Alun Alun Batu, Bianglala di Buka Jam Berapa?
Alun-alun Batu: Menikmati Pesona Wisata di Kota Batu
Mengenal Lokasi
Kota Batu merupakan salah satu kota wisata yang terletak di daerah Malang, Jawa Timur. Kota ini terkenal karena banyaknya kawasan wisata yang bisa ditemukan di dalamnya. Terlebih lagi, kini banyak backpacker dan turis, baik domestik maupun mancanegara, yang memilih Malang sebagai tujuan liburan mereka. Salah satu kawasan wisata yang wajib dikunjungi ketika berada di Malang adalah Alun-alun Batu. Lokasi Alun-alun Batu terletak di pusat kota dan memiliki desain yang menarik dengan konsep pasar malam. Oleh karena itu, kawasan wisata ini selalu ramai oleh pengunjung.
Alun-alun Batu memiliki banyak wahana permainan yang siap memanjakan para wisatawan. Selain itu, terdapat juga karya seni yang unik yang dipamerkan di sekitar kawasan wisata ini. Konsep dan desain Alun-alun Batu bertujuan untuk memberikan hiburan kepada masyarakat dan wisatawan yang berkunjung ke sana. Di pagi hari, kawasan wisata ini biasanya digunakan oleh warga sekitar untuk berolahraga seperti jogging atau lari-lari kecil. Hal ini menunjukkan bahwa Alun-alun Batu tidak hanya difungsikan sebagai tempat rekreasi, tetapi juga sebagai tempat olahraga dan kegiatan komunitas.
Namun, Alun-alun Batu baru benar-benar menjadi hidup pada malam hari. Saat itu, kawasan wisata ini dipenuhi dengan cahaya lampu yang berwarna-warni. Hampir di sepanjang trotoar Alun-alun Batu terdapat lampu jalan dan lampu taman yang memberikan penerangan yang cukup terang. Di bagian tengah kawasan wisata ini terdapat lampu taman yang semakin mempercantik keindahan taman tersebut. Di malam hari, kolam air mancur yang ada di Alun-alun Batu juga akan bermandikan cahaya yang indah. Selain itu, terdapat juga berbagai wahana permainan seperti Bianglala yang memberikan pengalaman yang tak terlupakan bagi para pengunjung.
Menilik Sejarah
Kota Batu memiliki cerita sejarah yang menarik. Sejak abad ke-10, daerah ini sudah dikenal sebagai tempat peristirahatan keluarga kerajaan. Kota Batu merupakan bekas daerah kerajaan dan dipilih oleh kerajaan pada abad ke-10 karena kawasan pegunungan di sekitarnya menyajikan udara yang segar dan nyaman. Selain itu, keindahan alam yang ada di sekitar Batu yang dikelilingi oleh pegunungan asri dan alami juga menjadi alasan pemilihan daerah ini sebagai tempat peristirahatan.
Pada masa pemerintahan Raja Sindok dari Kerajaan Medang, Mpu Supo, salah satu petinggi kerajaan tersebut, diperintahkan untuk membangun tempat peristirahatan keluarga di daerah pegunungan di Batu yang berdekatan dengan mata air. Setelah melalui perjuangan, Mpu Supo menemukan daerah dengan sumber mata air yang cukup besar dan akhirnya diberi nama Wisata Songgoriti. Ia juga membangun Candi Supo sebagai bukti pembangunan tempat peristirahatan tersebut.
Tempat peristirahatan keluarga kerajaan ini memiliki sumber mata air yang mengalir dengan deras, dingin, dan sejuk. Mata air ini juga digunakan untuk mencuci benda-benda kerajaan, seperti keris-keris yang merupakan benda pusaka dari Kerajaan Medang. Sumber mata air ini diyakini memiliki tuah dan kekuatan supranatural yang dahsyat. Oleh karena itu, sumber mata air ini menjadi penting dan sekarang menjadi salah satu daya tarik di kawasan Wisata Songgoriti.
Dahulu, daerah Batu merupakan salah satu daerah kepemimpinan dari Kerajaan Medang. Namun, asal usul nama “Batu” sendiri masih belum diketahui dengan pasti. Menurut cerita yang beredar di kalangan masyarakat Batu, nama ini diambil dari nama seorang ulama yang merupakan pengikut dari Pangeran Diponegoro, yaitu Abu Ghonaim. Abu Ghonaim memiliki julukan Kyai Gubug Angin dan dikenal sebagai Mbah Wastu oleh masyarakat setempat. Nama “Batu” sendiri merupakan singkatan dari panggilan Mbah Wastu yang akhirnya terkenal dan digunakan untuk menyebut daerah tersebut.
Abu Ghonaim atau Mbah Wastu adalah pengikut setia Pangeran Diponegoro yang hijrah ke kaki Gunung Panderman untuk menghindari pengejaran dan penangkapan oleh penjajah Belanda. Ia memulai kehidupan baru di daerah Batu dan menyebarkan ajaran agama Islam dari Pangeran Diponegoro kepada masyarakat setempat. Banyak penduduk dan masyarakat di sekitar Batu yang akhirnya berguru kepada Mbah Wastu dan menetap di daerah tersebut. Dari sinilah komunitas di daerah Batu mulai berkembang dan menjadi besar.
Pada masa setahun setelah Indonesia mendeklarasikan kemerdekaan, tepatnya pada tahun 1946, terdapat inisiatif untuk mendirikan tugu di tengah taman Jan Peterzoen Coen, yang dikenal sebagai Alun-alun Bunder. Inisiatif ini mendapatkan tanggapan positif dari pemerintah pusat. Kemudian, pada tahun 1950, masyarakat Malang mendesak untuk merubah struktur pemerintahan di kota tersebut agar dipimpin oleh orang lokal. Alun-alun Batu kemudian menjadi milik kota Malang dan mulai dibangun dan direnovasi.
Rute Akses ke Lokasi
Kawasan wisata Alun-alun Batu terletak di Jalan Agus Salim, Sisir, Batu, Kec. Batu, Jawa Timur 65314. Terdapat beberapa rute yang bisa digunakan untuk mencapai Alun-alun Batu. Jika menggunakan kendaraan umum, wisatawan dapat menggunakan kereta api sebagai moda transportasi awal. Dari stasiun, perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan angkot menuju Terminal Landung Sari dengan kode AL atau ADL. Dari terminal tersebut, wisatawan dapat melanjutkan perjalanan dengan menggunakan angkot jurusan BL, BJL, atau BTL yang akan menuju ke Terminal Utama Batu. Dari Terminal Utama, perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan kendaraan umum menuju Alun-alun Batu.
Bagi yang menggunakan kendaraan pribadi, wisatawan dapat mengikuti jalur menuju kota Batu dan melewati kampus UMM. Kemudian, wisatawan dapat mengikuti papan petunjuk yang akan mengarahkan menuju Alun-alun Batu. Peta dan denah kota Batu juga dapat diakses melalui Google Map untuk memudahkan perjalanan.
Fasilitas di Kawasan
Kawasan wisata Alun-alun Batu memiliki berbagai fasilitas yang siap memenuhi kebutuhan para wisatawan. Di dalam kawasan ini, terdapat banyak wahana permainan yang dapat dinikmati oleh pengunjung, seperti Bianglala. Untuk masuk ke kawasan Alun-alun Batu, wisatawan tidak perlu membayar tiket masuk karena masuk ke kawasan ini gratis. Namun, jika ingin menaiki Bianglala, wisatawan perlu membayar tiket sebesar 3 ribu rupiah. Dengan menaiki Bianglala, wisatawan dapat melihat keindahan Alun-alun Batu dari ketinggian.
Selain wahana permainan, Alun-alun Batu juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas lainnya. Terdapat pusat informasi yang siap membantu para wisatawan dalam mendapatkan informasi mengenai Alun-alun Batu. Selain itu, juga terdapat toilet umum yang dijaga kebersihannya untuk memberikan kenyamanan kepada pengunjung. Di sekitar kawasan wisata ini, terdapat banyak penginapan mulai dari hotel, villa, hingga resort yang harga-harganya relatif terjangkau. Penginapan-penginapan ini juga terletak dekat dengan kawasan wisata sehingga aksesnya sangat mudah.
Di Alun-alun Batu, terdapat juga berbagai pilihan tempat kuliner yang menggoda selera. Ada banyak warung makan, jajanan, dan cafe yang dapat dikunjungi oleh para wisatawan. Beberapa tempat kuliner yang direkomendasikan di sekitar Alun-alun Batu antara lain Goodlife Ramen, Milkiyaki, Warung Ketan Legenda Batu, Depot Susu KUD Ganesha, Watu Lontar Resto, Mahajaya Diponegoro Oleh-oleh & Resto, Soto Ayam dan Ceker Keraton, Warung Sejati, dan Warung BeDua. Dengan memanjakan lidah dengan aneka hidangan di sekitar Alun-alun Batu, wisatawan dapat merasakan kenikmatan kuliner khas daerah tersebut.
Saat Malam Hari
Alun-alun Batu benar-benar menjadi hidup pada malam hari. Saat itu, kawasan wisata ini dipenuhi oleh cahaya lampu yang berwarna-warni. Cahaya lampu tersebut memberikan suasana yang indah dan menawan bagi pengunjung. Trotoar di sepanjang Alun-alun Batu dilengkapi dengan lampu jalan dan lampu taman yang memberikan penerangan yang cukup terang. Di bagian tengah kawasan wisata ini terdapat lampu taman yang semakin mempercantik keindahan taman tersebut.
Kolam air mancur yang ada di Alun-alun Batu juga menjadi daya tarik tersendiri pada malam hari. Kolam air mancur ini bermandikan cahaya lampu yang membuatnya menjadi lebih indah. Selain itu, terdapat juga berbagai wahana permainan seperti Bianglala yang memberikan pengalaman yang tak terlupakan pada malam hari. Wisatawan dapat melihat keindahan Alun-alun Batu dan panorama kota Batu ketika malam hari dari kabin Bianglala. Di luar Bianglala, wisatawan juga dapat melihat lampu warna-warni yang mempercantik Alun-alun Batu.
Terdapat juga area taman bermain untuk anak-anak di Alun-alun Batu. Di sini, anak-anak dapat bermain dan menikmati waktu mereka di kawasan wisata ini. Selain itu, terdapat juga Masjid Agung An Nur yang berjarak sekitar 100 meter dari Alun-alun Batu. Wisatawan dapat mengunjungi masjid tersebut untuk beribadah atau sekadar menikmati keindahan arsitektur masjid tersebut. Balai Kota juga terletak dekat dengan Alun-alun Batu dan dapat diakses dengan mudah.
Di sekitar Alun-alun Batu, terdapat banyak patung seni yang memiliki bentuk dan desain yang unik. Patung-patung ini menjadi daya tarik bagi masyarakat setempat dan wisatawan yang berkunjung ke kota Malang. Keberadaan Alun-alun Batu yang berada di tengah kota membuat aksesnya lebih mudah dan memudahkan wisatawan untuk mengunjungi tempat-tempat wisata lainnya di sekitar Alun-alun Batu, seperti Museum Angkut, Eco Green Park, dan Jatim Park 1 dan 2.
Alun-alun Batu memang menjadi salah satu destinasi wisata yang menarik di kota Batu. Dengan berbagai fasilitas dan daya tariknya, Alun-alun Batu siap memanjakan para wisatawan yang berkunjung ke kota tersebut. Baik saat siang maupun malam hari, Alun-alun Batu menawarkan pesona yang tak terlupakan. Oleh karena itu, jangan lewatkan kesempatan untuk mengunjungi Alun-alun Batu ketika berlibur di kota Malang.