Inilah 3 Perbedaan Lebaran Jaman Dulu dan Sekarang
Malam Takbiran
Jaman Dulu
Malam takbiran di tahun 90-an memiliki keistimewaan tersendiri. Pada malam terakhir bulan Ramadan, suasana di kampung menjadi begitu ramai dan meriah. Semua warga berkumpul di masjid atau mushola untuk melaksanakan sholat Isya berjamaah. Setelah sholat, takbir keliling dilakukan dengan berjalan kaki berkeliling kampung.
Takbir keliling ini dilakukan dengan penuh antusiasme oleh semua warga. Mereka membawa obor sebagai penerang jalan dan mengiringi takbir dengan kentongan dari batang bambu. Beberapa warga juga membawa bedug untuk menambah semaraknya takbir keliling. Suara takbir yang berkumandang dari masjid, mushola, dan masyarakat yang berkeliling memberikan nuansa yang sangat meriah dan menyenangkan.
Jaman Sekarang
Perayaan takbir keliling saat ini sudah mengalami perubahan yang cukup signifikan. Takbir keliling tidak lagi dilakukan dengan berjalan kaki berkeliling kampung. Namun, telah menjadi sebuah pawai yang lebih meriah dan spektakuler. Warga tidak hanya berkeliling di kampung, tetapi juga di area perkotaan dengan menggunakan kendaraan seperti mobil, motor, pick up, bahkan truk.
Sebelum malam takbiran tiba, warga sudah mempersiapkan kendaraan yang akan digunakan dalam pawai takbir keliling. Mobil-mobil dihias dengan sangat indah dan menarik, dengan bentuk kubah yang terbuat dari kertas warna-warni. Tak lupa, sound system dan bedug juga dipasang di dalam mobil. Begitu malam takbiran tiba, masyarakat naik ke dalam mobil atau motor mereka dan berkeliling menuju kecamatan atau kabupaten, serta bergabung dengan rombongan takbir keliling dari kampung lainnya.
Suara takbir yang dikumandangkan saling bersahutan diiringi dengan suara deru mobil dan ratusan motor yang melintas. Perayaan takbir keliling saat ini juga diwarnai dengan letusan kembang api yang menghiasi langit. Semua ini membuat perayaan takbir keliling menjadi semakin meriah dan spektakuler.
Lebaran Hari Pertama
Jaman Dulu
Hari pertama lebaran di tahun 90-an memiliki tradisi yang sangat kental dengan nilai-nilai kekeluargaan dan silaturahmi. Setelah melaksanakan sholat Idul Fitri, kegiatan pertama yang dilakukan adalah saling bersalam-salaman dan meminta maaf kepada keluarga terdekat, seperti ayah, ibu, kakek, nenek, adik, dan kakak.
Setelah itu, para pemuda dan pemudi keluar rumah untuk bergabung dengan teman-teman mereka. Mereka membentuk kelompok kecil dan bersama-sama mengunjungi rumah-rumah warga desa. Tujuan utama dari kunjungan ini adalah untuk meminta maaf, bermaafan, dan saling berbagi kebahagiaan di hari yang penuh berkah ini. Anak-anak dan remaja juga mengincar makanan enak dan angpau dari orang-orang terpandang di desa.
Jaman Sekarang
Perayaan lebaran hari pertama saat ini memiliki perbedaan yang cukup mencolok dengan jaman dulu. Begitu pulang dari sholat Idul Fitri, kebanyakan orang langsung mengambil handphone mereka dan mulai berkirim pesan ucapan lebaran melalui berbagai aplikasi chat seperti BBM, Line, dan Whatsapp. Facebook, Instagram, Twitter, dan media sosial lainnya juga dipenuhi dengan ucapan lebaran dari satu orang ke orang lainnya.
Setelah itu, barulah saling bersalam-salaman dengan keluarga. Namun, kunjungan ke rumah tetangga lebih terbatas hanya pada tetangga dekat saja. Jika ingin berkunjung ke rumah tetangga yang jauh, biasanya menggunakan kendaraan seperti motor atau mobil. Tradisi mengunjungi rumah-rumah warga desa secara berkelompok dengan berjalan kaki seperti jaman dulu sudah jarang dilakukan.
Kue Lebaran
Jaman Dulu
Kue lebaran di tahun 90-an memiliki keunikan tersendiri. Sebelum Idul Fitri tiba, nenek-nenek sudah mulai mempersiapkan segala keperluan untuk membuat kue lebaran. Mereka menghabiskan waktu dua minggu sebelum Idul Fitri untuk menjemur kerupuk atau rengginang, mengupas kulit kacang, dan melakukan persiapan lainnya.
Ibu-ibu juga sibuk membuat kue-kue tradisional seperti wajik, tape ketan, keripik, kuping gajah, rempeyek, dan berbagai jajanan khas lebaran. Semua kue lebaran ini dihasilkan dari tangan-tangan terampil nenek dan ibu sendiri, sehingga aroma dan cita rasanya berbeda-beda di setiap rumah.
Jaman Sekarang
Perubahan zaman juga membawa perubahan dalam tradisi pembuatan kue lebaran. Kini, tidak banyak keluarga yang membuat kue lebaran sendiri. Kesibukan sehari-hari membuat banyak orang lebih memilih untuk membeli kue lebaran di pasar, mall, atau bahkan toko online. Kue-kue kering dengan berbagai bentuk dan rasa yang lucu sudah menjadi pilihan utama.
Kue lebaran yang dibeli ini biasanya memiliki rasa yang seragam dan tidak terlalu banyak variasi. Hal ini dikarenakan kue-kue lebaran yang dijual massal diproduksi dengan cara yang sama di berbagai tempat sehingga memberikan rasa yang seragam. Selain itu, banyaknya kue yang dibeli juga membuat kue lebaran seringkali tidak habis dan hanya dicicipi sebagai formalitas menghormati tuan rumah.
Itulah beberapa perbedaan antara lebaran jaman dulu dengan lebaran jaman sekarang. Meskipun ada perbedaan dalam tradisi dan cara merayakan, lebaran tetap menjadi momen yang penuh kebahagiaan dan kebersamaan bagi semua umat Muslim. Semoga semangat silaturahmi dan kebersamaan ini tetap terjaga dalam setiap perayaan lebaran, tidak peduli jaman berapapun.