Latar Belakang Berdirinya Museum Bali
Lokasi dan Informasi Umum
Museum Bali terletak di Jl. Mayor Wisnu No.1, Dangin Puri, Denpasar, Bali 80232. Untuk melihat lokasinya secara lebih jelas, Anda dapat mengakses peta dengan mengeklik disini. Museum ini memiliki jam operasional dari pukul 08.00 hingga 15.00 WITA. Jadi, pastikan Anda datang pada jam-jam tersebut untuk dapat menikmati koleksi-koleksi yang ada di dalam museum. Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi nomor telepon (0361) 222680.
Museum Bali di Denpasar tidak dapat disamakan dengan museum yang terletak di kawasan wisata Ubud. Museum Bali Denpasar memiliki koleksi seni dan sejarah yang tinggi dari kebudayaan Pulau Dewata. Koleksi-koleksi yang ada di museum ini meliputi benda-benda etnografika seperti peralatan pada masa pra-sejarah, perlengkapan upacara keagamaan dan adat, serta perkembangan seni dan budaya masyarakat Bali dari masa ke masa.
Kunjungan ke museum adalah kesempatan yang baik untuk belajar dan mengetahui lebih banyak tentang sejarah peradaban masyarakat Bali dari masa ke masa. Di dalam museum ini, Anda dapat melihat secara langsung koleksi-koleksi yang menceritakan tentang kehidupan masyarakat Bali pada masa lalu. Selain sebagai sarana untuk memperoleh pengetahuan, Museum Bali Denpasar juga sering digunakan sebagai lokasi foto pre-wedding.
Gedung Timur Lantai I: Koleksi Prasejarah dan Sejarah
Di Gedung Timur Lantai I, terdapat koleksi-koleksi benda-benda prasejarah dan sejarah yang ada di Pulau Dewata Bali. Koleksi-koleksi ini terbagi menjadi empat masa prasejarah, yaitu masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana, masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut, masa bercocok tanam, serta masa perundagian. Setiap masa prasejarah memiliki koleksi-koleksi yang menceritakan tentang kehidupan masyarakat Bali pada masa tersebut.
Selain itu, terdapat juga koleksi-koleksi benda-benda zaman sejarah yang terbagi menjadi tiga periode, yaitu zaman Bali Kuno, zaman Pertengahan, dan zaman Bali Baru. Koleksi-koleksi ini mencerminkan perkembangan seni dan budaya masyarakat Bali pada masa-masa tersebut.
Gedung Timur Lantai II: Koleksi Kebudayaan Masyarakat Bali
Di Gedung Timur Lantai II, Anda akan menemukan berbagai macam koleksi yang berhubungan dengan puncak kebudayaan masyarakat Bali dalam segala aspek kehidupan. Kebudayaan Bali memiliki ciri khas yang sangat kuat dan terasa dalam kehidupan sehari-hari masyarakatnya. Kebudayaan ini mencakup aspek kesenian, religi, tekstil, pertanian, serta teknologi modern.
Ketika ada pengaruh kebudayaan asing yang mempengaruhi masyarakat Bali, pengaruh tersebut dapat diserap dan diselaraskan dengan kebudayaan Bali yang asli. Hal ini membuat kebudayaan Bali tetap hidup dan berkembang dengan kuat. Koleksi-koleksi di Gedung Timur Lantai II mencerminkan keberagaman kebudayaan masyarakat Bali dalam segala aspek kehidupan.
Gedung Buleleng: Koleksi Alat Tukar
Gedung Buleleng merupakan salah satu gedung di Museum Bali yang memiliki koleksi pameran tentang perkembangan alat tukar pada saat pra dan setelah uang kepeng di Bali. Pada masa itu, belum ada penggunaan uang sebagai alat tukar, sehingga masyarakat masih menggunakan sistem barter. Namun, setelah orang-orang Tionghoa menggunakan uang kepeng sebagai alat tukar, penggunaannya semakin meluas dalam berbagai transaksi, termasuk pembayaran seni, kerajinan, dan permainan, serta pembuatan kerajinan uang kepeng.
Gedung Karangasem: Koleksi Cili
Di Gedung Karangasem, terdapat pameran tentang Cili, yang merupakan simbol kesuburan dan diyakini memiliki pengaruh besar dalam kehidupan masyarakat Bali. Cili memiliki ciri khas bentuk wajah runcing, kepala agak lebar, telinga dipakaikan subeng atau anting besar, dan pinggang ramping. Cili juga memiliki kain yang menutupi area pinggang hingga kaki, sehingga bentuk kakinya tidak kelihatan jelas.
Cili digunakan dalam beberapa kegiatan seperti ritual agama dan seni bangunan. Pameran di Gedung Karangasem ini memperlihatkan sejarah dan fungsinya dalam kehidupan masyarakat Bali.
Gedung Tabanan: Koleksi Mahakarya Nusantara
Gedung Tabanan merupakan gedung di Museum Bali yang memamerkan mahakarya Nusantara seperti keris serta sejarah dan fungsinya dalam berbagai aktivitas masyarakat Bali. Keris merupakan warisan budaya Nusantara yang mendapatkan pengakuan dari UNESCO pada tanggal 25 November 2005.
Dalam pembuatan keris, terdapat tiga aspek nilai yang harus diperhatikan, yaitu tuntunan, tatanan, dan tontonan. Pembuatan keris tidak bisa sembarangan, karena harus disertai dengan sentuhan rasa dan interpretasi agar memenuhi ketentuan aspek keindahan bentuknya. Pembuatan keris juga melibatkan pakem–pakem tertentu yang rumit, yang mencakup arti religius, keajaiban, dan unsur mistik.
Keris memiliki bentuk dan kelengkapan yang beragam, dan mengandung nilai tuntunan tindak laku serta makna kehidupan bagi masyarakat Bali.
Harga Tiket Masuk dan Jadwal Kunjungan
Untuk dapat masuk ke Museum Bali, Anda harus membayar tiket masuk seharga Rp. 5000,- per orang. Namun, harga tiket masuk akan berbeda jika Anda datang untuk sesi foto pre-wedding, yaitu dengan biaya tambahan sebesar Rp. 150.000.
Museum Bali Denpasar buka setiap hari kecuali hari Sabtu dan tanggal merah. Jadwal kunjungan wisata di Museum Bali Denpasar adalah sebagai berikut:
– Hari Minggu-Kamis: buka dari pukul 08.00 hingga 15.00 WITA
– Hari Jumat: buka dari pukul 08.00 hingga 12.30 WITA
Pastikan Anda datang pada jam operasional yang telah ditentukan agar dapat menikmati koleksi-koleksi yang ada di dalam museum.
Sejarah Singkat Museum Bali
Pendirian Museum Bali dimulai pada tahun 1910, ketika seorang Asisten Residen dari wilayah Bali Selatan bernama W.F.J Kroon memprakarsai ide untuk membangun Museum Etnografi sebagai tempat perlindungan bagi benda-benda warisan budaya dari kepunahan. Ide ini muncul setelah mendapatkan masukan dari Th.A. Resink, seorang ahli tentang pelestarian budaya di Bali.
Gagasan tersebut mendapat reaksi baik dari para seniman, ilmuwan, dan budayawan. Raja-raja di seluruh Bali juga memberikan dukungan penuh terhadap pendirian museum ini. Oleh karena itu, W.F.J Kroon memberikan mandat kepada Kurt Grundler, seorang arsitek asal Jerman, untuk merencanakan pembangunan museum ini bersama dengan para ahli bangunan tradisional Bali (undagi).
Pembangunan Museum Bali melibatkan kerjasama antara Kurt Grundler, para undagi seperti I Gusti Ketut Rai dan I Gusti Ketut Gede Kandel, serta para seniman, ilmuwan, dan budayawan Bali. Mereka berkolaborasi untuk menciptakan gedung museum yang selaras dengan adat istiadat Bali dan mengutamakan nilai-nilai kebudayaan dalam pembuatannya.
Gedung Museum Bali dibangun menyerupai campuran arsitektur Pura, Puri, dan istana raja. Gedung ini terdiri dari tiga halaman, yaitu halaman luar (jaba), halaman tengah (jaba tengah), dan halaman dalam (jeroan). Setiap halaman dibatasi dengan candi bentar dan candi kurung sebagai pintu masuk. Di halaman tengah terdapat Balai Kulkul atau menara kentongan, serta Balai Bengong yang berfungsi sebagai tempat peristirahatan keluarga raja.
Dalam proses pembangunannya, para undagi mengedepankan lontar asta kosala-kosali dan unsur religi sebagai patokan utama, sementara Kurt Grundler fokus pada kekuatan dan fungsi museum. Setelah segala persiapan hampir selesai, keputusan final tentang pendirian museum diambil dan bangunan museum ini akhirnya selesai dibangun.
Museum Bali Denpasar dibuka untuk umum dan menjadi jendela untuk menengok segala bentuk kebudayaan yang ada di Pulau Dewata. Pengunjung dapat melihat, mempelajari, dan membayangkan kebudayaan Bali melalui pengamatan terhadap tata pameran koleksi yang ada di dalam museum.
Museum Bali Denpasar memiliki peran penting dalam melestarikan dan menghargai warisan budaya Bali. Diharapkan masyarakat terus menjunjung tinggi tradisi dan norma yang berlaku, serta menjaga dan merawat hasil karya seni yang ada di dalam museum ini.
Sebagai tempat wisata, Museum Bali Denpasar dapat menjadi destinasi menarik untuk dikunjungi. Selain itu, di sekitar museum juga terdapat berbagai tempat menarik lainnya seperti Pura Jagatnatha, Puputan Badung, dan lapangan luas untuk bermain dan bersantai. Jadi, jangan lewatkan kesempatan untuk mengunjungi Museum Bali Denpasar saat berada di Bali.