Ternyata Inilah Kisah Dibalik Keunikan Arsitektur Masjid Agung Lamongan
Asal Usul Masjid Agung Lamongan
Masjid Agung Lamongan merupakan salah satu masjid yang terletak di Jalan Kyai Haji Hasyim Ashari No. 11, Tumenggungan, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Masjid ini memiliki arsitektur yang menawan dan menjadi salah satu tujuan wisata religi di Lamongan. Selain itu, masjid ini juga menyimpan beberapa benda bersejarah yang memiliki kisah unik di dalamnya.
Masjid Agung Lamongan awalnya didirikan pada tahun 1908 oleh Mbah Yai Mahmoed dari Bojonegoro. Pada saat pertama kali didirikan, ukuran masjid ini hanya sebesar 0,5 meter dan berbentuk persegi. Atap masjid terbuat dari kayu jati yang memiliki pola garis-garis. Selain itu, terdapat empat tiang yang juga terbuat dari kayu jati dengan ukiran khas kota Jepara.
Bangunan pertama masjid ini masih terjaga hingga saat ini, dengan atap yang tumpang susun tiga dan empat tiang yang lengkap dengan ukiran tulisan Arab dan tumbuhan. Selain itu, terdapat juga beberapa tambahan pada bangunan kedua masjid ini. Pada tahun 1970, dilakukan pembangunan kedua yang ditambahkan dengan sebuah menara yang menyerupai Masjid Qiblatain di Madinah. Menara ini selesai dalam waktu satu tahun.
Namun, setelah adanya perombakan karena pembangunan menara sebelah utara, menara ini kini terletak di dalam area masjid. Meskipun demikian, kemungkinan besar menara tersebut masih ada hingga sekarang.
Pada tahun 1982, dilakukan pembangunan ketiga masjid ini. Hal ini dilakukan karena semakin banyaknya jamaah yang datang ke masjid sehingga perlu dilakukan perluasan area timur dan utara. Pada pembangunan ini, terdapat tambahan beberapa ukiran kaligrafi di atas kubah serta tulisan Asmaul Husna di sebelah kanan dan kiri. Selain itu, terdapat juga 4 tiang dengan ukiran kaligrafi dan tumbuhan, serta 12 tiang kayu polos.
Pada tahun 2011, dilakukan pembangunan keempat di masjid ini. Pembangunan ini dipimpin oleh KH. Abdul Aziz Choiri. Pada pembangunan ini dilakukan pelebaran tanah masjid sampai ke selatan hingga mencapai Jalan Basuki Rahmad. Selain itu, ditambahkan juga pintu gerbang di area selatan dan pembangunan menara kembar dengan tinggi mencapai 53 meter. Menara kembar ini mengambil perumpamaan usia Rasulullah ketika berhijrah dari Makkah ke Madinah.
Selama proses pembangunan, masjid ini juga mengalami beberapa renovasi. Pada renovasi keempat, dilakukan perombakan ruang serambi yang direncanakan akan dibuat 3 lantai dengan gaya arsitektur Timur Tengah. Meskipun pembangunan yang dilakukan di Masjid Agung Lamongan cukup besar, namun tetap melestarikan unsur budaya dan khazanah budaya nasional. Benda-benda cagar budaya seperti gapura utama, gentong, batu pasujudan, sumur, dan komplek pemakaman waliyullah tetap terjaga dengan baik di masjid ini.
Benda-benda cagar budaya inilah yang membuat Masjid Agung Lamongan selalu ramai dikunjungi oleh para wisatawan. Selain sebagai tempat beribadah, masjid ini juga menjadi tempat yang memperkaya pengetahuan dan menambah keyakinan kepada sang Pencipta.
Kisah Unik di Masjid Agung Lamongan
Tidak hanya sebagai sarana dakwah Islam, Masjid Agung Lamongan juga memiliki beberapa peninggalan cagar budaya yang memiliki kisah unik di dalamnya. Salah satu kisah yang terkenal adalah kisah dua buah gentong air yang dibuat dari batu.
Menurut cerita yang berkembang, gentong batu tersebut merupakan kepunyaan putri kembar dari Kerajaan Kediri yang bernama Dewi Andansari dan Dewi Andanwangi. Kedua putri kembar ini menjadi objek perhatian karena kecantikan dan kebaikannya.
Pada suatu waktu, putra Bupati Lamongan yang bernama Panji Laras dan Panji Liris tertarik untuk meminang kedua putri kembar tersebut. Mereka meminta izin kepada Bupati Lamongan untuk menjalin hubungan dengan Kerajaan Kediri.
Namun, Bupati Lamongan agak ragu untuk menerima permintaan tersebut. Oleh karena itu, Bupati Lamongan memberikan tiga persyaratan yang harus dipenuhi oleh Kerajaan Kediri.
Persyaratan pertama adalah kedua putri kembar tersebut harus masuk agama Islam. Persyaratan kedua adalah pihak wanita yang harus melakukan prosesi lamaran ke pihak keluarga mempelai laki-laki. Persyaratan ketiga adalah pihak pengantin perempuan harus menyediakan hadiah gentong air serta alas tikar yang semuanya terbuat dari batu.
Kerajaan Kediri setuju dengan semua persyaratan tersebut dan mengirim kedua putrinya untuk melamar ke Bupati Lamongan. Setelah semua persyaratan terpenuhi, prosesi pernikahan antara putra Bupati Lamongan dan putri raja dari Kerajaan Kediri diadakan.
Namun, pernikahan ini akhirnya dibatalkan oleh kedua putra kembar Bupati Lamongan, yaitu Panji Laras dan Panji Liris. Hal ini menyebabkan terjadinya perang antara Kadipaten Lamongan dengan Kerajaan Kediri.
Meskipun begitu, Masjid Agung Lamongan tetap menjadi tempat yang penting bagi umat Islam di Lamongan. Selain sebagai tempat beribadah, masjid ini juga menjadi tempat wisata religi yang sering diselenggarakan acara-acara besar seperti Lamongan bersholawat dan lainnya.
Para wisatawan yang berkunjung ke masjid ini biasanya tidak melewatkan kesempatan untuk mengabadikan momen mereka dengan latar belakang foto menara kembarnya. Menara kembar Masjid Agung Lamongan memiliki keindahan tersendiri, terutama saat malam hari.
Untuk informasi lebih lanjut tentang Masjid Agung Lamongan, dapat dilihat di website seperti Tripadvisor dan lainnya. Masjid ini juga menjadi bagian dari KBIH Masjid Agung dan terletak di Jalan Kyai Haji Hasyim Ashari No. 11, Tumenggungan, Lamongan, Jawa Timur.