PERGIMULU.COM

Mau Pergi Liburan Kemana? Cari info di pergimulu.com saja!

Wisata Watu Congol dan Kisah Menginspirasi Dibaliknya

Blog

Objek Wisata Watu Congol di Jawa Tengah

Provinsi Jawa Tengah merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki banyak destinasi wisata menarik. Salah satunya adalah objek wisata Watu Congol yang sedang menjadi trend saat ini. Objek wisata ini terletak di puncak Pegunungan Desa Selopuro, Kecamatan Lasem, Rembang, Jawa Tengah. Kabupaten Rembang sendiri terletak di timur laut Provinsi Jawa Tengah.

Gagasan awal untuk mengembangkan daerah objek wisata Watu Congol bermula dari Paguyuban Karang Taruna Desa Selopuro. Pada awalnya, kawasan ini direncanakan akan dibangun berbagai infrastruktur pendukung seperti lahan parkir yang lebih luas, kantin, dan fasilitas keamanan. Namun, seiring dengan berjalannya perencanaan, kawasan ini kini sudah memiliki fasilitas yang terbilang cukup lengkap seperti mushola, kamar mandi, dan penginapan.

Perjalanan Menuju Kawasan Watu Congol

Jika Anda ingin menuju ke objek wisata Watu Congol, perjalanan darat dapat ditempuh menggunakan transportasi pribadi maupun umum. Jika Anda hendak menggunakan kendaraan umum, Anda dapat memilih bis sebagai alternatif. Anda dapat langsung berhenti di terminal bus kota atau desa tujuan dan dilanjutkan dengan menggunakan ojek hingga ke Wisata Watu Congol. Namun, jika Anda hendak mencapai puncak gunung, jalanan hanya dapat diakses oleh sepeda motor saja. Namun, Anda tidak disarankan menggunakan kendaraan bermotor setelah hujan melanda kawasan ini, dikarenakan sangat berbahaya dan licin ditambah dengan kondisi jalan sempit yang tingkat kemiringannya mencapai 45 derajat. Sehingga banyak pengunjung yang lebih memilih untuk berjalan kaki, selain karena memang jarak menuju puncak terbilang dekat, yaitu hanya satu kilometer saja.

BACA JUGA :  12 Rekomendasi Makanan Khas Jakarta Yang Super Duper Enak dan Bikin Nagih, Salah Satunya Kerak Telor

Sesampainya di kawasan Watu Congol, Anda akan disuguhkan dengan pemandangan yang menakjubkan. Dari atas perbukitan, Anda dapat melihat hamparan sawah yang hijau menyejukkan mata dan juga menikmati pesona dari pesisir pantai Utara Jawa dan Kota Rembang. Bagi Anda yang gemar mengabadikan momen bersama dengan kerabat atau keluarga, terdapat dua spot untuk berswafoto yang paling digemari oleh pengunjung. Yaitu, di area sisi barat yang lebih luas dan kawasan Watu Congol itu sendiri, meskipun lebih sempit.

Asal Usul dari Penamaan Watu Congol

Menurut legenda yang beredar luas, Watu Congol diartikan sebagai naga atau ular karena bentuknya yang menyembul dari balik bukit dan persis berada di bibir jurang. Konon katanya, batu ini merupakan jelmaan dari kepala naga atau ular yang terpisah dari badan dan juga ekornya. Batu besar yang berada di Watu Congol ini dianggap merupakan kepalanya, sedangkan tubuhnya berada di Desa Kajar Lasem, dan ekornya berada di Laut Bonang.

Jika Anda ingin berswafoto di Watu Congol, Anda harus berhati-hati karena posisi batu yang persis di sisi jurang. Selain dapat mengabadikan momen di Watu Congol, Anda juga dapat berfoto di empat buah rumah pohon yang telah disediakan. Namun, Anda harus bergantian jika ingin menaiki rumah pohon ini, karena satu rumah pohon hanya dapat menampung 2 sampai 3 orang saja. Biaya masuk untuk ke objek ini sangat murah, yaitu hanya sekitar Rp.3000/orang.

Sejarah Panjang Watu Congol

Watu Congol memiliki sejarah yang panjang dibalik pemberian namanya tersebut. Watu Congol sendiri dipercaya merupakan pesantren yang dipimpin oleh ayah dari KH Dalhar karena letaknya yang digeser ke sebelah Barat. Setelah sebelumnya letak pondok pesantren ini bergeser ke sebelah utara ditempat yang sekarang dikenal dengan dukuh Santren yang masih dalam desa Gunung Pring, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

BACA JUGA :  10 Toko Bunga Pilihan di Kabupaten Cilacap

Pondok pesantren ini didirikan oleh KH Abdurrauf pada tahun 1820 silam. Pondok pesantren ini dikenal karena berhasil mencetak santri handal berkat tangan dingin para ulamanya. Salah satu ulama yang tersohor adalah KH Dalhar.

Perjalanan Hidup KH Dalhar Watu Congol

KH Dalhar lahir pada hari Rabu, 10 Syawal 1286 H atau 10 Syawal 1798 – Je (12 Januari 1870 M). Beliau ini masih satu keturunan dari lascar pejuang Pangeran Dipenogoro. Ayahnya, yakni KH Abdurrohman adalah pemimpin kedua dari Pondok Pesantren Darussalam Watu Congol dan kini bila menilik silsilah, maka Mbah Dalhar (sapaan beliau) adalah pemimpin ketiga dari Pondok Pesantren Darussalam Watu Congol tersebut.

Kemampuan dan Ilmu yang didapatkan oleh Mbah Dalhar tidaklah diperoleh dalam waktu singkat. Selain belajar langsung kepada orang tuanya di Pondok Pesantren Darussalam, Mbah Dalhar juga pernah belajar di Pondok Pesantren Al-Kahfi Sumolangu Kebumen selama tiga tahun. Dilanjutkan berguru selama tujuh tahun kepada Syekh Mahfudz At-Termasi. Setelah itu beliau bertolak ke Mekkah selama 27 tahun dan kembali dari perantauan sekitar tahun 1916 untuk memulai menangani pondok pesantren tersebut.

Ilmu yang dikuasai oleh Mbah Dalhar tak perlu diragukan lagi, namun kemampuan atau ilmu yang paling beliau kuasai adalah tasawuf. Beliau pernah berguru di Tarekat Syadziliyah. Tarekat ini adalah tarekat yang dipelopori oleh Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili (1197 – 1258 M). Berkat kontribusinya, pondok pesantren yang dikelolanya hingga kini berhasil mencetak para hafizoh dan santriwati yang mumpuni.

Sebagai seorang auliya, Mbah Dalhar tentunya mempunyai banyak karamah. Ada dua diantaranya karamah yang dimiliki oleh beliau. Pertama, suaranya sangat lantang saat memberikan pengajian. Suaranya dapat didengar hingga jarak sekitar 300 meter walaupun beliau tidak menggunakan pengeras suara. Kedua, beliau mengetahui makam-makam auliyaillah yang sempat dilupakan oleh para ahli, santri, atau masyarakat sekitar dan juga dimana beliau-beliau tersebut pernah menetap.

BACA JUGA :  Ingin Menginap di Resort Mewah Saat Liburan Ke Bali? Anantara Seminyak Bisa Jadi Pilihan Terbaik

Mbah Dalhar tutup usia pada Rabu Pon, 29 Ramadhan 1890 – Jimakir (1378 H), atau bertepatan dengan 8 April 1959 M. Namun ada pula sumber yang meriwayatkan jika beliau wafat pada 23 Ramadhan 1959. Beliau wafat setelah akhirnya menyerah pada sakit yang dideritanya sejak kurang lebih tiga tahun kebelakang. Beliau wafat dengan meninggalkan karya. Karyanya yang telah dikenal dan beredar secara umum yakni Kitab Tanwirul Maani. Kitab tersebut merupakan sebuah karya tulis berbahasa Arab yang berisi mengenai manaqib Syeikh As-Sayid Abil Hasan Ali bin Abdillah bin Abdil Jabbar As-Syadzili Al-Hasani, seorang imam thariqah As-Syadziliyyah.


Raka Andhika

Raka adalah seorang penulis blog perjalanan yang bersemangat dan kreatif. Raka memiliki kecakapan dalam menulis narasi perjalanan yang menarik dan informatif. Sejak usia muda, Raka sudah memiliki kegemaran menjelajahi tempat-tempat baru dan berinteraksi dengan berbagai budaya, yang kemudian mendorongnya untuk membagikan pengalaman tersebut melalui tulisan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *