Begini Suasana Lebaran di Turki, Tradisi Negara Dengan Makanan Khas-nya
Heading 2: Perbedaan Tradisi Lebaran di Indonesia dan Turki
Perbedaan yang mencolok antara lebaran di Indonesia dan Turki dapat dilihat dari beberapa tradisi yang dilakukan oleh masyarakat kedua negara tersebut. Salah satu perbedaan yang sangat mencolok adalah pada malam takbiran. Di Indonesia, malam takbiran biasanya diisi dengan pawai yang diikuti oleh beragam penampilan takbir yang memukau. Namun, di Turki takbiran hanya dikumandangkan oleh mesjid-mesjid besar. Mesjid-mesjid di wilayah pemukiman tidak mengumandangkan takbir pada malam terakhir Ramadan. Masyarakat hanya bisa mendengar sayup-sayup lafadz Allah tersebut dari kejauhan.
Namun, meskipun takbiran tidak meriah seperti di Indonesia, WNI yang tinggal di Turki masih bisa melakukan takbiran sendiri di rumah masing-masing. Beberapa WNI umumnya mengumandangkan takbir dari jendela rumah mereka. Meskipun ada perbedaan tradisi dalam malam takbiran, ada juga perbedaan yang mencolok dalam pelaksanaan salat eid.
Di Indonesia, salat eid biasanya dilaksanakan di lapangan terbuka atau di mesjid. Pria dan wanita berbondong-bondong datang ke lokasi salat untuk melaksanakan ibadah sekali setahun tersebut. Namun, di Turki, wanita biasanya tidak melakukan salat eid maupun tarawih di mesjid. Perbedaan madzhab menyebabkan wanita di Turki tidak melaksanakan salat eid di mesjid. Jumlah rakaat tarawih di Turki tetap sama dengan di Indonesia, yaitu 11 dan 23 rakaat.
Umumnya, para wanita Tinggal di rumah atau berkumpul di sekitar taman mesjid. Sedangkan para pria terlihat salat eid berjamaah dengan pakaian terbaik mereka. Setelan jas menjadi salah satu pakaian yang umum dikenakan oleh para pria Turki. Sedangkan WNI terlihat mengenakan baju koko atau batik untuk menghadiri shalat eid fitri.
WNI wanita juga memiliki opsi untuk mengunjungi KBRI untuk mengikuti salat eid tahunan. Selain di KBRI, sudut mesjid Sultan Ahmet atau Blue Mosque juga bisa dijadikan tempat salat eid bagi wanita. Namun, sebagian besar wanita yang melaksanakan salat eid di Turki adalah WNI. Setelah melaksanakan salat eid, orang-orang akan berkumpul di sekitar taman sembari menggelar tikar dan menyantap makanan.
Tradisi ini hampir mirip dengan piknik, di mana beberapa keluarga membawa bekal makanan dari rumah masing-masing. Beberapa WNI juga memanfaatkan momen ini untuk bercengkrama bersama. Mereka membawa makanan khas Indonesia sebagai pengobat rindu akan tanah air.
Heading 3: Tradisi Unik di Hari Raya Idul Fitri di Turki
Selain tradisi-tradisi yang telah disebutkan sebelumnya, ada beberapa tradisi unik yang dilakukan oleh masyarakat Turki dalam merayakan hari raya Idul Fitri. Salah satunya adalah tradisi memberikan Turki delight dan beberapa cemilan secara gratis kepada orang-orang di luar mesjid Sultan Ahmet. Tradisi ini sudah dilakukan secara turun-temurun sebagai bentuk berbagi di hari yang bahagia.
Selain itu, tradisi pemberian angpao di Idul Fitri di Turki juga berbeda dengan di Indonesia. Di Indonesia, angpao biasanya dibagi-bagikan usai salat eid. Namun, di Turki, anak-anak biasanya akan berkeliling membawa kantong tepat di malam takbiran. Mereka akan mengetuk pintu-pintu tetangga sekitar sambil menyodorkan kantong tersebut. Pemilik rumah bisa memberikan apapun yang mereka sediakan, seperti permen, coklat, uang, atau kacang sebagai hadiah kepada anak-anak tersebut.
Tradisi ini cukup unik, karena tidak melulu angpao berupa uang, tetapi anak-anak akan senang mendapati kantong mereka terisi penuh permen dan coklat. Setelah tradisi unik tersebut selesai, jalanan akan kembali lengang dari hiruk pikuk kehidupan sehari-hari. Tradisi mudik tetap ada di Turki, terutama di beberapa daerah yang mayoritas penduduknya adalah pendatang. Masyarakat akan mudik ke kampung halaman mereka beberapa hari sebelum lebaran tiba. Oleh karena itu, tidak heran jika beberapa jalanan di sekitar tempat tinggal menjadi benar-benar lengang. Namun, ketika mendatangi pusat keramaian seperti Blue Mosque atau pusat kota, kita dapat menemui kepadatan masyarakat lainnya.
Bagi mereka yang tidak pulang, menaiki kapal pesiar mengarungi Selat Bosphorus bisa menjadi hiburan yang menyenangkan. Di pinggiran pantai, kita akan menemukan penjual beragam camilan khas Turki yang dapat dengan mudah ditemui. Ada ikan asap, kebab, atau teh Turki yang sudah terkenal di seluruh negeri.
Dalam kesimpulan, terdapat perbedaan tradisi dalam merayakan Idul Fitri antara Indonesia dan Turki. Di Indonesia, malam takbiran diisi dengan pawai dan penampilan takbir yang memukau, sedangkan di Turki takbiran hanya dikumandangkan oleh mesjid-mesjid besar. Perbedaan juga terlihat dalam pelaksanaan salat eid, di mana wanita di Turki tidak melaksanakan salat eid di mesjid. Terdapat juga tradisi unik di Turki, seperti memberikan Turki delight dan cemilan secara gratis di luar mesjid Sultan Ahmet serta pemberian angpao kepada anak-anak dengan cara berkeliling dan mengetuk pintu tetangga. Meskipun terdapat perbedaan dalam tradisi, semangat dan kebahagiaan dalam merayakan Idul Fitri tetap sama, yaitu menyambut hari kemenangan dengan penuh suka cita.