Ketupat Jembut, Tradisi Unik Saat Lebaran di Semarang
Heading 2: Tradisi Bodo Kupat di Kota Semarang dan Jawa Tengah
Tradisi unik dalam merayakan lebaran dapat ditemukan di kota Semarang dan beberapa daerah di Jawa Tengah. Berbeda dengan umat muslim pada umumnya yang merayakan lebaran setelah menjalankan puasa Ramadan selama satu bulan penuh, masyarakat Semarang memiliki tradisi yang unik yaitu merayakan bodo kupat. Istilah “bodo” atau ba’da sendiri diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga saat menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Tradisi bodo kupat ini merupakan perayaan atas keberhasilan berpuasa sunnah selama enam hari di bulan Syawal.
Biasanya, puasa sunnah dimulai pada hari kedua lebaran atau tanggal 2 Syawal dan berakhir pada tanggal 7 Syawal. Pada tanggal 8 Syawal, para ibu-ibu di kota Semarang akan membuat ketupat jembut atau ketupat yang berisi sayuran. Ketupat ini kemudian dibagikan kepada tetangga dan anak-anak sebagai ungkapan rasa syukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah. Perayaan bodo kupat di kota Semarang jauh lebih meriah dibandingkan dengan kota-kota lainnya.
Sejak subuh, masyarakat terutama anak-anak di Semarang akan menyalakan petasan untuk menandakan dimulainya perayaan bodo kupat. Setelah itu, para ibu dan bapak-bapak akan menggantungkan ketupat di depan rumah mereka. Salah satu orang akan memukul tiang listrik sebagai pertanda bahwa pemilik rumah telah menyiapkan ketupat jembut. Anak-anak pun akan berebutan dan mendatangi setiap rumah warga yang menyediakan ketupat jembut. Beberapa warga juga meletakkan ketupat jembut di atas nampan besar sebagai simbol keberlimpahan.
Ketupat jembut memiliki perbedaan dengan ketupat pada umumnya yang biasanya disajikan dengan kuah opor atau gulai sayur. Ketupat jembut ini tidak disajikan dengan kuah apapun namun tetap lezat karena telah ditambahkan sayur-sayuran dan bumbu sebagai pelengkap rasa. Ketupat jembut juga diberikan bumbu saat dimasak untuk memberikan citarasa yang khas. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika ketupat jembut selalu menjadi rebutan anak-anak di desa sekitar Semarang. Bahkan anak-anak yang bangun terlambat pun rela berlari-larian dan berebutan untuk mendapatkan ketupat jembut.
Selain panganan khas yang hanya ditemukan saat perayaan bodo kupat, tradisi ini juga dilengkapi dengan pembagian uang. Namun, pembagian uang dalam tradisi bodo kupat memiliki perbedaan dengan pembagian uang pada umumnya. Anak-anak harus memperebutkan lembaran uang yang dilempar oleh pemilik rumah. Hal ini membuat acara bodo kupat menjadi lebih seru dan menarik. Tradisi ini dipertahankan oleh masyarakat sebagai bentuk pelestarian budaya turun-temurun. Bahkan para perantau yang pulang kampung pun ikut berpartisipasi dalam tradisi ini dengan menjadi penebar lembaran uang untuk melihat keceriaan anak-anak kampung.
Pelestarian tradisi bodo kupat tidak terlepas dari kesadaran masyarakat kota Semarang, khususnya masyarakat di kampung Janten Cilik. Masyarakat di kampung ini menganggap tradisi bodo kupat sebagai bentuk rasa syukur dan kebahagiaan. Mereka bersyukur karena telah mampu menyelesaikan kewajiban berpuasa selama sebulan penuh dan bahagia karena masih dipertemukan dengan hari kemenangan. Meskipun mereka juga merasa sedih karena berpisah dengan bulan Ramadan yang memberikan sukacita di bulan Syawal, tradisi bodo kupat dapat mengingatkan mereka akan perjalanan panjang Islam di tanah Jawa.
Seiring berjalannya waktu dan meningkatnya kesejahteraan masyarakat, tradisi bodo kupat mengalami pergeseran. Pada awalnya, tradisi ini hanya melibatkan pembagian ketupat jembut sebagai sedekah kepada tetangga. Namun, sekarang tradisi ini juga melibatkan pembagian uang atau THR kepada anak-anak yang menerima. Setelah acara berakhir, anak-anak akan duduk bergerombol untuk menghitung uang yang mereka dapatkan. Ada anak yang bahkan bisa mendapatkan jumlah uang yang cukup besar dari warga kampung. Hal ini membuat wajah mereka sumringah dan bahagia menerima THR di hari kemenangan. Tradisi bodo kupat menjadi momen yang sangat spesial bagi anak-anak ini karena hanya terjadi sekali dalam setahun dan belum tentu akan dilestarikan oleh generasi mendatang. Namun, warga kampung Janten Cilik tetap berharap agar tradisi ketupat jembut dapat terus dipertahankan sebagai bentuk ucapan syukur dan kebahagiaan serta sebagai cara untuk selalu berbagi.
Melalui tradisi bodo kupat, makna berpuasa selama sebulan penuh dapat dirasakan oleh semua warga kampung, termasuk anak-anak. Tradisi ini mengajarkan mereka untuk memegang teguh iman Islam dan memahami nilai-nilai kebersamaan serta kebaikan. Dengan demikian, tradisi bodo kupat tidak hanya sekadar perayaan keberhasilan berpuasa, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran dan pelestarian budaya yang berharga bagi masyarakat Semarang dan Jawa Tengah.