PERGIMULU.COM

Mau Pergi Liburan Kemana? Cari info di pergimulu.com saja!

Istana Maimun Medan, Sejarah Peninggalan Kerajaan?

Blog

Lokasi dan Keindahan Istana Maimun

Istana Maimun terletak di Jl. Brigjend Katamso, Kelurahan Sukaraja, Kecamatan Medan Maimun, Kota Medan, Sumatera Utara 20151. Lokasi istana ini sangat strategis dan mudah dijangkau, baik dengan kendaraan pribadi maupun transportasi umum. Bagi wisatawan yang datang dari luar daerah, dapat menggunakan pesawat dan turun di Bandara Internasional Kualanamu yang berjarak sekitar 40 km dari istana. Sedangkan bagi yang menggunakan kapal, dapat merapat di Pelabuhan Belawan yang berjarak sekitar 28 km dari lokasi istana.

Istana Maimun memiliki keindahan yang memukau dengan corak arsitektur yang unik dan megah. Bangunan istana ini memiliki luas sekitar 2.772 meter persegi dengan panjang 75,5 meter dan tinggi bangunan 14,4 meter. Istana ini dikelilingi oleh halaman seluas 4,5 hektar yang memberikan suasana yang asri dan nyaman bagi pengunjung. Bagian eksterior istana didominasi oleh warna kuning yang melambangkan kebesaran Suku Melayu. Warna kuning tersebut tidak hanya terlihat pada bagian eksterior, tetapi juga memenuhi interior ruangan istana.

Saat memasuki bagian dalam istana, pengunjung akan terpesona dengan keindahan desain interior yang memadukan berbagai unsur arsitektur. Gaya arsitektur Melayu, Islam (Timur Tengah), Mughal, dan Hispanik terlihat jelas pada dinding, lantai, pilar-pilar, dan setiap sudut ruangan. Bahan-bahan yang digunakan untuk membangun istana ini sangat istimewa, seperti marmer, ubin lantai, teraso, dan bahan lainnya yang memberikan kesan mewah dan eksklusif. Selain itu, perabotan istana seperti lampu kristal, almari, meja, kursi, dan peralatan makan juga sangat mewah dan indah.

Di dalam istana terdapat 40 ruangan yang terbagi menjadi dua lantai. Bagian tengah ruangan terdapat Singgasana Sultan Deli yang merupakan pusat dari kekuasaan Kesultanan Deli. Singgasana ini memiliki dominasi warna kuning dengan hiasan lampu kristal bergaya Eropa yang memberikan kesan megah dan anggun. Bagian atap istana memiliki bentuk melengkung yang disebut dengan Pilar Persia yang mengisyaratkan nuansa Islam yang kental di Kesultanan Deli. Selain itu, terdapat juga ruangan-ruangan lain yang dipenuhi dengan foto-foto Sultan Deli dan anggota keluarga kesultanan.

BACA JUGA :  Kapal Garden Hotel Malang, Penginapan Keren Dengan Konsep Pelaut Mulai Dari Harga Rp402.489

Keindahan Istana Maimun dapat dinikmati oleh wisatawan dengan membayar tiket seharga Rp.5.000 untuk dewasa dan Rp.3.000 untuk anak-anak. Istana ini buka setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 17.00 WIB. Dengan harga tiket yang cukup terjangkau, wisatawan tidak hanya dapat menikmati keindahan bangunan istana dan koleksi peninggalan Kesultanan Deli, tetapi juga dapat mengambil foto-foto indah di setiap sudut ruangan istana.

Sejarah dan Mitos Kesultanan Deli

Kesultanan Deli memiliki sejarah yang panjang dan kaya akan mitos dan legenda yang masih dipercaya oleh masyarakat. Berdasarkan catatan sejarah, Kesultanan Deli didirikan oleh Sri Paduka Gocah Pahlawan pada tahun 1632. Pada awalnya, Kesultanan Deli berpusat di Tanah Deli yang kini ditempati oleh Kota Medan dan Kabupaten Deli Serdang. Kesultanan Deli merupakan salah satu kesultanan besar di Sumatera yang memiliki kekuatan politik dan ekonomi yang kuat.

Berbagai catatan sejarah dan literatur telah ditulis tentang Kesultanan Deli, baik dalam Bahasa Melayu maupun dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Namun, selain catatan sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, beredar pula berbagai cerita mitos dan legenda yang masih menjadi misteri di tengah-tengah masyarakat.

Salah satu mitos yang berkembang di tengah-tengah masyarakat adalah mitos tentang kisah Meriam Puntung atau Meriam Buntung. Menurut cerita yang berkembang, meriam ini berkaitan dengan Kerajaan Aceh sebelum Kesultanan Deli dibangun. Dalam cerita tersebut diceritakan bahwa Raja Kerajaan Aru memiliki dua orang putra dan seorang putri cantik bernama Putri Hijau. Raja Aceh yang mendengar kabar tentang kecantikan Putri Hijau berniat untuk mempersuntingnya. Namun, pinangan Raja Aceh ditolak oleh Putri Hijau, sehingga Raja Aceh memutuskan untuk menyerang Kerajaan Aru. Dalam peperangan tersebut, Kerajaan Aru berhasil ditaklukkan oleh pasukan Aceh. Putri Hijau yang tidak ingin menjadi tawanan perang, merubah diri menjadi sebatang meriam dan menembak ke segala arah. Akibat seringnya menembak, meriam tersebut akhirnya meledak dan terbagi menjadi dua. Bagian depan meriam terlontar ke Tanah Karo, sedangkan sisanya terpental ke Labuhan Deli.

BACA JUGA :  Patut Dicoba, Inilah 10 Tempat Makan Mie Ayam Enak di Jakarta

Di samping mitos tentang Meriam Puntung, masih banyak mitos-mitos lain yang berkembang di tengah-tengah masyarakat tentang Kesultanan Deli dan Istana Maimun. Salah satu mitos yang menarik adalah tentang adanya terowongan bawah tanah di bawah Istana Maimun. Konon, terowongan tersebut menghubungkan kawasan Kota Matsum dengan Taman Sri Deli dan Masjid Raya Al-Mahsun. Namun, keberadaan terowongan tersebut masih menjadi tanda tanya bagi masyarakat umum karena hanya orang-orang tertentu yang diperbolehkan memasuki terowongan tersebut.

Peranan Kesultanan Deli dalam Mempertahankan Budaya Melayu

Keberadaan Kesultanan Deli memiliki peranan yang sangat penting dalam mempertahankan budaya Melayu di Sumatera Utara. Kesultanan Deli tidak hanya menjadi pusat pemerintahan politik dan ekonomi, tetapi juga menjadi pusat pelestarian adat istiadat dan budaya Melayu.

Dalam Kesultanan Deli, berbagai upacara adat dan aktifitas budaya Melayu masih terjaga dan terpelihara dengan baik. Setiap malam Jumat, diadakan acara Rawatib Adat yang merupakan semacam wiridan dan berdoa bersama. Selain itu, juga dilakukan Silaturahmi antar Keluarga Besar Kesultanan yang digelar 2 kali dalam setahun, upacara pernikahan, dan berbagai aktifitas adat dan budaya Melayu lainnya.

Kesultanan Deli juga memberikan pengaruh yang besar dalam mempertahankan kebudayaan Melayu. Hal ini terbukti dengan digelarnya Festival Keraton Nusantara XI di Istana Maimun pada tanggal 26 November 2024. Festival ini dihadiri oleh Presiden Jokowi yang menyampaikan bahwa kekayaan adat istiadat dan budaya bukan hanya memiliki nilai estetika yang tinggi, tetapi juga memiliki pesan-pesan simbolik yang kaya akan makna dan dapat dijadikan sebagai landasan etik dalam kehidupan sehari-hari.

Keindahan Masjid Al Mahsun

Setelah mengunjungi Istana Maimun, wisatawan dapat melanjutkan perjalanan ke Masjid Al Mahsun yang berjarak sekitar 100 meter dari istana. Masjid ini merupakan bagian dari sisa-sisa kejayaan Kesultanan Deli dan juga dibangun oleh Sultan Mahmud Al-Rasyid Perkasa Alamsyah.

BACA JUGA :  10 Toko Elektronik di Depok Yang Bisa Jadi Pilihan Bagus Untuk Belanja

Masjid Al Mahsun memiliki keindahan yang tak kalah menakjubkan dengan Istana Maimun. Masjid ini memiliki bentuk segi delapan dan dilengkapi dengan sayap di semua penjuru mata angin. Gaya arsitektur masjid ini memadukan gaya Melayu, Maroko, Timur Tengah, dan Eropa. Seluruh ornamen pada masjid ini berhias bunga dan tetumbuhan yang memberikan kesan anggun dan indah.

Keindahan masjid ini juga terlihat pada bahan-bahan yang digunakan dalam pembangunannya. Batu marmer untuk dekorasi didatangkan dari Italia dan Jerman, kaca patri diimport dari China, dan lampu dari Perancis. Selain itu, jendela-jendela masjid terbuat dari kayu dan kaca patri yang merupakan sisa peninggalan Art Nouveau. Interior masjid ini juga didesain dengan sangat indah dengan menggunakan bahan-bahan yang mewah dan eksklusif.

Dalam sejarahnya, Sultan Mahmud Al-Rasyid Perkasa Alamsyah pernah mengatakan bahwa kemegahan masjid jauh lebih utama dibandingkan kemegahan istana. Hal ini terbukti dengan keindahan Masjid Al Mahsun yang menjadi salah satu simbol kebesaran Kesultanan Deli.

Kesimpulan

Istana Maimun dan Masjid Al Mahsun merupakan dua objek wisata yang tidak boleh dilewatkan saat berkunjung ke Medan. Kedua tempat ini tidak hanya menyajikan keindahan corak arsitektur yang luar biasa, tetapi juga menjadi pijakan untuk mempelajari adat istiadat dan budaya Melayu. Keberadaan Kesultanan Deli memiliki peranan yang sangat penting dalam mempertahankan budaya Melayu di Sumatera Utara. Dengan mengunjungi Istana Maimun dan Masjid Al Mahsun, wisatawan dapat merasakan keindahan dan kebesaran Kesultanan Deli serta mempelajari lebih lanjut tentang adat istiadat dan budaya Melayu.


Raka Andhika

Raka adalah seorang penulis blog perjalanan yang bersemangat dan kreatif. Raka memiliki kecakapan dalam menulis narasi perjalanan yang menarik dan informatif. Sejak usia muda, Raka sudah memiliki kegemaran menjelajahi tempat-tempat baru dan berinteraksi dengan berbagai budaya, yang kemudian mendorongnya untuk membagikan pengalaman tersebut melalui tulisan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *