10 Gambar Masjid Saka Tunggal Purwokerto, Sejarah Asal Usul, Lokasi Alamat, Arsitektur Pembangunan + Keunikan Dari Bangunan
Sejarah Masjid Saka Tunggal
Masjid Saka Tunggal, juga dikenal dengan nama resmi Saka Tunggal Baitussalam, adalah masjid yang dibangun oleh Kiai Mustolih, yang akrab disapa Mbah Tolih. Beliau adalah tokoh penyebar ajaran Islam sekaligus pendiri Desa Cikakak. Meski ada beberapa versi mengenai asal-usul Mbah Tolih, salah satu cerita yang populer adalah bahwa beliau merupakan putra dari Prabu Siliwangi dari Padjajaran yang bernama kecil Kian Santang. Namun, kebenaran cerita ini belum bisa dibuktikan secara ilmiah.
Mbah Tolih membangun Masjid Saka Tunggal di tengah hutan pedesaan, sekitar 1 km dari jalan raya Kabupaten Banyumas. Masjid ini memiliki sejarah yang panjang, namun ada beberapa ketidakcocokan antara angka yang terpahat pada penyangga masjid dengan riwayat Mbah Tolih. Dalam Babad Wirasaba, diceritakan bahwa Mbah Tolih terlibat dalam kejadian dengan Kiai Mranggi dan anak angkatnya yang hendak menikah dengan putri Adipati Wargautama, R. Joko Kahiman sebelum akhirnya membabat alas. Peristiwa ini kemungkinan terjadi antara tahun 1500-1568. Namun, jika benar bahwa masjid ini didirikan pada tahun 1288, itu akan menjadi hal yang tidak lazim karena pada masa itu orang Jawa tidak mengacu pada tanggalan Masehi.
Sayangnya, tahun pembuatan masjid telah tertulis dalam kitab-kitab yang ditinggalkan oleh Mbah Tolih, tapi benda itu telah hilang bertahun-tahun yang lalu. Sehingga, sampai saat ini, jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut masih menjadi misteri.
Arsitektur Masjid Saka Tunggal
Masjid Saka Tunggal memiliki arsitektur yang unik dan menarik. Masjid ini memiliki dimensi 12 x 18 meter dan ditopang oleh satu pilar yang terbuat dari sebongkah kayu. Pilar tersebut memiliki tinggi sekitar 5 meter dan diameter 30 cm. Pada penyangga pilar terdapat ukiran tahun berdirinya dalam huruf Arab yang menunjukkan angka 1288. Atap masjid terbuat dari ijuk kelapa berwarna hitam yang mengingatkan kita pada pura di era Majapahit. Di dalam masjid, terdapat dua ukiran bergambar sinar matahari yang menyerupai lempeng mandala yang sering dijumpai pada bangunan-bangunan kuno di zaman Singosari dan Majapahit.
Masjid Saka Tunggal juga memiliki beberapa simbol dan makna dalam arsitektur dan penataan ruangnya. Pilar tunggal yang menopang masjid melambangkan hidup yang lurus atau tidak bengkok. Ia dikelilingi oleh empat helai sayap yang melambangkan papan kiblat lima pancer, yang mengandung arti manusia dikelilingi oleh empat unsur. Selain itu, sayap-sayap tersebut juga melambangkan empat nafsu pada diri manusia, yaitu nafsu dasar, senang dipuji, amarah, dan nafsu mengajak manusia pada kebaikan.
Di dalam masjid, Anda juga bisa menemukan berbagai peninggalan sejarah seperti bedug beserta kentongnya, lampu gantung, tongkat, dan mimbar. Semua ini menambah keunikan dan nilai sejarah dari Masjid Saka Tunggal.
Keunikan Masjid Saka Tunggal
Selain keunikan dalam arsitektur dan penataan ruangnya, Masjid Saka Tunggal juga memiliki cerita dan legenda yang menarik. Salah satu legenda yang tersebar di sekitar masjid ini adalah legenda kera. Menurut cerita yang disampaikan oleh juru kunci surau kuno tersebut, dulu ada beberapa santri yang melanggar kewajiban shalat Jum’at dan malah memancing ikan di kali sampai membuat keributan. Karena kecewa, Mbah Tolih marah besar dan mengatakan bahwa kelakuan mereka tidak berbeda dengan kera. Ucapan itu justru membawa bencana bagi mereka yang akhirnya berubah menjadi kumpulan kera. Meskipun tidak dapat dipastikan kebenarannya, kisah ini mengandung pesan moral bahwa manusia seharusnya tidak berperilaku seperti hewan.
Keunikan lainnya dari Masjid Saka Tunggal adalah tradisi pergantian Jaro (pagar bambu) dan pembersihan makam Mbah Tolih yang dilakukan setiap tanggal 27 Rajab. Tradisi ini melibatkan warga yang sebagian besar merupakan keturunan Mbah Tolih dan menjadi ajang silaturahmi bagi mereka.
Lokasi Masjid Saka Tunggal
Masjid Saka Tunggal terletak di Desa Cikakak, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Letaknya tidak terlalu jauh dari Purwokerto, hanya sekitar 29 km. Untuk menuju ke lokasi, Anda bisa melewati Jalan Ajibarang Secang. Jika Anda mengandalkan peta, pastikan mengikuti arahan yang ada agar tidak tersesat.
Biaya yang dikenakan untuk masuk ke area masjid ini hanya Rp5.000,-. Anda akan mendapatkan makanan untuk diberikan kepada para kera yang ada di sekitar masjid. Selain Masjid Saka Tunggal di Desa Cikakak, terdapat juga masjid dengan nama yang sama di Kecamatan Pekuncen yang didirikan pada tahun 1915, dan Masjid Jami’ Saka Tunggal di Desa Pekuncen, Kecamatan Sempor, Kabupaten Kebumen yang berjarak 2,7 km dari Kota Gombong. Ada juga surau dengan nama yang sama di Kelurahan Patehan, Kecamatan Kraton, Jogja dengan gaya arsitektur tajug saka tunggal.
Masjid Saka Tunggal merupakan tempat wisata religi yang menarik untuk dikunjungi. Dengan sejarahnya yang panjang, arsitektur yang unik, dan legenda yang menarik, masjid ini menyimpan banyak nilai sejarah dan keindahan yang patut diapresiasi. Bagi para wisatawan yang ingin melihat keunikan masjid-masjid kuno di Indonesia, Masjid Saka Tunggal adalah salah satu destinasi yang sangat direkomendasikan.