingga sebagian telah menghuni di wilayah yang sekarang menjadi Desa Sebatu. Di samping itu, berdasarkan bukti-bukti keagamaan di wilayah Desa Sebatu, seperti Lingga di beberapa pura dan upacara yang tidak diselesaikan oleh Sulinggih.

Pura di Sebatu, Bali @maximaroundtheworld
Pura di Sebatu, Bali @maximaroundtheworld

Tidak adanya Padmasana pada pura-pura di lingkungan wilayah Desa Sebatu juga merupakan suatu ciri kekunaan. Kalau sekarang pura-pura ditemukan Padmasana adalah pembangunan atau pendiriannya pada zaman Kerajaan Majapahit. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa Desa Sebatu termasuk desa tua yang cepat menerima pembaharuan.

Selain itu, ketika terjadinya bencana alam letusan Gunung Agung, banyak penduduk yang mengungsi, diantaranya ada yang tinggal menetap di wilayah Desa Sebatu sekarang. Sementara itu, nama Sebatu juga dikaitkan dengan cerita Mayadanawa. Ketika terjadi peperangan antara Mayadanawa dengan Bhatara Indra, di mana Mayadanawa mengalami kekalahan dan melarikan diri ke arah utara.

Dalam pelarian itu, masih juga berupaya untuk menghindari diri dari pengejaran pihak musuh dengan berubah dirinya dengan ilmu gaib. Berulang kali ia merubah dirinya, namun selalu ketahuan juga oleh musuh dan dikejar terus. Oleh karena kepayahan dan musuh tetap mengejar, terpelesetlah kakinya pada batu. Dalam Bahasa Bali, kata terpeleset berarti nyauh berasal dari sauh. Kemudian tempat ini disebut Sauh Batu. Dalam masa perkembangannya, kata “Sauh Batu“ mengalami peluluhan menjadi “Sebatu“.

Cara Pergi ke Sebatu

Desa ini dapat dicapai dari Ubud sekitar 20-30 menit berkendara dengan taksi, rental mobil atau motor. Jika Anda berangkat dari kawasan Tampaksiring, akan melewati hamparan sawah yang indah.

Transportasi Umum di Sebatu

Tidak jauh berbeda dengan desa lain di Bali, transportasi di Sebatu masih didominasi oleh ojek, rental mobil dan motor, bahkan taksi jika memungkinkan. Untuk biaya yang ditawarkan juga sama dengan wilayah lain, yakni tarif ojek sekitar Rp15.000-Rp20.000, rental motor sekitar Rp50.000 per hari dan taksi sekitar Rp30.000-Rp50.000 tergantung tujuan.

Hotel di Sebatu

  • Puri Sebatu Resort
  • Pondok Sebatu Villa
  • Royal Kamuela Sebatu

Iklim di Sebatu

Sebatu memiliki iklim tropis dengan suhu rata-rata tahunan 24,1 0C dan curah hujan rata-rata sebesar 2088 mm. Bulan terkering adalah Agustus dan bulan terhangat pada November.

Bahasa Daerah di Sebatu

Bahasa daerah yang digunakan di Sebatu adalah Bahasa Bali. Dalam perkembangannya, telah banyak yang menggunakan Bahasa Indonesia atau Inggris untuk berkomunikasi.

Tempat Wisata di Sebatu

  • Pura Sebatu
  • Air Terjun Sebatu
  • Pura Gunung Kawi

Tempat Makan Rekomendasi Kuliner di Sebatu

  • Basanta Agro Organic, Jalan Raya Jasan, Banjar Jasan, Sebatu
  • Surya Restaurant & Bar, Banjar Jati, Desa Sebatu
  • Kailasha Restaurant, Banjar Sebatu, Desa Sebatu
  • D’Alas Pujung, Banjar Pujung Kelod, Sebatu

Tips Wisata di Sebatu

  • Jika Anda penasaran dengan tradisi melukat, silakan mencobanya di Desa Sebatu.
  • Bawalah hasil kerajinan dan pahatan patung dari Desa Sebatu sebagai oleh-oleh khas.

Perlu Kamu Tahu di Sebatu

  • Puskesmas Tegallalang II
  • Desa Sebatu, Kecamatan Tegallalang, Gianyar

 

Leave a Reply