Museum Kebangkitan Nasional Jakarta
Sejarah Singkat
Museum Kebangkitan Nasional terletak di Jl. Abdul Rahman Saleh No.26, Senen, Kota Jakarta Pusat. Museum ini merupakan salah satu tempat wisata pendidikan yang memiliki pengunjung paling sedikit. Banyak faktor yang menjadi penyebab minimnya wisatawan yang datang setiap harinya. Salah satunya adalah kurangnya sosialisasi yang dilakukan pemerintah melalui lembaga-lembaga sekolah. Mungkin juga karena kurang seringnya pihak pengelola museum dalam menggelar event-event menarik bagi anak muda utamanya para pelajar. Selain itu, bisa jadi kepedulian generasi muda terhadap sejarah perjuangan para pahlawan dalam merebut kemerdekaan juga mulai luntur.
Harga tiket masuk ke Museum Kebangkitan Nasional sangat terjangkau. Hanya dengan Rp.2.000 untuk orang dewasa dan Rp.1.000 untuk anak-anak, pengunjung sudah bisa menjelajah seluruh bagian dan melihat semua koleksi yang ada di dalam museum ini. Harga tiket yang murah tersebut sebanding dengan pengetahuan yang bisa didapat di dalam museum. Terutama bagi para pelajar yang kurang begitu memahami peristiwa yang melatarbelakangi ditetapkannya tanggal 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Di museum ini, pengunjung akan dapat menemukan koleksi benda-benda bersejarah, diorama, patung, lukisan, dan benda-benda yang berhubungan dengan peristiwa bersejarah tersebut.
Selain itu, bagi mereka yang kuliah di fakultas kedokteran atau yang tertarik dengan sejarah dunia kedokteran, Museum Kebangkitan Nasional juga memberikan tambahan pengetahuan. Di sini, pengunjung akan mengetahui tentang perkembangan dunia kedokteran baik dalam bentuk data tertulis maupun peralatan pada zaman dahulu. Beberapa contoh peralatan kedokteran pada zaman dahulu di antaranya adalah alat pemecah kepala untuk melakukan pembedahan pada bagian kepala yang terbuat dari besi dan rantai gir. Ada juga alat bedah yang bentuknya seperti garpu berukuran besar, alat pelubang kulit untuk mengambil darah yang berbentuk besi panjang menyerupai bor, dan lain-lain. Bahkan, di sini juga dapat ditemui pusaka dan benda-benda tradisional yang berkaitan dengan dunia kesehatan, seperti Keris Ki Among untuk menjaga diri dari makhluk halus dan Keris Nyai Brojol untuk membantu ibu-ibu melahirkan.
Mengingat minimnya jumlah pengunjung ke Museum Kebangkitan Nasional, rasanya perlu dicari jalan keluar yang efektif untuk mengajak generasi muda untuk mencintai museum ini dan dengan senang hati mengunjunginya. Museum memiliki kaitan yang erat dengan sejarah bangsa Indonesia dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Salah satu museum yang memiliki peran penting dalam sejarah pergerakan nasional adalah Museum Kebangkitan Nasional.
Sejarah Singkat Museum Kebangkitan Nasional
Museum Kebangkitan Nasional memiliki sejarah yang panjang dan berhubungan erat dengan pergerakan nasional di Indonesia. Untuk memahami sejarah museum ini, tidak bisa lepas dari nama Organisasi Pergerakan Nasional yang bernama Boedi Oetomo. Organisasi ini didirikan oleh Dr. Soetomo dan menjadi cikal bakal berdirinya organisasi-organisasi pergerakan lainnya seperti Trikoro Darmo, Sarekat Islam, Sarekat Dagang Islam, Muhammdiyah, serta yang lainnya.
Dr. Soetomo adalah salah satu tokoh pergerakan nasional yang menimba ilmu di School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA), sebuah lembaga pendidikan tempat para calon dokter belajar. Tidak hanya Dr. Soetomo, beberapa tokoh pergerakan nasional lain seperti Tjipto Mangoenkoesoemo dan Ki Hajar Dewantara juga menempuh pendidikan di STOVIA.
STOVIA memiliki peran yang besar dalam sejarah pergerakan nasional. Gedung yang dulu digunakan untuk aktivitas belajar mengajar calon dokter pada era pemerintahan Soeharto, diresmikan sebagai Gedung Kebangkitan Nasional. Pembangunan gedung ini dimulai pada tahun 1899 oleh H.F. Rool dan selesai serta diresmikan pada tahun 1902. Gedung tersebut awalnya digunakan untuk Sekolah Kedokteran Bumi Putera yang kemudian berganti nama menjadi STOVIA serta asrama bagi para dokter Jawa.
Pendidikan di STOVIA berlangsung selama 9 tahun dengan kurikulum yang sama dengan yang digunakan di School Voor Officieren van Gezondeid di Utrecht, Belanda. Lulusan STOVIA memperoleh gelar dokter Bumiputra (dalam bahasa Belanda disebut Inlandsch Arts) dan diangkat menjadi pegawai untuk ditempatkan di wilayah terpencil. Mereka dibekali peralatan kedokteran serta uang saku untuk berangkat ke lokasi yang menjadi tempat bertugas.
STOVIA menjadi lembaga pendidikan yang menarik bagi para pelajar dari berbagai daerah. Mereka yang diterima di STOVIA memiliki tingkat kecerdasan di atas rata-rata karena harus melewati proses seleksi yang ketat. Para pelajar yang berhasil diterima di STOVIA tinggal di asrama yang diawasi oleh pengawas, yang biasanya orang Indo-Belanda. Karena para pelajar berasal dari berbagai daerah, mereka dapat saling memahami dan hidup seperti saudara tanpa membedakan suku, budaya, dan agama.
Dalam perkembangannya, STOVIA tidak mampu lagi menampung semua pelajar dengan berbagai kegiatan yang ada. Pada tahun 1920, lembaga pendidikan ini dipindah ke Jl. Salemba, yang saat ini menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Sementara itu, gedung lama STOVIA digunakan sebagai asrama dan lembaga pendidikan lain seperti SMP, SMA, dan Sekolah Apoteker.
Pada masa Jepang menduduki Indonesia, gedung STOVIA tidak lagi digunakan untuk aktivitas belajar mengajar. Gedung ini dialihfungsikan menjadi tempat penampungan tahanan militer, yaitu tentara-tentara Belanda. Pada masa pemerintahan Soeharto, gedung STOVIA direnovasi dan diresmikan sebagai Gedung Kebangkitan Nasional pada tahun 1973-1974.
Dalam upaya memfungsikan keberadaan museum, ketiga museum yang ada di gedung tersebut, yaitu Museum Boedi Oetomo, Museum Pers, dan Museum Kesehatan, dilebur menjadi satu dan diberi nama Museum Kebangkitan Nasional. Museum ini menjadi tempat yang penting untuk mempelajari sejarah pergerakan nasional dan perkembangan dunia kedokteran di Indonesia.
Menjelajah Museum Kebangkitan Nasional
Museum Kebangkitan Nasional memiliki bangunan yang megah dengan arsitektur Belanda yang anggun. Begitu memasuki museum, pengunjung akan dibawa kembali ke masa lalu, di mana para pelajar STOVIA tidak hanya sibuk mempelajari ilmu kedokteran, tetapi juga memikirkan nasib bangsanya yang berada di bawah penindasan bangsa Belanda.
Di halaman museum, terdapat sebuah monumen untuk memperingati 125 tahun pendidikan kedokteran di Indonesia (1851-1976). Monumen tersebut merupakan simbol penting dalam sejarah pergerakan nasional di Indonesia.
Setelah melewati halaman, pengunjung dapat mengunjungi tujuh ruangan utama yang ada di dalam museum ini. Ruangan-ruangan tersebut terbagi menjadi beberapa tema yang berbeda, seperti Ruang Pengenalan, Ruang Awal Pergerakan Nasional, Ruang Kesadaran Nasional, Ruang Pergerakan Nasional, Ruang Propaganda Studie Fonds, Ruang Memorial Budi Utomo, dan Ruang Pers.
Ruang Pengenalan merupakan ruangan pertama yang dijumpai oleh pengunjung. Di ruangan ini, terdapat sebuah miniatur kapal Portugis yang menggambarkan awal masuknya bangsa Eropa ke Indonesia melalui Selat Malaka. Bangsa Portugis datang ke Indonesia pada tahun 1511 dengan tujuan menguasai dan mengendalikan pasar rempah-rempah di wilayah Kepulauan Nusantara. Hal yang sama juga dilakukan oleh Inggris dan Belanda lewat perusahaan dagang yang bernama VOC.
Pada masa pemerintahan VOC atau Belanda, para pelajar STOVIA mulai menyadari penderitaan rakyat Indonesia yang terjajah. Mereka berjuang melalui jalur organisasi dengan mendirikan Boedi Oetomo, organisasi modern pertama di Indonesia. Ruangan Pengenalan dilengkapi dengan auditorium yang digunakan untuk memutar video yang mengisahkan sejarah berdirinya STOVIA dan organisasi Boedi Oetomo.
Ruang selanjutnya adalah Ruang Awal Pergerakan Nasional. Di ruangan ini, pengunjung dapat melihat diorama yang menggambarkan proses belajar mengajar dan peragaan kelas STOVIA, pembelaan HF Roll, serta perjuangan para tokoh nasional dalam memperjuangkan kemerdekaan. Diorama tersebut dibuat dengan detail berdasarkan penelitian sejarah yang akurat.
Ruang Kesadaran Nasional adalah ruangan yang menampilkan peralatan kedokteran, meja kursi makan para pelajar STOVIA, dan benda-benda lain yang menggambarkan tumbuhnya kesadaran berbangsa dan bernegara pada diri sebagian masyarakat Indonesia. Di ruangan ini, terdapat diorama RA Kartini yang sedang mengajar murid-muridnya, menggambarkan pentingnya pendidikan dalam mengembangkan kesadaran nasional.
Ruang Pergerakan Nasional merupakan ruangan yang menggambarkan awal pergerakan nasional dengan berdirinya organisasi-organisasi modern seperti Indische Partij, Budi Utomo, Muhammadiyah, dan yang lainnya. Di ruangan ini, terdapat diorama pertemuan Wahidin, Suraji, dan Sutomo, serta diorama berdirinya Budi Utomo. Melalui diorama ini, pengunjung akan dapat memahami perubahan perjuangan bangsa Indonesia dari perjuangan lokal menjadi perjuangan nasional.
Ruang Propaganda Studie Fonds adalah ruangan yang menggambarkan peran tokoh nasional seperti Wahidin Sudirohusodo dalam menumbuhkan semangat kebangsaan dan membentuk organisasi modern untuk melawan pemerintah kolonial. Di ruangan ini, terdapat patung Dr. Wahidin Sudirohusodo, lukisan perjalanan Dr. Wahidin, dan diorama patung pelajar STOVIA.
Ruang Memorial Budi Utomo adalah ruangan yang didedikasikan untuk organisasi modern pertama di Indonesia, yaitu Budi Utomo. Ruangan ini memiliki nilai sejarah yang tinggi karena di sinilah pada 20 Mei 1908 organisasi Budi Utomo didirikan. Di ruangan ini, pengunjung dapat melihat lukisan situasi perkumpulan, struktur keorganisasian Budi Utomo, profil pendiri dan pengurus organisasi, serta koleksi lainnya seperti kursi kuliah STOVIA, kerangka manusia yang digunakan untuk praktek anatomi, dan foto-foto kegiatan pelajar STOVIA.
Ruang Pers adalah ruangan yang menampilkan peran penting pers dalam sejarah pergerakan nasional di Indonesia. Pers menjadi sarana bagi tokoh-tokoh nasional untuk menyampaikan pesan-pesan nasionalisme dan kebangsaan serta melawan penjajah. Di ruangan ini, terdapat foto-foto tokoh pers nasional, mesin ketik, kamera kuno, vandel, dan alat cetak lainnya.
Selain tujuh ruangan utama, Museum Kebangkitan Nasional juga memiliki empat ruang yang menggambarkan perkembangan ilmu kedokteran di Indonesia, yaitu Ruang STOVIA I-IV. Di ruang ini, pengunjung dapat melihat koleksi peralatan kedokteran, tempat jarum suntik, tabung wintrobe, objek glass, dan lain-lain.
Rute Menuju Lokasi
Untuk menuju ke Museum Kebangkitan Nasional, terdapat beberapa rute yang dapat dilalui baik dengan menggunakan kendaraan pribadi maupun angkutan umum. Jika menggunakan kendaraan pribadi, pengunjung dapat mengandalkan peta atau menggunakan aplikasi peta seperti Google Maps untuk memandu perjalanan. Lokasi museum yang berada di Jl. Abdul Rahman Saleh No.26, Senen, Jakarta Pusat, cukup mudah dijangkau.
Bagi yang menggunakan angkutan umum, terdapat beberapa sarana transportasi yang melewati daerah di dekat museum ini. Namun, akses yang paling mudah adalah dengan menggunakan Transjakarta koridor 1 jurusan Blok M – Kota dan turun di halte busway Monumen Nasional. Setelah itu, pengunjung dapat melakukan transit ke koridor 2 yang menuju Atrium Senen. Setelah sampai di halte busway Kwitang, pengunjung dapat melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju pertigaan lampu merah. Museum Kebangkitan Nasional berada tidak jauh dari situ.
Dengan akses yang mudah baik dengan kendaraan pribadi maupun angkutan umum, pengunjung dapat dengan nyaman dan mudah menuju ke Museum Kebangkitan Nasional untuk menikmati pengalaman menjelajah sejarah pergerakan nasional dan dunia kedokteran di Indonesia.