PERGIMULU.COM

Mau Pergi Liburan Kemana? Cari info di pergimulu.com saja!

Taman Sari Gua Sunyaragi Cirebon

Blog

Gua Sunyaragi: Sebuah Karya Arsitektur Abad ke-17

Sejarah Singkat

Gua Sunyaragi merupakan sebuah bangunan bersejarah yang terletak di Kota Cirebon, Jawa Barat. Bangunan ini didirikan pada abad ke-17 dan menjadi salah satu kiblat dari arsitektur modern pada zamannya. Didesain oleh para arsitek handal, Gua Sunyaragi berhasil memadukan beberapa gaya arsitektur, seperti Indonesia Klasik, Timur Tengah, Tiongkok Kuno, dan renaissance Eropa.

Ada dua versi mengenai asal usul Gua Sunyaragi. Versi pertama berasal dari cerita turun temurun yang disampaikan oleh para Bangsawan Cirebon, yang disebut versi Carub Kanda. Menurut Carub Kanda, Gua Sunyaragi adalah Taman Sari yang dibangun untuk menggantikan Pesanggrahan Giri Nur Sapta Rengga yang kini disebut Astana Gunung Jati.

Versi kedua disebut versi Caruban Nagari yang diambil dari Buku Purwaka Caruban Nagari yang ditulis tangan oleh Pangeran Arya Carbon pada tahun 1720. Dalam buku tersebut, disebutkan bahwa Gua Sunyaragi dibangun pada tahun 1703 M pada masa pemerintahan Pangeran Kararangen yang merupakan cicit dari Sunan Gunung Jati. Karena versi kedua ini lebih bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya, maka para pemandu wisata lebih memilih versi kedua sebagai acuan.

Perlu diketahui bahwa bentuk asli Gua Sunyaragi masih menjadi misteri karena tidak ada gambar cetak biru yang dapat dijadikan panduan saat melakukan renovasi. Meskipun sudah dilakukan perombakan berulang kali, tetapi bentuk asli gua ini tidak dapat diketahui dengan pasti.

Renovasi pertama dilakukan oleh Sultan Adiwijaya pada tahun 1852 setelah Tamansari ini dihancurkan oleh Belanda pada tahun 1787. Renovasi tersebut dipimpin oleh arsitek China bernama Tan Sam Cay yang akhirnya dibunuh karena membocorkan rahasia goa tersebut kepada Belanda. Pemugaran berikutnya dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1937-1938 dengan tujuan memperkuat kondisi bangunan. Pada tahun 1976-1984, Pihak Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Sejarah dan Purbakala juga melakukan pemugaran yang ditindaklanjuti dengan observasi dan pemeliharaan terhadap kompleks Sunyaragi.

Pada tahun 1997, pengelolaan goa ini diserahkan kepada Pemangku Keraton Kasepuhan. Namun, karena kurangnya biaya pemeliharaan, Sunyaragi terbengkalai selama beberapa tahun sebelum akhirnya direvitalisasi oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat pada tahun 2014 dengan anggaran sebesar Rp.2,46 miliar.

Mengenal Sekilas

Gua Sunyaragi terletak di Jalan Brigjend AR Dharsono, Kelurahan Sunyaragi, Kecamatan Kesambi, Cirebon, Jawa Barat. Bangunan ini menempati lahan seluas 15 hektar dan mudah diakses karena berada di pusat Kota Cirebon. Untuk menuju ke lokasi, wisatawan dapat naik becak selama kurang lebih 20 menit dari Stasiun Prujakan dan Kejaksan atau sekitar 10 menit dari Terminal Bus Cirebon.

BACA JUGA :  10 Hotel Murah Dekat Maribaya, Mulai Rp.147.000/Malam

Gua Sunyaragi buka setiap hari dari pukul 08.00 hingga 17.30 WIB. Harga tiket masuk untuk dapat menikmati keunikan dari situs bersejarah ini adalah Rp.10.000 per orang. Selain itu, terdapat biaya parkir sebesar Rp.2.000 untuk motor dan Rp.5.000 untuk mobil. Jika ingin mendapatkan penjelasan lebih lanjut tentang sejarah dan legenda Gua Sunyaragi, wisatawan dapat menggunakan jasa pemandu wisata dengan harga sekitar Rp.40.000 – Rp.50.000.

Fungsi dari kompleks Gua Sunyaragi selalu mengalami perubahan sesuai dengan kehendak penguasa pada zaman tersebut. Namun, tujuan utama pendirian kompleks goa ini adalah sebagai Tamansari dan tempat pembesar keraton serta prajurit melakukan pertapaan dan olah kanuragan. Nama “Sunyaragi” sendiri berasal dari kata “Sunya” yang berarti “sepi” dan “Ragi” yang berarti “raga”, sehingga makna dari “Sunyaragi” adalah tempat untuk tetirah dan meditasi.

Menikmati Keunikan Gua Sunyaragi

Memasuki kompleks Gua Sunyaragi, pengunjung akan langsung terpesona oleh desain arsitektur yang luar biasa dan sangat berkarakter. Bangunan ini melampaui zamannya dan belum ada kreasi masa kini yang mampu menandingi keistimewaannya. Seluruh bagian goa dibangun dari tumpukan batu karang, sehingga menghadirkan suasana yang magis dan seperti negeri dongeng.

Gua Sunyaragi memadukan berbagai gaya arsitektur, mulai dari Indonesia Klasik, Timur Tengah, Tiongkok Kuno, hingga Eropa. Gaya arsitektur Indonesia Klasik dapat ditemui pada tiga bangunan joglo, yaitu Gedung Pesanggrahan, Mande Beling, dan Bale Kambang. Gaya Tiongkok Kuno terlihat dari berbagai ukiran bunga, seperti bunga teratai, bunga matahari, dan bunga persik.

Pengaruh gaya arsitektur Islam atau Timur Tengah terlihat dari adanya pawudlon atau tempat wudhu, serta simbol atau tanda kiblat pada pasalatan atau mushollah. Sedangkan gaya Eropa terlihat pada bentuk jendela Bangunan Kaputren dan tangga berputar pada Gua Arga Jumud. Bangunan paling megah di kompleks Sunyaragi adalah Bangsal Jinem yang memiliki bentuk bagian belakang menyerupai Ka’bah.

Selain keunikan arsitektur, Gua Sunyaragi juga memiliki beberapa spot unik yang perlu dikunjungi. Salah satunya adalah Balai Kambang yang dahulu digunakan sebagai tempat pemain gamelan untuk menyambut tamu. Balai Kambang dahulu mengambang di atas permukaan air dan terletak di atas kolam yang luasnya sekitar setengah luas kolam renang olimpiade. Saat ini, kolam di sekeliling Balai Kambang sudah kering dan bangunan tersebut ditopang beton.

Ada juga Gua Peteng yang merupakan tempat bertapa para Sultan. Gua ini memiliki lorong yang sempit dan bagian atasnya agak rendah, sehingga pengunjung harus berjalan dengan membungkuk saat memasuki gua ini. Hal ini dilakukan sebagai penghormatan terhadap leluhur. Di depan Gua Peteng terdapat kolam dan patung “Perawan Sunti”, yang konon katanya jika disentuh akan dijauhkan dari jodoh.

BACA JUGA :  Rekomendasi Rental Scaffolding di Makassar Yang Siap Mempercepat Pekerjaan Proyek Pembangunan

Selain menikmati keindahan dan keunikan Gua Sunyaragi, pengunjung juga dapat merasakan suasana mistis yang terpancar dari setiap sudut kompleks goa ini. Mengunjungi Gua Sunyaragi adalah pengalaman yang tak terlupakan, mengingat keberadaannya sebagai salah satu karya arsitektur abad ke-17 yang masih lestari hingga saat ini.

Keindahan dan Keunikan Gua Sunyaragi di Kota Cirebon

Sejarah Singkat Gua Sunyaragi

Gua Sunyaragi adalah sebuah bangunan bersejarah yang terletak di Kota Cirebon, Jawa Barat. Bangunan ini didirikan pada abad ke-17 dan menjadi landmark arsitektur modern pada zamannya. Didesain oleh para arsitek handal, Gua Sunyaragi berhasil memadukan beberapa gaya arsitektur, seperti Indonesia Klasik, Timur Tengah, Tiongkok Kuno, dan renaissance Eropa.

Asal usul Gua Sunyaragi memiliki dua versi yang berbeda. Versi pertama berasal dari cerita turun temurun yang disampaikan oleh para Bangsawan Cirebon, yang disebut versi Carub Kanda. Menurut Carub Kanda, Gua Sunyaragi adalah Taman Sari yang dibangun untuk menggantikan Pesanggrahan Giri Nur Sapta Rengga yang kini disebut Astana Gunung Jati.

Versi kedua disebut versi Caruban Nagari yang diambil dari Buku Purwaka Caruban Nagari yang ditulis tangan oleh Pangeran Arya Carbon pada tahun 1720. Dalam buku tersebut, disebutkan bahwa Gua Sunyaragi dibangun pada tahun 1703 M pada masa pemerintahan Pangeran Kararangen yang merupakan cicit dari Sunan Gunung Jati. Versi kedua ini lebih dipercaya karena merujuk pada buku peninggalan masa lampau yang lebih bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Meskipun sudah dilakukan perombakan berulang kali, bentuk asli Gua Sunyaragi masih menjadi misteri karena tidak ada gambar cetak biru yang dapat dijadikan panduan saat melakukan renovasi. Renovasi pertama dilakukan oleh Sultan Adiwijaya pada tahun 1852 setelah Tamansari ini dihancurkan oleh Belanda pada tahun 1787. Renovasi tersebut dipimpin oleh arsitek China bernama Tan Sam Cay yang akhirnya dibunuh karena membocorkan rahasia Gua Sunyaragi kepada Belanda. Pemugaran berikutnya dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1937-1938.

Pada tahun 1976-1984, Pihak Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Sejarah dan Purbakala juga melakukan pemugaran yang ditindaklanjuti dengan observasi dan pemeliharaan terhadap kompleks Sunyaragi. Pada tahun 1997, pengelolaan goa ini diserahkan kepada Pemangku Keraton Kasepuhan. Namun, karena kurangnya biaya pemeliharaan, Sunyaragi terbengkalai selama beberapa tahun sebelum akhirnya direvitalisasi oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat pada tahun 2014.

Mengenal Sekilas Gua Sunyaragi

Gua Sunyaragi terletak di Jalan Brigjend AR Dharsono, Kelurahan Sunyaragi, Kecamatan Kesambi, Cirebon, Jawa Barat. Bangunan ini menempati lahan seluas 15 hektar dan mudah diakses karena berada di pusat Kota Cirebon. Wisatawan dapat naik becak selama kurang lebih 20 menit dari Stasiun Prujakan dan Kejaksan atau sekitar 10 menit dari Terminal Bus Cirebon. Gua Sunyaragi buka setiap hari dari pukul 08.00 hingga 17.30 WIB.

BACA JUGA :  Apa Saja Warna Jilbab Yang Cocok Dengan Baju Kuning Kunyit? Simak Ini

Harga tiket masuk untuk dapat menikmati keunikan dari situs bersejarah ini adalah Rp.10.000 per orang. Selain itu, terdapat biaya parkir sebesar Rp.2.000 untuk motor dan Rp.5.000 untuk mobil. Jika ingin mendapatkan penjelasan lebih lanjut tentang sejarah dan legenda Gua Sunyaragi, wisatawan dapat menggunakan jasa pemandu wisata dengan harga sekitar Rp.40.000 – Rp.50.000.

Gua Sunyaragi memiliki peran yang berbeda-beda selama sejarahnya. Pada awalnya, kompleks goa ini didirikan sebagai Tamansari dan tempat pembesar keraton serta prajurit melakukan pertapaan dan olah kanuragan. Nama “Sunyaragi” sendiri berasal dari kata “Sunya” yang berarti “sepi” dan “Ragi” yang berarti “raga”, sehingga makna dari “Sunyaragi” adalah tempat untuk tetirah dan meditasi.

Menikmati Keunikan Gua Sunyaragi

Gua Sunyaragi memiliki desain arsitektur yang luar biasa dan sangat berkarakter. Bangunan ini melampaui zamannya dan belum ada kreasi masa kini yang mampu menandingi keistimewaannya. Seluruh bagian goa dibangun dari tumpukan batu karang, sehingga menghadirkan suasana yang magis dan seperti negeri dongeng.

Gua Sunyaragi memadukan berbagai gaya arsitektur, mulai dari Indonesia Klasik, Timur Tengah, Tiongkok Kuno, hingga Eropa. Gaya arsitektur Indonesia Klasik terlihat pada tiga bangunan joglo, yaitu Gedung Pesanggrahan, Mande Beling, dan Bale Kambang. Gaya Tiongkok Kuno terlihat dari berbagai ukiran bunga yang meliputi bunga teratai, bunga matahari, dan bunga persik.

Pengaruh gaya arsitektur Islam atau Timur Tengah terlihat dari adanya pawudlon atau tempat wudhu, serta simbol atau tanda kiblat pada pasalatan atau mushollah. Sedangkan gaya Eropa terlihat pada bentuk jendela Bangunan Kaputren dan tangga berputar pada Gua Arga Jumud. Bangunan paling megah di kompleks Sunyaragi adalah Bangsal Jinem yang memiliki bentuk bagian belakang menyerupai Ka’bah.

Selain keunikan arsitektur, Gua Sunyaragi juga memiliki beberapa spot unik yang perlu dikunjungi. Salah satunya adalah Balai Kambang yang dahulu digunakan sebagai tempat pemain gamelan untuk menyambut tamu. Balai Kambang mengambang di atas permukaan air dan terletak di atas kolam yang luasnya sekitar setengah luas kolam renang olimpiade. Saat ini, kolam di sekeliling Balai Kambang sudah kering dan bangunan tersebut ditopang beton.

Ada juga Gua Peteng yang merupakan tempat bertapa para Sultan. Gua ini memiliki lorong yang sempit dan bagian atasnya agak rendah, sehingga pengunjung harus berjalan dengan membungkuk saat memasuki gua ini. Di depan Gua Peteng terdapat kolam dan patung “Perawan Sunti”, yang konon katanya jika disentuh akan dijauhkan dari jodoh.

Selain menikmati keindahan dan keunikan Gua Sunyaragi, pengunjung juga dapat merasakan suasana mistis yang terpancar dari setiap sudut kompleks goa ini. Mengunjungi Gua Sunyaragi adalah pengalaman yang tak terlupakan, mengingat keberadaannya sebagai salah satu karya arsitektur abad ke-17 yang masih lestari hingga saat ini.


Raka Andhika

Raka adalah seorang penulis blog perjalanan yang bersemangat dan kreatif. Raka memiliki kecakapan dalam menulis narasi perjalanan yang menarik dan informatif. Sejak usia muda, Raka sudah memiliki kegemaran menjelajahi tempat-tempat baru dan berinteraksi dengan berbagai budaya, yang kemudian mendorongnya untuk membagikan pengalaman tersebut melalui tulisan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *