PERGIMULU.COM

Mau Pergi Liburan Kemana? Cari info di pergimulu.com saja!

Keunikan Pura Lingsar

Blog

Bukan Pantai

Objek Wisata Budaya dan Religi: Pura Lingsar

Lombok, salah satu pulau di Indonesia yang terkenal dengan keindahan pantainya. Namun, tidak hanya pantaipantai yang menarik di Lombok. Ada juga objek wisata budaya dan religi yang menarik untuk dikunjungi, yaitu Pura Lingsar. Pura Lingsar terletak di Jalan Gora 2, Desa Lingsar, Kecamatan Lingsar, Lombok Barat, NTB 83237. Lokasinya dapat diakses dengan mudah dan dapat ditemukan di peta. Pura Lingsar memiliki jam buka dari pukul 07.00 hingga 17.00 dan tidak ada biaya tiket untuk masuk ke tempat ini. Meskipun tidak ada nomor telepon yang tersedia, pengunjung dapat menghubungi pihak berwenang terkait informasi lebih lanjut.

Sejarah Singkat Pura Lingsar

Pura Lingsar memiliki sejarah yang menarik dan unik. Pura ini pertama kali didirikan pada tahun 1759 oleh Raja Ketut Karangasem Singosari. Pembangunan pura ini bertujuan untuk mempersatukan masyarakat Sasak dan Bali yang tinggal di Lombok secara batiniah. Pura Lingsar sendiri terletak bersebelahan dengan Kemaliq Lingsar, tempat pemujaan masyarakat Sasak sejak lama.

Sejarah berdirinya pura ini bermula dari kunjungan sekelompok orang dari Karangasem, Bali ke Lombok. Mereka mendarat di pantai dekat Gunung Pengsong dan melanjutkan perjalanan ke Perampuan, Pagutan, dan Pagesangan. Ketika rombongan ini berjalan kaki menuju Punikan, mereka merasa lapar dan haus. Mereka pun mencari sumber suara gemuruh dan letusan yang mereka dengar, dan menemukan sebuah mata air. Kemudian, ada wahyu yang mengatakan bahwa jika mereka telah menaklukkan Lombok, mereka harus membangun pura di sana. Mata air tersebut kemudian dinamakan Ai’ Mual yang berarti air yang mengalir. Namun, nama ini kemudian berubah menjadi Lingsar yang berarti “wahyu yang jelas”.

BACA JUGA :  Food Junction Grand Pakuwon Surabaya, Wisata dan Kuliner Murah!

Pura Lingsar menjadi tempat bersatunya dua agama, yaitu umat Muslim dan Hindu. Meskipun keduanya memiliki latar belakang budaya dan keyakinan yang berbeda, mereka hidup berdampingan dan menjalankan ritus masing-masing tanpa perselisihan. Hal ini menunjukkan toleransi dan kerukunan antarumat beragama yang ada di Lombok.

Deskripsi Ritual Pura Lingsar

Pura Lingsar merupakan pura tertua dan terbesar di Pulau Seribu Masjid. Di dalam kompleks Pura Lingsar terdapat dua bangunan utama, yaitu Pura Ulon dan Pura Gaduh. Pura Ulon terletak di sisi timur kompleks, sedangkan Pura Gaduh terletak di dalam kompleks taman dan biasa disebut sebagai Pura Lingsar. Kompleks Pura dan Kemaliq Lingsar ini memiliki luas sekitar 26 hektar.

Di dalam kompleks Pura Lingsar terdapat beberapa bangunan suci yang digunakan sebagai tempat upacara dan pemujaan. Beberapa bangunan tersebut antara lain Bale Banten, Pararianan, Pawedaan, Penyungsungan Betara Alit Sakti di Bukit, Penyungsungan Betara Gunung Agung, dan Betara Ngerurah. Setiap tahun, umat Hindu dan umat Sasak melakukan upacara Perang Topat dan Upacara Odalan atau Pujawali di Pura Lingsar. Perang Topat adalah upacara yang dilakukan dengan saling melempar ketupat sebagai ungkapan rasa syukur pada Sang Pencipta atas segala berkah dan karunia yang diberikan-Nya.

Selain bangunan suci, di kompleks Pura Lingsar juga terdapat pancuran air yang berderet sebanyak tujuh buah. Masyarakat setempat percaya bahwa siapa pun yang mencuci muka di pancuran tersebut akan awet muda. Hal ini menunjukkan adanya kepercayaan dan tradisi yang masih dijaga oleh masyarakat sekitar.

Memberi Makan Ikan di Pura Lingsar

Ketika pengunjung memasuki pintu gerbang Pura Lingsar, mereka akan ditawari untuk membeli telur asin rebus dengan harga Rp.10.000 untuk 3 butir telur. Telur ini nantinya akan digunakan untuk memberi makan ikan-ikan yang hidup di kolam Telaga Ageng yang berada di dalam kompleks Pura Lingsar. Kolam Telaga Ageng dibuat sebagai bentuk penghormatan kepada Dewa Wisnu. Di dalam kolam, pengunjung akan melihat banyak koin yang dilemparkan oleh para tamu, sebagai bentuk permohonan kemudahan rejeki dari Tuhan.

BACA JUGA :  10 Rekomendasi Pilihan Toko Alat Pancing Terlengkap di Wilayah Magelang, Yang Mana Favoritmu?

Di kolam tersebut terdapat banyak ikan yang unik. Ikan-ikan ini akan muncul dari celah-celah kecil di sekitar kolam ketika dipanggil oleh pawang ikan. Pawang ikan, yang bernama Ibu Nur, akan mengupas telur asin dan membuangnya ke kolam sambil menepuk-nepuk dinding kolam agar ikan-ikan mau muncul ke permukaan. Ritual memberi makan ikan ini menambah kesan magis dan mistis dari Pura Lingsar.

Harga Tiket Masuk Pura Lingsar

Ketika pengunjung memasuki pintu masuk Pura Lingsar, mereka hanya diminta untuk mengisi buku tamu dan memberikan sumbangan seikhlasnya sebagai ganti tiket masuk. Hal ini menunjukkan bahwa Pura Lingsar bukan hanya tempat wisata, tetapi juga tempat ibadah yang terbuka untuk umum. Setelah itu, pengunjung akan diberi selendang berwarna kuning yang harus diikatkan di pinggang sebagai tanda penghormatan dan perlindungan terhadap keperawanan pura.

Dengan mengunjungi Pura Lingsar, pengunjung dapat menikmati wisata religi yang menarik sekaligus belajar tentang sejarah, keunikan, dan misteri yang melingkupinya. Atmosfer yang tenang dan damai di Pura Lingsar juga memberikan kesempatan bagi pengunjung untuk merenung dan memahami makna toleransi dan kerukunan antarumat beragama.

Dalam kunjungan ke Pura Lingsar, pengunjung juga dapat mempelajari tentang budaya dan tradisi masyarakat Sasak yang masih dijaga dengan baik. Melalui upacara Perang Topat dan Upacara Odalan atau Pujawali, pengunjung dapat melihat bagaimana masyarakat Lombok mempertahankan tradisi dan kepercayaan mereka.

Pura Lingsar merupakan tempat yang sekaligus memperlihatkan keindahan alam dan kekayaan budaya yang dimiliki oleh masyarakat Lombok. Dengan menjaga kelestarian pura ini, kita juga ikut menjaga dan melestarikan warisan budaya yang berharga bagi generasi mendatang. Mari kunjungi Pura Lingsar dan rasakan keajaibannya sendiri!


Raka Andhika

Raka adalah seorang penulis blog perjalanan yang bersemangat dan kreatif. Raka memiliki kecakapan dalam menulis narasi perjalanan yang menarik dan informatif. Sejak usia muda, Raka sudah memiliki kegemaran menjelajahi tempat-tempat baru dan berinteraksi dengan berbagai budaya, yang kemudian mendorongnya untuk membagikan pengalaman tersebut melalui tulisan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *