PERGIMULU.COM

Mau Pergi Liburan Kemana? Cari info di pergimulu.com saja!

Beberapa Cara Perayaan Tahun Baru di Negara Jepang dan Bagaimana Suasana Acara Malam?

Blog

Daftar Isi

1. Oosoji atau Membersihkan Rumah

Salah satu tradisi dan juga budaya yang dimiliki oleh masyarakat Jepang adalah Oosoji.

Oosoji adalah kegiatan membersihkan rumah yang dilakukan oleh semua anggota keluarga menjelang pergantian tahun baru. Setiap akhir tahun, para masyarakat Jepang, tidak terkecuali mulai dari anak kecil hingga orang tua, akan membersihkan rumah mereka secara menyeluruh. Membersihkan rumah ini dilakukan dengan tujuan untuk membersihkan segala kotoran dan energi negatif yang ada di dalam rumah, sehingga menjelang pergantian tahun baru, rumah terlihat bersih dan nyaman.

Tradisi Oosoji ini memiliki makna yang mendalam bagi masyarakat Jepang. Mereka percaya bahwa dengan membersihkan rumah, mereka juga membersihkan diri mereka secara spiritual. Membersihkan rumah juga dianggap sebagai bentuk persiapan untuk menyambut tahun baru yang baru, sehingga mereka dapat memulai tahun yang baru dengan suasana yang segar dan semangat yang baru.

Selain itu, Oosoji juga menjadi waktu yang baik bagi keluarga untuk berkumpul dan saling membantu dalam membersihkan rumah. Dalam budaya Jepang, keluarga memiliki peran yang sangat penting, dan kegiatan Oosoji ini menjadi momen yang tepat untuk mempererat hubungan antar anggota keluarga.

2. Kadomatsu atau Hiasan Rumah

Salah satu budaya dan juga tradisi yang bisa ditemukan adalah Kadomatsu.

Kadomatsu adalah hiasan yang diletakkan di pintu rumah ketika masa tahun baru tiba. Hal ini biasanya digelar hingga awal bulan Januari. Kadomatsu terbuat dari bahan pohon pinus, bambu, dan pohon prem. Ketiga pepohonan tersebut dipercaya oleh orang Jepang dapat memberikan keberuntungan kepada pemilik rumah.

BACA JUGA :  10 Sepeda Onthel Kuno Termahal, Cocok Buat Para Pecinta Benda Antik

Kadomatsu memiliki makna yang dalam dalam budaya Jepang. Pohon pinus, bambu, dan pohon prem memiliki simbolik yang berbeda. Pohon pinus melambangkan umur panjang, bambu melambangkan kemakmuran, dan pohon prem melambangkan keberuntungan. Dengan meletakkan Kadomatsu di pintu rumah, diharapkan pemilik rumah akan mendapatkan keberuntungan dan kesuksesan di tahun yang baru.

Selain itu, Kadomatsu juga menjadi simbol penyambutan tamu yang datang ke rumah. Di Jepang, tamu dianggap sebagai tamu yang membawa keberuntungan, sehingga dengan meletakkan Kadomatsu di pintu rumah, diharapkan tamu yang datang akan membawa keberuntungan bagi pemilik rumah.

3. Shimekazari

Sama halnya dengan Kadomatsu, Shimekazari juga mempunyai arti yaitu hiasan yang akan digantung di pintu rumah.

Shimekazari adalah hiasan yang terbuat dari berbagai macam barang dan dipercaya dapat mendatangkan keberuntungan. Hiasan ini biasanya terdiri dari tali berwarna-warni, jerami, dan berbagai benda dekoratif lainnya.

Shimekazari memiliki makna yang mendalam dalam budaya Jepang. Hiasan ini dipercaya dapat menolak kesialan atau bala bagi masyarakat Jepang dan menjaga keselamatan anggota keluarga. Shimekazari juga dianggap sebagai bentuk perlindungan spiritual bagi pemilik rumah.

Setelah periode tahun baru selesai, baik Shimekazari maupun Kadomatsu ini akan dibawa ke kuil untuk dibakar dalam upacara yang digelar di jinja atau kuil tersebut. Hal ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada dewa-dewa dan untuk mewujudkan keinginan mereka di tahun yang baru.

4. Kagamimochi

Salah satu upacara atau budaya yang kerap dilakukan oleh masyarakat Jepang adalah Kagamimochi.

Kagamimochi adalah dua buah mochi yang memiliki bentuk besar dan kecil. Mochi adalah kue tradisional Jepang yang terbuat dari beras ketan yang dikukus dan kemudian dihaluskan. Kagamimochi memiliki diameter antara 10 hingga 20 centimeter.

Kagamimochi awalnya ditujukan kepada dewa-dewa di Jepang. Masyarakat Jepang percaya bahwa dewa-dewa tersebut akan memberikan keberuntungan dan kesuksesan di tahun yang baru. Saat ini, Kagamimochi lebih sering dijadikan sebagai hiasan meja makan untuk memeriahkan acara pesta tahun baru.

Meskipun makna asli dari Kagamimochi sudah mulai terlupakan, kehadiran mochi di meja makan tetap menjadi tradisi yang dilestarikan oleh masyarakat Jepang. Makanan ini disantap oleh anggota keluarga dengan diiringi oleh kebiasaan khas masyarakat Jepang di malam tahun baru.

5. Osechi-Ryori

Kebiasaan lain adalah Osechi-ryori yang artinya adalah masakan khusus yang nantinya akan disantap setiap tanggal 1 hingga tanggal 3 di tahun baru.

Osechi-ryori adalah makanan khusus yang disiapkan untuk menyambut tahun baru di Jepang. Makanan ini memiliki bentuk yang indah dan menarik, dengan berbagai macam hidangan yang dipanggang, direbus, dan dihias dengan indah.

Tradisi Osechi-ryori awalnya dimulai sebagai bentuk untuk meringankan beban ibu rumah tangga di dapur mereka. Pada masa tahun baru, tamu dan semua anggota keluarga berkumpul di rumah, sehingga ibu rumah tangga akan sangat sibuk memasak. Osechi-ryori dirancang untuk dapat bertahan selama 3 hingga 5 hari tanpa basi, sehingga ibu rumah tangga dapat lebih santai dan menikmati waktu bersama keluarga.

Osechi-ryori memiliki makna yang mendalam dalam budaya Jepang. Setiap hidangan dalam Osechi-ryori memiliki simbolik tersendiri. Misalnya, ikan teri yang melambangkan umur panjang, kue mochi yang melambangkan keberuntungan, dan tauge yang melambangkan pertumbuhan dan kesuburan.

6. Ozoni

Sama halnya dengan Osechi-ryori, maka Ozoni ini juga berupa makanan yang terdiri dari sup dan juga sayuran serta mochi yang sangat lezat.

Ozoni adalah sup tradisional Jepang yang terdiri dari kaldu, sayuran, dan mochi. Sup ini memiliki rasa yang lezat dan hangat, sehingga cocok disantap pada malam tahun baru yang dingin.

BACA JUGA :  Ada Apa Dengan Waduk Gondang? Ini Kondisi Terbarunya

Setiap daerah di Jepang memiliki resep Ozoni yang berbeda-beda. Misalnya, di Tokyo, Ozoni memiliki rasa yang lebih gurih, sedangkan di Osaka dan Kyoto, Ozoni memiliki rasa yang lebih manis. Masyarakat Jepang menikmati Ozoni sebagai hidangan khusus yang melambangkan keberuntungan dan harapan di tahun yang baru.

Ozoni juga memiliki makna yang mendalam dalam budaya Jepang. Makanan ini melambangkan awal yang baru dan harapan untuk tahun yang lebih baik. Dalam setiap mangkuk Ozoni, terdapat mochi yang melambangkan kesuksesan dan keberuntungan.

7. Joya No Kane

Kebiasaan dan juga kegiatan tradisi yang biasa dilakukan oleh masyarakat Jepang adalah Joya no Kane.

Joya no Kane adalah tradisi membunyikan lonceng besar yang terdapat di kuil-kuil di Jepang pada malam pergantian tahun baru. Membunyikan lonceng ini biasanya dilakukan pada pukul 12 tengah malam, tepat saat terjadi pergantian malam tahun baru.

Lonceng ini akan dibunyikan sebanyak 108 kali, yang melambangkan 108 nafsu duniawi manusia. Joya no Kane merupakan tradisi yang telah dilakukan sejak lama dan masih dilestarikan hingga saat ini. Meskipun kembang api sering digunakan sebagai pengganti lonceng, tradisi Joya no Kane tetap menjadi bagian penting dalam perayaan tahun baru di Jepang.

Tradisi Joya no Kane memiliki makna yang mendalam dalam budaya Jepang. Dengan membunyikan lonceng, masyarakat Jepang berharap dapat menghilangkan dosa-dosa dan kesalahan di tahun yang lalu, serta memulai tahun yang baru dengan hati yang bersih dan pikiran yang positif.

8. Toshikoshi Soba

Salah satu makanan tradisi masyarakat Jepang yang biasa disantap ketika malam tahun baru adalah Soba.

Toshikoshi Soba adalah hidangan mi soba yang disantap pada malam pergantian tahun baru. Soba merupakan mi Jepang yang terbuat dari tepung gandum. Makanan ini memiliki makna yang mendalam dalam budaya Jepang.

Menurut cerita, dengan menyantap Toshikoshi Soba, seseorang akan mendapatkan kehidupan yang aman dan tidak akan menemui kesulitan di tahun yang baru. Namun, soba harus habis dimakan tanpa ada sisanya, karena meninggalkan sisa soba di mangkuk dianggap membawa sial.

Tradisi Toshikoshi Soba juga menjadi momen yang tepat untuk keluarga berkumpul dan saling berbagi cerita di malam tahun baru. Makanan ini disantap dengan penuh rasa syukur dan harapan untuk tahun yang baru yang lebih baik.

9. Shisimai

Tradisi yang biasa dilakukan oleh masyarakat Jepang adalah Shisimai.

Shisimai adalah pertunjukan tarian tradisional Jepang yang mirip dengan barongsai di China. Tradisi ini diperkenalkan oleh Dinasti Tang dan telah menjadi bagian dari budaya Jepang sejak itu.

Pertunjukkan Shisimai biasanya dilakukan di kuil-kuil setempat pada saat tahun baru. Pertunjukkan ini melibatkan para penari yang mengenakan kostum binatang seperti singa atau naga, dan menari dengan gerakan yang dinamis dan energik.

Shisimai menjadi tradisi yang sangat dinikmati oleh masyarakat Jepang. Mereka menonton pertunjukkan ini dengan penuh antusiasme dan kegembiraan, karena pertunjukkan ini dianggap membawa keberuntungan dan kegembiraan di tahun yang baru.

10. Toso

Salah satu kebiasaan yang biasa dilakukan oleh masyarakat Jepang terutama di bagian barat Jepang adalah Toso.

Toso adalah tradisi minum sake pada pagi hari ketika memasuki tahun baru. Sake merupakan minuman beralkohol tradisional Jepang yang terbuat dari beras. Minum sake pada pagi hari tahun baru merupakan tradisi yang telah dilakukan sejak lama di Jepang.

BACA JUGA :  Segera Buka! Objek Baru di Kota Pahlawan, Alun Alun Surabaya

Minum sake pada pagi hari tahun baru tidak dilakukan sembarangan. Sake dituangkan dalam 3 piring dangkal yang ditumpuk menjadi satu. Minuman ini memiliki kandungan aneka tanaman yang dipercaya dapat mendatangkan keberuntungan.

Toso menjadi momen yang tepat untuk keluarga berkumpul dan saling mengucapkan selamat tahun baru. Masyarakat Jepang menikmati minum sake sambil saling berbagi cerita dan harapan untuk tahun yang baru.

11. Hatsuhinode

Acara tradisi Hatsuhinode menjadi salah satu agenda yang tidak boleh terlewatkan.

Hatsuhinode adalah tradisi melihat matahari terbit pertama kali di tahun baru. Di Jepang yang dikenal sebagai negeri matahari terbit, melihat sunrise pertama kali di tahun baru memiliki makna yang mendalam dalam budaya Jepang.

Banyak tempat di Jepang yang menjadi lokasi populer untuk melihat Hatsuhinode. Pantai, gunung, dan tempat-tempat indah lainnya dipenuhi oleh wisatawan dan masyarakat Jepang yang ingin menyaksikan momen indah ini. Melihat matahari terbit pertama kali di tahun baru dianggap sebagai awal yang baru dan harapan untuk tahun yang lebih baik.

12. Hatsumode

Sementara Hatsumode ini adalah kunjungan perdana ke kuil atau biasa disebut jinja ketika tahun baru tiba.

Hatsumode adalah kunjungan perdana ke kuil atau jinja pada saat tahun baru tiba. Tradisi ini dilakukan oleh masyarakat Jepang pada tanggal 1 Januari untuk berdoa dan memohon keselamatan serta keberuntungan di tahun yang baru.

Pada malam tahun baru, banyak orang yang mengunjungi kuil atau jinja untuk berdoa dan memohon keselamatan. Mereka membawa kertas berisi niat dan harapan untuk tahun yang baru dan mengikuti upacara di kuil atau jinja tersebut.

Hatsumode merupakan tradisi yang sangat penting dalam budaya Jepang. Masyarakat Jepang percaya bahwa dengan mengunjungi kuil atau jinja pada awal tahun, mereka akan mendapatkan perlindungan dan keberuntungan di tahun yang baru.

13. Nengajo

Meski sekarang dunia teknologi sudah marak, tradisi mengirimkan kartu pos atau kartu ucapan tahun baru masih cukup marak.

Nengajo adalah tradisi mengirimkan dan menulis kartu pos atau kartu ucapan tahun baru. Meskipun sekarang dunia teknologi sudah semakin maju dan komunikasi dapat dilakukan dengan mudah melalui media sosial, tradisi mengirimkan Nengajo masih cukup populer di Jepang.

Nengajo berisi ucapan doa dan harapan untuk tahun baru. Kartu pos ini dikirim dan diharapkan tiba pada malam tahun baru. Para kerabat, teman kantor, dan sahabat akan menerima kartu ucapan tahun baru ini sebagai tanda kasih sayang dan harapan yang baik untuk tahun yang baru.

Meskipun tradisi Nengajo sudah ada sejak lama, kehadiran teknologi tidak mengurangi minat masyarakat Jepang untuk terus melanjutkan tradisi ini. Mereka masih menikmati proses menulis kartu pos dan merayakan momen khusus ini.

14. Otoshidama

Senada dengan kebiasaan merayakan imlek, pembagian angpao kepada anak-anak juga kerap dilakukan di Jepang.

Otoshidama adalah tradisi pembagian angpao kepada anak-anak pada saat tahun baru. Setiap orang tua akan membagikan amplop kecil yang berisi sejumlah uang kepada anak-anak kecil dalam keluarga atau kerabat.

Tradisi Otoshidama memiliki makna yang mendalam dalam budaya Jepang. Pemberian angpao ini diharapkan dapat membawa keberuntungan dan kesuksesan bagi anak-anak di tahun yang baru. Anak-anak juga diajarkan untuk menghargai dan mengelola uang dengan bijaksana.

Otoshidama menjadi momen yang dinantikan oleh anak-anak Jepang. Mereka berharap dapat menerima banyak angpao dan menggunakan uang tersebut untuk membeli barang yang mereka inginkan. Tradisi Otoshidama juga menjadi ajang untuk bersilaturahmi dan mempererat hubungan antara keluarga dan kerabat.

15. Menikmati Permainan Tradisional

Salah satu cara dan tradisi untuk menghabiskan waktu tahun baru di Jepang adalah bermain aneka permainan tradisional bersama keluarga dan anak-anak.

Tradisi ini sudah lama turun temurun sejak jaman nenek moyang dan masih dilestarikan hingga saat ini. Masyarakat Jepang akan memainkan berbagai permainan tradisional seperti hanetsuki, layang-layang, dan karuta.

Hanetsuki adalah permainan yang mirip dengan bulutangkis, tetapi menggunakan raket kayu khas Jepang. Permainan ini dimainkan oleh anak-anak dan orang dewasa, dan menjadi momen yang menyenangkan untuk saling berkompetisi.

Layang-layang juga menjadi permainan tradisional yang sangat populer di Jepang. Masyarakat Jepang membuat dan menerbangkan layang-layang bersama keluarga dan teman-teman. Permainan ini melambangkan kebebasan dan harapan untuk terbang tinggi di tahun yang baru.

Karuta adalah permainan kartu kuno yang menjadi bagian penting dalam budaya Jepang. Permainan ini melibatkan kemampuan mendengar, membaca, dan mengingat. Karuta menjadi ajang untuk mengasah konsentrasi dan kecerdasan, serta memperkuat hubungan antara anggota keluarga.

Permainan tradisional menjadi momen yang menyenangkan dan penuh keceriaan untuk keluarga dan anak-anak di Jepang. Dalam permainan ini, mereka dapat saling berinteraksi, belajar nilai-nilai budaya, dan menciptakan kenangan indah di tahun yang baru.


Raka Andhika

Raka adalah seorang penulis blog perjalanan yang bersemangat dan kreatif. Raka memiliki kecakapan dalam menulis narasi perjalanan yang menarik dan informatif. Sejak usia muda, Raka sudah memiliki kegemaran menjelajahi tempat-tempat baru dan berinteraksi dengan berbagai budaya, yang kemudian mendorongnya untuk membagikan pengalaman tersebut melalui tulisan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *