Bendungan Karangkates, Terletak di Kecamatan Sumberpucung Kabupaten Malang Dibangun Tahun 1975
Tujuan Dibangunnya
Bendungan Karangkates, juga dikenal sebagai Bendungan Sutami, merupakan salah satu bendungan terbesar di Indonesia. Dibangun di Desa Karangkates, Kecamatan Sumber Pucung, Kabupaten Malang, bendungan ini memiliki tujuan utama sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Namun, selain sebagai PLTA, bendungan ini juga memiliki beberapa fungsi lain yang mengiringi keberadaannya.
Salah satu fungsi penting bendungan ini adalah sebagai pengendali banjir. Dengan memanfaatkan aliran Sungai Brantas, bendungan ini dapat mengendalikan debit air yang masuk ke wilayah sekitarnya saat terjadi banjir. Hal ini sangat membantu dalam menjaga keamanan dan keselamatan masyarakat sekitar bendungan.
Selain itu, bendungan ini juga berperan dalam sistem irigasi persawahan. Dengan mengatur aliran air dari bendungan, petani di sekitar bendungan dapat memanfaatkannya untuk mengairi lahan pertanian mereka. Hal ini sangat penting dalam meningkatkan produktivitas pertanian di daerah tersebut.
Selain dua fungsi utama tersebut, bendungan Karangkates juga memiliki potensi sebagai tempat budidaya ikan darat. Dengan adanya kolam raksasa di sekitar bendungan, petani ikan dapat memanfaatkannya untuk membudidayakan ikan secara intensif. Hal ini tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga dapat membantu dalam menjaga ketersediaan ikan di daerah tersebut.
Selain fungsi-fungsi di atas, bendungan Karangkates juga dijadikan sebagai objek pariwisata. Hal ini bukanlah sesuatu yang mengherankan, mengingat panorama indah yang disajikan di sekitar bendungan ini. Dikelilingi oleh hamparan kolam raksasa yang dikelilingi pepohonan rindang dan bebukitan, pemandangan di sekitar bendungan ini sangat memukau dan menenangkan.
Bendungan Karangkates bukanlah satu-satunya bendungan di Indonesia yang juga berfungsi sebagai objek pariwisata. Ada beberapa bendungan raksasa lainnya di Indonesia yang juga menawarkan keindahan alam yang luar biasa. Beberapa di antaranya adalah Waduk Kedungombo dan Gajah Mungkur di Jawa Tengah, Waduk Jatiluhur dan Jatigede di Jawa Barat, serta Waduk Batutegi di Lampung. Selain itu, ada juga Bendungan Tilon di Nusa Tenggara Timur, Waduk Riam Kanan di Kalimantan Selatan, dan Waduk Sigura-gura di Sumatera Utara.
Namun, Bendungan Karangkates memiliki daya tarik sendiri yang membuatnya selalu ramai dikunjungi oleh wisatawan. Terletak di tepi jalan yang menghubungkan dua kota besar di Jawa Timur, yaitu Malang dan Blitar, bendungan ini sangat mudah dijangkau oleh wisatawan baik menggunakan kendaraan pribadi maupun angkutan umum.
Bagi wisatawan yang menggunakan kendaraan pribadi, dari pusat kota Malang, mereka dapat melewati jalan yang menuju ke Kepanjen dan berlanjut ke Kecamatan Sumber Pucung. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, mereka akan tiba di lokasi bendungan. Jarak antara Bendungan Karangkates dan Kota Malang sekitar 35 km atau sekitar 16 km di sebelah Barat Gunung Kawi.
Sedangkan bagi wisatawan yang berasal dari Blitar, mereka dapat melewati daerah Wlingi sebelum sampai di Bendungan Sutami. Bagi mereka yang menggunakan angkutan umum, wisatawan dapat naik bus di Kepanjen atau menggunakan mikrolet JDL dari terminal Landungsari menuju Junrejo dan turun di dekat waduk. Sedangkan untuk wisatawan yang berangkat dari Blitar, mereka dapat menggunakan kereta api dari Stasiun Blitar menuju Malang dan turun di Stasiun Sumberpucung. Setelah itu, mereka dapat melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju JL. Jenderal Sudirman untuk mencari bus atau angkot yang menuju ke arah bendungan.
Dengan lokasinya yang strategis, Bendungan Karangkates tidak pernah sepi dari pengunjung. Selain diminati oleh para wisatawan yang ingin menikmati keindahan alam, bendungan ini juga sering dijadikan sebagai persinggahan bagi mereka yang melakukan perjalanan dari Blitar menuju Malang atau sebaliknya. Dengan panorama yang memukau dan akses yang mudah, tidak heran jika bendungan ini menjadi salah satu objek wisata yang populer di Jawa Timur.
Selayang Pandang
Bendungan Karangkates dibangun sepanjang tahun 1975 – 1977 dengan anggaran sebesar USD 37,97 juta atau sekitar Rp.10.093 Milyar. Bendungan ini diresmikan penggunaannya pada 4 September 1977 oleh Presiden ke-2 RI, Soeharto, dan diberi nama Bendungan Sutami sebagai bentuk penghargaan kepada Prof. Dr. Ir. Sutami atas jasanya bagi pembangunan di Indonesia.
Bendungan Karangkates menempati lahan seluas 6 hektar dan dimanfaatkan untuk PLTA dengan kapasitas 3 x 35 megawatt (MW). Dengan kapasitas tersebut, bendungan ini dapat memproduksi listrik hingga 400 juta kwh per tahun. Selain sebagai PLTA, bendungan ini juga dimanfaatkan untuk mengendalikan banjir, budidaya perikanan darat, dan irigasi bagi 34.000 hektar persawahan di daerah hilir.
Selama perkembangannya, bendungan Karangkates dilengkapi dengan berbagai fasilitas dan sarana olahraga. Di sekitar bendungan, terdapat kolam pemancingan ikan, lapangan golf, dan lapangan tenis yang dapat digunakan oleh pengunjung. Selain itu, bendungan ini juga menjadi objek pariwisata yang menawarkan berbagai wahana dan aktivitas menarik.
Namun, dibalik keindahan dan fungsi-fungsi yang dimiliki oleh Bendungan Karangkates, terdapat beberapa misteri yang sulit untuk diterima oleh akal. Dalam proses pembangunannya, bendungan ini diwarnai dengan berbagai fenomena alam yang sulit untuk dijelaskan secara logis. Salah satu contohnya adalah fenomena Watu Tumpuk atau Batu Bertumpuk.
Sebelum Bendungan Karangkates dibangun, Watu Tumpuk berada di tengah aliran sungai. Ketika air Sungai Brantas pasang, Watu Tumpuk diterjang oleh arus air dan saat surut, batu tersebut menjadi pusaran air yang digunakan sebagai tempat minum Banteng. Karena itulah tempat tersebut disebut Kedung Banteng.
Namun, ketika pembangunan bendungan dimulai, Watu Tumpuk mengganggu jalannya proyek. Upaya untuk menghancurkan batu tersebut dengan menggunakan dinamit tidak berhasil, bahkan alat berat seperti buldozer tidak mampu menggeser atau mengangkatnya. Para pekerja proyek pun merasa tidak nyaman dan takut, sehingga tidak ada yang mau mengerjakan tugas tersebut.
Akhirnya, pimpinan proyek memutuskan untuk membiarkan Watu Tumpuk tetap berada di tempatnya semula dan menjadikannya sebagai bagian dari bangunan bendungan. Bangunan bendungan sedikit dipindahkan ke arah Timur untuk mengakomodasi keberadaan Watu Tumpuk. Watu Tumpuk juga dijadikan sebagai monumen dan dikenal sebagai Mustika dari Bendungan Karangkates.
Menikmati Keindahan
Bendungan Karangkates tidak hanya menawarkan keindahan alam yang luar biasa, tetapi juga berbagai aktifitas menarik yang dapat dinikmati oleh pengunjung. Terletak di pinggir jalan raya yang menghubungkan Malang dengan Blitar, bendungan ini sering menjadi tempat pemberhentian dan persinggahan bagi wisatawan yang ingin melepas lelah setelah menempuh perjalanan jauh.
Dengan view hamparan kolam raksasa berlatar belakang hijaunya pepohonan dan pegunungan di kejauhan, kawasan di sekitar bendungan menjadi tempat yang ideal untuk beristirahat. Pengunjung dapat menikmati pemandangan yang menyejukkan mata sambil duduk di gazebo-gazebo yang tersedia di pinggiran danau buatan. Atau mereka juga dapat menjelajah kawasan danau menggunakan perahu motor.
Perahu motor dapat disewa dengan harga yang disepakati. Jika pengunjung datang bersama rombongan, menyewa perahu merupakan pilihan terbaik. Namun, jika datang sendiri atau bersama keluarga kecil, lebih baik membayar ongkos perorang. Pengunjung yang membayar ongkos perorang harus sedikit sabar menunggu perahu penuh sebelum perjalanan dimulai.
Perjalanan dengan perahu motor akan membawa pengunjung berkeliling ke seluruh kawasan perairan bendungan. Mereka dapat menikmati keindahan alam sekitar danau serta panorama yang memukau. Namun, perlu diingat bahwa ada zona berbahaya yang tidak boleh dilalui oleh perahu karena merupakan pintu air dan memiliki daya sedot yang kuat. Zona berbahaya ini ditandai dengan lingkaran tong-tong yang mengapung di atas air.
Selain menikmati keindahan alam, pengunjung juga dapat melakukan berbagai aktifitas menarik di sekitar bendungan. Mereka dapat bermain di atas banana boat, memancing di kolam pemancingan ikan, atau berolahraga di jogging track di sekeliling pinggiran waduk. Terdapat pula lapangan tennis dan lapangan golf untuk menyenangkan pengunjung yang gemar berolahraga.
Selain itu, bagi pengunjung yang ingin menghabiskan waktu lebih lama di sekitar bendungan, terdapat dua taman wisata yang dapat dikunjungi. Taman Wisata di sebelah utara bendungan menawarkan berbagai fasilitas seperti kolam renang, waterboom, hot wheels, kebun binatang mini, outbond, ATV, Buggy Adventure, camping ground, flying fox, dan fasilitas bermain anak-anak. Sedangkan Taman Wisata Bendungan Lahor, yang terdapat di sisi selatan, merupakan bagian dari Waduk Karangkates dan juga menawarkan berbagai wahana dan aktivitas wisata.
Harga Tiket Masuk
Untuk dapat menikmati keindahan alam dan aktifitas wisata di Bendungan Karangkates, pengunjung harus membayar harga tiket masuk. Harga tiket masuk yang ditetapkan oleh Perum Jasa Tirta I, selaku pengelola bendungan, sangat terjangkau. Pada hari biasa, pengunjung hanya perlu membayar Rp.5.000 untuk masuk ke kawasan bendungan. Pada hari Sabtu dan Minggu, harga tiket masuk naik menjadi Rp.7.000. Sedangkan pada musim liburan, pengunjung harus membayar Rp.10.000 untuk masuk ke bendungan.
Namun, harga tiket masuk tersebut belum termasuk ongkos parkir kendaraan. Untuk motor, pengunjung harus membayar Rp.2.000, sedangkan untuk mobil Rp.5.000 dan bus Rp.10.000. Selain itu, terdapat juga biaya tambahan untuk aktifitas wisata yang lain. Harga-harga tersebut bervariasi tergantung dari jenis aktifitas wisata yang dilakukan.
Pengunjung yang ingin menikmati kolam renang dan waterboom harus membayar Rp.5.000. Untuk bermain banana boat, pengunjung harus membayar Rp.20.000. Sementara untuk ATV Adventure dan Buggy Adventure, pengunjung harus membayar Rp.20.000 dan Rp.25.000. Sedangkan untuk Flying Fox, pengunjung harus membayar Rp.12.500.
Dengan membayar harga tiket tersebut, pengunjung dapat menikmati sejumlah fasilitas umum yang disediakan di sekitar bendungan. Terdapat toilet dan kamar mandi, mushollah, stand atau kios penjual souvenir, rumah makan, restoran, dan penginapan bagi pengunjung yang ingin menghabiskan malam di sekitar Waduk Karangkates.
Terdapat beberapa jenis penginapan yang disediakan pihak pengelola bagi para wisatawan yang ingin bermalam di sekitar bendungan. Mulai dari Transito Room yang harganya Rp.200.000 per malam, hingga Wisma Utama yang harganya Rp.750.000 per malam. Wisma Utama ini dulunya merupakan tempat peristirahatan Presiden kedua RI, Soeharto, dan kondisi bangunannya hingga kini masih tetap dipertahankan.
Dengan harga tiket yang terjangkau dan fasilitas yang lengkap, Bendungan Karangkates adalah destinasi wisata yang sangat menarik untuk dikunjungi. Keindahan alam yang ditawarkan, aktifitas wisata yang seru, serta kemudahan akses membuat bendungan ini menjadi tempat yang ideal untuk melepas penat dan menikmati liburan bersama keluarga atau teman-teman.