Benteng Pendem Van Den Bosch Ngawi
Benteng Pendem Van Den Bosch: Sebuah Saksi Sejarah di Ngawi
Asal Usul
Benteng Pendem Van Den Bosch merupakan salah satu bangunan bersejarah yang cukup terkenal di kota Ngawi, Jawa Timur. Lokasinya berada di daerah Komplek Angicipi Batalyon Armed 12, yang terletak di antara pertemuan jalan utama Diponegoro di bagian timur dan Jalan Untung Suropati di bagian barat. Alamat lengkap benteng ini adalah RT/RW 07/02, Kelurahan Pelem, Kecamatan Ngawi, Kabupaten Ngawi.
Benteng ini diambil dari nama Johannes Graaf Van Den Bosch, yang merupakan awal mula dari pemberian nama benteng ini. Nama Benteng Van Den Bosch ini diambil dari nama Johannes Van Den Bosch, yang memiliki peran penting di Kabupaten Ngawi pada masa tersebut.
Benteng Pendem Van Den Bosch ini dibangun pada tahun 1839-1845 sebagai benteng pertahanan Belanda terhadap para pejuang Indonesia. Benteng ini memiliki luas sekitar 1 hektar dan terletak di sekitar sungai Bengawan Solo dan Bengawan Madiun. Dengan tembok benteng yang berbentuk persegi panjang dan dilengkapi dengan bastion atau seleka, benteng ini sangat efektif dalam menahan serangan pasukan Diponegoro pada masa itu.
Kota Ngawi pada masa tersebut memiliki status Onder-Regentschap, yang kemudian diubah menjadi Regentschap atau setara dengan Kabupaten di dalam Karesidenan Madiun. Pemerintahan Belanda memilih kota Ngawi sebagai salah satu kota pemerintahan karena letaknya yang strategis dan memiliki potensi yang menguntungkan untuk pemerintahan kolonial pada saat itu.
Setelah kemerdekaan Indonesia pada tahun 1962, benteng ini menjadi markas dan gudang amunisi untuk Batalyon Armed 12. Namun, pada tahun 1970-1980, gudang amunisi dipindahkan ke Jalan Siliwangi dan benteng ini menjadi kosong tidak berpenghuni.
Pada tahun 2011, pemerintah setempat membuka kembali Benteng Van Den Bosch untuk dikunjungi oleh masyarakat umum. Pada tahun 2012, Pemerintah Kabupaten Ngawi melakukan renovasi dan perombakan untuk membangun kawasan wisata sejarah dan edukasi bagi masyarakat setempat.
Pintu Gerbang Utama
Sebelum memasuki area benteng, para pengunjung diharuskan melapor kepada petugas di pintu gerbang utama. Pintu gerbang ini memiliki bentuk seperti pos penjaga militer. Para pengunjung harus meninggalkan identitas dan mengisi buku tamu sebelum masuk ke dalam benteng.
Di depan pintu gerbang utama, terdapat beberapa mobil militer yang diparkir di halaman depan. Setelah melewati pintu gerbang, para pengunjung akan melihat tulisan tahun 1839-1845 di atas pintu utama, sebagai tanda tahun pembangunan benteng ini.
Gaya arsitektur klasik Eropa dengan corak Indische masih terjaga dengan baik di benteng ini. Hal ini membuatnya sering dijadikan sebagai tempat untuk foto prewedding atau prewed. Selain itu, di tengah-tengah area benteng terdapat taman labirin yang juga sering dijadikan tempat foto.
Makam KH Muhammad Nursalim
Di dalam area Benteng Pendem Van Den Bosch, terdapat makam KH Muhammad Nursalim. Beliau merupakan tokoh dakwah agama Islam pertama di Kabupaten Ngawi. Makam ini diperbaharui pada tahun 1992 sebagai salah satu kisah sejarah perjuangan Indonesia melawan penjajahan Belanda.
Selain itu, terdapat pula makam-makam para pengikut Pangeran Diponegoro yang gugur dalam pertempuran melawan Belanda. Salah satu cerita menarik mengenai KH Muhammad Nursalim adalah kebal terhadap bacokan dan tembakan. Saat tertangkap oleh Belanda, beliau dikubur hidup-hidup dengan posisi terikat hingga akhirnya meninggal. Kisah heroik ini menggugah hati banyak orang.
Sisi Angker Sumur
Di bagian selatan Benteng Pendem Van Den Bosch terdapat sumur yang memiliki cerita angker. Sumur ini digunakan oleh Belanda untuk membuang jenazah para tahanan dan pekerja rodi yang tewas akibat melanggar peraturan di dalam benteng.
Sumur pertama memiliki tembok pembatas dengan kedalaman sekitar 100-200 meter, sementara sumur kedua tidak memiliki tembok pembatas dan hanya ada bekas pondasinya. Kedua sumur ini menjadi area yang misterius dan angker di dalam benteng. Banyak cerita dan mitos yang berkembang mengenai penampakan dan kejadian aneh di sekitar sumur ini.
Pemboman Jepang
Benteng Pendem Van Den Bosch tidak luput dari pemboman Jepang saat Perang Dunia II. Bangunan ini memiliki dua lantai dan digunakan sebagai asrama dan barak bagi tentara Belanda. Saat ini, sebagian bangunan sudah runtuh, terutama di bagian atap dan temboknya. Bangunan ini menjadi saksi bisu dari masa perang yang pernah terjadi di Indonesia.
Ruang Penjara
Benteng ini juga memiliki ruang penjara yang sempit dan tidak memiliki udara yang cukup. Ruang ini digunakan untuk menahan para pejuang kemerdekaan Indonesia yang melawan pemerintahan kolonial Belanda, serta para pekerja rodi yang berusaha melarikan diri namun gagal. Para tawanan di ruang penjara ini tidak dapat terselamatkan karena minimnya udara dan pasokan makanan. Biasanya, penjara ini hanya digunakan sebagai persinggahan sementara sebelum dieksekusi.
Gudang Amunisi dan Barak Tentara
Di sekitar benteng ini terdapat gudang amunisi yang digunakan untuk menyimpan persediaan amunisi militer. Gudang ini memiliki tingkat kelembaban yang pas untuk menjaga keamanan amunisi. Selain itu, terdapat juga barak tentara yang berfungsi sebagai tempat tinggal bagi serdadu Belanda. Barak ini mengelilingi bangunan utama dan melindungi para perwira tinggi.
Rute Menuju Lokasi
Untuk menuju ke Benteng Pendem Van Den Bosch, para pengunjung dapat menggunakan kendaraan pribadi atau kendaraan umum. Rute menuju benteng ini dapat diakses dari Sragen, Surabaya, dan Mojokerto. Para pengunjung juga dapat menggunakan GPS untuk memudahkan akses menuju lokasi. Tiket masuk ke benteng ini seharga Rp5.000 per orang, sementara biaya parkir akan dikenakan biaya terpisah. Benteng ini buka setiap hari dari pukul 08.00 hingga 17.00 WIB.
Benteng Pendem Van Den Bosch merupakan salah satu saksi sejarah yang masih terjaga dengan baik di kota Ngawi. Dengan bangunannya yang megah dan kisah-kisah mistis yang terkait dengannya, benteng ini menjadi destinasi wisata sejarah yang menarik bagi para pengunjung. Melalui kunjungan ke benteng ini, kita dapat melihat bagaimana Belanda pernah menjajah dan memimpin pemerintahan Indonesia pada masa lalu.