PERGIMULU.COM

Mau Pergi Liburan Kemana? Cari info di pergimulu.com saja!
Pesona Wisata Monumen Van Der Wijck Lamongan

Pesona Wisata Monumen Van Der Wijck Lamongan

Indonesia, Wisata Jawa Timur

Berkunjung ke Monumen Van Der Wijck di Lamongan, Mengenang Tragedi Kapal yang Tenggelam.

Sejarah Singkat Monumen Van Der Wijck

Pesona Wisata Monumen Van Der Wijck Lamongan

Monumen Van Der Wijk di Lamongan adalah salah satu monumen yang memiliki makna sejarah yang penting. Monumen ini didirikan oleh pemerintahan kolonial Belanda sebagai penghormatan terhadap kisah karamnya kapal Van Der Wijk di perairan Lamongan.

Kapal Van Der Wijk sendiri adalah sebuah kapal uap yang dimiliki oleh KPM (Koninklijke Paketvaart Maatschappij), perusahaan yang kemudian menjadi cikal bakal berdirinya PELNI (Pelayaran Nasional Indonesia).

Pada tanggal 20 Oktober 1936, kapal Van Der Wijk mengalami musibah tenggelam di perairan Lamongan sekitar 12 mil dari Pantai Brondong. Kapal ini membawa total 226 penumpang, terdiri dari 187 penduduk Pribumi dan 39 penduduk kebangsaan Eropa. Selain itu, terdapat juga awak kapal yang terdiri dari 1 kapten, 1 telegrafis, 1 steward, 11 perwira, 5 pembantu di kapal, dan 80 ABK pribumi.

Dalam tragedi tersebut, terdapat perbedaan versi mengenai jumlah korban yang tewas. Menurut laman Wikipedia, kapal Van Der Wijk menelan 4 korban yang tewas dan 49 orang tidak diketemukan.

Namun, menurut Koran De Telegraaf yang terbit pada tanggal 22 Oktober 1936, jumlah korban yang hilang mencapai 42 orang. Terlepas dari perbedaan jumlah korban, tragedi tenggelamnya kapal Van Der Wijk telah menjadi bagian dari sejarah yang tidak dapat dilupakan.

BACA JUGA :  Info Jadwal Krl Jakarta Cikarang Terbaru

Kisah Kapal Van Der Wijck

Kisah Kapal Van Der Wijk

Kapal Van Der Wijk sendiri dibuat pada tahun 1921 di Rotterdam oleh Maatschappij Fijenoord. Kapal ini memiliki berat mencapai 2.596 ton dengan lebar 13,5 meter. Disebut juga dengan julukan “de meeuw” atau “The Seagull” karena bentuk dan tampilannya yang elegan. Kapal ini biasanya melakukan rute pelayaran dari Bali ke Semarang, dengan berhenti terlebih dahulu di Surabaya.

Namun, pada pelayaran terakhirnya, kapal Van Der Wijk mengalami nasib nahas di perairan Lamongan. Meskipun kisah yang diangkat dalam novel dan film “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk” hanya bersifat fiktif, kejadian tenggelamnya kapal Van Der Wijk di Lamongan adalah nyata dan telah menjadi bagian dari sejarah maritim Indonesia.

Baca Juga: 25 Rekomendasi Tempat Nongkrong Asik di Daerah Tangerang!

Lokasi Monumen Van Der Wijck

Monumen Van Der Wijck terletak di Jalan Tuban-Gresik, Brondong, Sedayulawas, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Lokasinya dapat diakses dengan mudah melalui jalan raya, terutama bagi para pengunjung yang ingin mengunjungi TPI (Tempat Pelelangan Ikan) Brondong atau Pantai Utara Lamongan.

Namun, sayangnya tidak tersedia plang penunjuk jalan yang mengarah ke monumen ini, sehingga beberapa orang yang tidak mengetahuinya mungkin menganggapnya hanya sebagai bangunan biasa yang termasuk dalam areal kantor Perum Prasana Perikanan Samudra Cabang Brondong.

Monumen Van Der Wijk memiliki bentuk yang menyerupai pos pengintai area pantai dengan tinggi mencapai 15 meter. Warna monumen ini sebagian besar adalah biru dan kuning. Meskipun terdapat beberapa bagian dinding monumen yang catnya mulai mengelupas dan terlihat agak kusam, namun monumen ini tetap kokoh berdiri sebagai saksi bisu dari tragedi tenggelamnya kapal Van Der Wijk.

BACA JUGA :  Panduan Tips Pergi Liburan Ke Karimun

Di dalam pekarangan monumen terdapat dua prasasti yang terletak di bagian timur dan barat dinding monumen. Prasasti ini memiliki tulisan dalam dua bahasa, yaitu Bahasa Belanda dan Bahasa Indonesia.

Prasasti sebelah timur bertuliskan “Martinus Jacobus Uytermerk Radiotelegrafist Aan Boord S.S. Van Der Wijck 20 October 1936 Hij Bleeef Getrouw Tot In Den Dood Zijn Nagedachtenis Zijeere. Zijne Vrienden”. Sedangkan prasasti di bagian barat bertuliskan “Tanda-Peringatan Kapada Penoeloeng-Penoeloeng Waktoe Tenggelamnja Kapal “VAN DER WIJCK DDO” 19-20 October 1936″.

Mengenang Tragedi Kapal Van Der Wijk

Mengenang Tragedi Kapal Van Der Wijk

Monumen Van Der Wijck di Lamongan adalah bukti yang nyata tentang bagaimana sebuah tragedi dapat menginspirasi pembuatan sebuah monumen sebagai penghormatan kepada para korban.

Keberadaan monumen ini juga merupakan bentuk rasa terima kasih oleh pemerintah kolonial Belanda kepada warga Lamongan yang dengan tulus membantu dalam berbagai jenis pertolongan ketika tragedi ini terjadi.

Monumen ini menjadi tempat yang banyak dikunjungi oleh para pecinta sejarah dan para pemburu foto vintage. Meskipun fasilitas yang disediakan di sini standar seperti area parkir dan MCK, namun tempat parkir yang luas dan nyaman membuat para pengunjung dapat bersantai dan menikmati keindahan monumen ini. Selain itu, tiket masuk ke monumen ini juga gratis dan dibuka selama 24 jam, sehingga para pengunjung dapat mengunjunginya kapan saja.

Tragedi tenggelamnya kapal Van Der Wijk merupakan bagian dari sejarah maritim Indonesia yang tidak boleh dilupakan. Kisah sedih percintaan antara Zainudin dan Hayati dalam novel dan film “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk” karya Buya Hamka memang hanya bersifat fiktif, namun kejadian nyata tenggelamnya kapal ini tetap menjadi bagian yang penting dalam sejarah bangsa. Monumen Van Der Wijk di Lamongan hadir untuk mengenang kisah tragis ini dan menjadi pengingat akan pentingnya menjaga keselamatan di laut.


Raka Andhika

Raka adalah seorang penulis blog perjalanan yang bersemangat dan kreatif. Raka memiliki kecakapan dalam menulis narasi perjalanan yang menarik dan informatif. Sejak usia muda, Raka sudah memiliki kegemaran menjelajahi tempat-tempat baru dan berinteraksi dengan berbagai budaya, yang kemudian mendorongnya untuk membagikan pengalaman tersebut melalui tulisan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *